Knock! Knock!
Aku membuka pintu kamar hotel begitu terdengar ketukan didepan pintu kamarku.
“I’m coming! Wait!” seruku sembari memasang sepatu heel di kakiku.
Ardo nampak begitu charming dan sangat menawan dibalik balutan tuksedo mewah yang dikenakannya. Penampilannya wah seperti pangeran yang asli. Aku terpana menatapnya, hingga lupa memasang satu sepatu lagi di kakiku.
“Apakah sepatu itu hanya untuk ditenteng begitu?” tegur Ardo pura-pura serius, padahal aku tahu dia mati-matian berusaha menahan senyumnya.
“Tentu saja tidak!” dengusku sebal. Aku memasangnya dengan gaya anggun di kakiku, “ayo kita pergi, Pangeran!”
Aku berjalan cepat melewatinya, beberapa langkah kemudian baru kusadari dia tak mengikutiku. Aku berbalik dan menemukannya masih berdiri di tempat.
“Hei, Ardo. Mengapa kau mematung disana? Ayo buruan supaya kita tak terlambat menghadiri pesta gala dinner!”
Ardo berdeham dingin. “Mia, aku adalah Pangeran Leonardo,” katanya penuh wibawa.
“So?”
“Aku pangeran dan kamu ... sekretarisku. Apa itu tak menjelaskan semua?”
Aku menggelengkan kepala, dia mendelik gusar. Lah, memang aku tak paham apa maunya, ngomong yang jelas dong!
Dia mendekatiku, lantas menyentil dahiku pelan.
“Seorang sekretaris harus berjalan di belakang bosnya. Apa kau tahu itu?”
Aku menggeleng, aku tak pernah menjadi sekretaris ... mana kutahu aturan menyebalkan seperti ini? Aku membiarkan dia berlalu didepanku, lantas berjalan di belakangnya. Ah, sudahlah. Paling tidak aku bisa berjalan sambil mengagumi punggungnya yang kokoh dan sandarable. Hehehe ...
Duk!
Mendadak Ardo berhenti mendadak, membuatku otomatis membentur punggung lebarnya. Aduh. Lumayan sakit dahiku.
“Mia, kalau jalan tuh pakai mata!” ucapnya penuh penekanan. Haissshhhh, dia yang berhenti mendadak, aku yang disalahkan!
“Salah Bos, jalan itu pakai kaki. Bukan mata,” sahutku menahan geram. Ingin ku berteriak tapi aku sadar diri. Sekarang aku adalah Mia, sang sekretaris.
Aku melongok melalu bahunya, baru kutahu apa yang menyebabkan dia berhenti. Ada iring-iringan pria berjas hitam dengan wajah serius. Apa mereka mafia?
“Siapa mereka?” ceplosku.
Tak menjawabku, Ardo justru berbalik cepat menghadapku lalu menyeretku menjauh ... berlindung di balik pilar besar. Dia memelukku erat, hingga posisi wajah kami saling menempel. Aku bisa merasakan napasnya yang berbau mint, dan memandang wajah tampannya sangat dekat. Aduh, jantungku berdebar liar dibuatnya. Mengapa aku ingin menciumnya di saat begini?
Tak sadar bibirku mendekat, hampir menyentuhnya ketika mendadak dia menoleh padaku setelah sebelumnya asik mengamati gerombolan pria berjas hitam. Pandangan kami bertemu, dia terkesima menatap bibirku yang mengerucut ... siap mencium.
“Apa yang kau lakukan, Mia?” tanyanya dengan suara parau, lalu menegurku, “seorang sekretaris tak boleh mencium bosnya.”
Sial! Lihatlah, betapa arogannya dirinya! Menyebalkan, aku seperti kehilangan kendali atas dirinya. Disini dia berkuasa dan dengan kurang ajarnya dia memanfaatkan kekuasaannya untuk mempermalukanku! Aku curiga Ardo melakukannya untuk membalas kelakuanku padanya sebelum ini.
“Ish, siapa yang ingin menci ...”
Cup!
Mendadak dia melayangkan kecupan singkat di bibirku. Membuatku ternganga lebar. Bukannya tadi dia bilang ...?
“Tapi atasan yang kurang ajar terkadang bisa memanfaatkan sekretarisnya,” seringainya konyol.
Kini aku melihat Ardo sebenarnya yang berbicara padaku, membuatku tergugah ingin menggodanya.
“Apa kau sering memperlakukan Mia seperti ini?” tanyaku merajuk.
Dia nampak jijik mendengar pertanyaanku. “Hanya Mia yang ini, bukan yang lain!” tegasnya yang entah mengapa membuatku lega.
Senyumku spontan terkuak, namun kembali cemberut begitu mendengar ucapan Ardo selanjutnya, “Tapi tak usah mengharap ciuman berikutnya. Yang ini tadi hanya kekhilafan atasan, dan tak akan berulang lagi!”
Sial, mengapa sekalinya jadi bos ... dia berubah menyebalkan seperti ini?
==== >(*~*)
Kami masuk ke ruangan gala dinner dan segera menjadi pusat perhatian. Ini karena Jibril telah menyewakan beberapa bodyguard yang mengawal kami seakan kami ini pejabat atau petinggi kerajaan. Darimana Jibril menyewa bodyguard sekeren ini? Pasti tarif menyewa mereka sangatlah tinggi!
Kasak-kusuk segera terdengar di segala penjuru.
“Siapa mereka?”
“Apa mereka ...?”
“Kau mendengarnya juga?”
“Berita tentang Pangeran Leonardo de Lafoya berada di Bali? Aku pikir itu hoax!”
“Sepertinya tidak ...”
“Pria itu sangat tampan dan berkharisma, apa dia Pangeran Leonardo dari kerajaan Indonesana?”
Berita hoax yang sengaja kami sebar telah membuahkan hasil, membuat mereka percaya Ardo adalah sang pangeran. Aku bergumam lirih dibelakang Ardo, supaya hanya dia yang bisa mendengarnya, “Pangeran, mereka tahu siapa Anda.”
Ardo berdeham dingin, lalu berkata padaku, “Mia, catat segala instruksiku. Kita akan mengamati apakah ada lahan yang cocok untuk berinvestasi disini.”
Dia sengaja mengatakannya cukup keras supaya orang lain bisa mendengarnya kan? Pintar Ardo! Aktingmu jempol.
“Ya, Pangeran. Saya siap!” sahutku berusaha seprofesional mungkin. Kukeluarkan buku agenda dan bolpoin berbulu dari tas tanganku. Apa gayaku sesuai dengan gambaran sekretaris cekatan?
Aku melangkah disisi Ardo, berusaha mengimbangi langkah panjang kakinya. Baru berjalan beberapa tapak, ada yang datang menghampiri kami. Seorang pria bertubuh tambun, dengan kacamata besar berbentuk aneh di hidung bulatnya. Di belakangnya muncul Jibril.
“Welcome Pangeran Leonardo, sahabatku Jibril mengatakan ini Anda. Senang bertemu dengan pangeran kerajaan Indonesana yang sangat mempesona,” dia menyapa dengan mengembangkan dua lengan gempalnya, seperti hendak memeluk seseorang. Tapi melihat sikap arogan dan penuh wibawa Ardo, tangannya hanya menggantung di udara.
“Apa yang bisa saya bantu? Kami akan menunjukkan investasi terbaik yang bisa Anda dapatkan disini ...” pria bertubuh tambun itu terus berceloteh selama mengiringi Ardo berkeliling di tempat jamuan gala dinner. Sesekali ia mengenalkan Ardo pada beberapa orang penting yang berpapasan dengan kami, atau sengaja dipanggilnya untuk diperkenalkan pada Ardo yang dianggapnya sebagai Pangeran Leonardo.
Aku takjub melihat sikap tenang Ardo. Bahkan ia berhasil membawakan perannya begitu sempurna hingga orang-orang tak menyadari bahwa Ardo tak pernah mengiyakan bahwa dirinya adalah Pangeran Leonardo, meski ia tak membantahnya. Good job, Ardo! Jibril berhasil melatihmu dengan amat sangat baik.
“Baiklah, saya cukup melihat apa yang perlu dilihat dan saya temui malam ini. Sampai bertemu besok di tempat pameran, Mr ...?”
“Saya Mr Yudas Santoso,” pria itu menyebut namanya menanggapi ucapan perpisahan Ardo.
Sudah selesai? Tapi kami bahkan belum menyentuh semua makanan mewah disini? Masa Ardo tak tergoda menyantapnya? Aku yakin dia belum pernah makan masakan semahal ini sebelumnya.
“Pssstttttt!” aku mengodenya lirih. Namun Ardo mengabaikannya, dia terus berjalan pasti menuju pintu keluar. Aku terpaksa mengikutinya. Setelah kami berada diluar ruangan aku berbisik lirih padanya, “Mengapa kita harus keluar sebelum makan? Apa kau tak tertarik mencicipi makanan mahal disini? Mumpung ada kesempatan, Do!”
Dia melirikku tajam. “Mia, apa kau kelaparan?”
Sebenarnya iya, tapi aku gengsi mengakuinya. “Belum!”
“Baik, kita makan diluar saja. Makanan disini kurang sesuai dengan lidah mahalku,” katanya pongah.
Lidah mahal seorang supir? Gayamu, Do! Apa lidahmu mau kubikin semur lidah? Batinku geram.
“Terserahmu, Pangeran,” sahutku sinis sembari tersenyum masam.
Ardo belagu!!
==== >(*~*)
Bersambung