21. Kencan Orang Biasa

1176 Kata
AUTHOR POV             Ardo membawanya menelusuri jalanan di Bali, tepatnya di Kutai.  Mereka telah berganti pakaian seperti yang biasa dikenakan para turis.  Kaus bertuliskan ‘I love Bali’ yang banyak dijual di toko souvenir murahan, juga celana pendek khas produk Bali.  Merk branded abal-abal, entah kw keberapa.              “Aku merasa kita seperti pasangan sungguhan dengan memakai baju couple ini,” celetuk Bella riang.             “Bukannya memang demikian?” sahut Ardo menanggapi.  Dia berjalan disisi Bella sembari memeluk mesra gadisnya.              Apakah kekasih gelap itu termasuk pasangan sesungguhnya?  Batin Bella bertanya-tanya.  Tapi sudahlah, dia tak ingin membahasnya hingga merusak suasana bahagia ini.  Hatinya tengah berbunga-bunga, ia memandang kagum pada kekasih gelapnya yang mengenakan kacamata hitam murahan tapi nampak sangat keren.  Ardo memang selalu tampil charming dan tampan mempesona dengan apapun yang dikenakannya.        “Kamu tampan!” teriak Bella, karena saat itu mendadak terdengar musik rancak yang menghentak dari pertunjukan musik jalanan. “Terima kasih, Cantik,” balas Ardo dengan bibir mendekat ke telinga Bella.  Eh, ternyata dia bisa mendengarnya jelas. Bella tersipu malu.  Aduh, mengapa dia jadi kolokan seperti gadis ABG yang baru pertama kali berkencan? “Mau menikmati musik jalanan itu seperti orang kebanyakan?” tawar Ardo sembari menunjuk dengan kerlingan matanya kearah kerumumun orang-orang yang mengelilingi beberapa orang yang menyajikan pertunjukan musik di tengah keramaian.   Bella mengangguk riang.  “Mau!” Seperti anak kecil ia menyeret Ardo mendekati para pemusik itu, tak peduli tindakan sembrononya menerobos kerumunan itu bisa membuat tubuhnya terpental andai Ardo tak melindunginya dengan pelukan protektifnya.  Bella berdiri didepan kerumunan, menyaksikan sekelompok pemusik jalanan membawakan lagu rancak diiringi musik tradisional bercampur modern.  Dia menyukainya, sensasi menjadi orang biasa.  Menikmati musik pinggiran jalan tanpa kekhawatiran ada sekelompok mafia yang mengancam nyawanya.  Bella menggoyangkan tubuhnya mengikuti alunan nada yang membangkitkan semangatnya.  Dari belakang Ardo memeluknya mesra, lalu menumpangkan dagunya di bahu kekasihnya. “Apa kau menyukai kencan ala orang biasa kita?” bisik Ardo cukup keras untuk menyaingi kebisingan musik. “Ya!” sahut Bella ceria.  Dia menoleh dan bertatapan muka dengan Ardo dengan jarak yang amat tipis.  Mereka terdiam, saling memandang intens.  Kebetulan musik rancak yang tadinya dimainkan pemusik jalanan berubah menjadi musik romantis yang mengalun syahdu.  Bella semakin terlena, dia memejamkan mata ketika bibir Ardo mendekat ... siap menciumnya.  Namun baru saja bibir mereka bersentuhan,  ada yang menyapanya. “Nona berbaju merah ... bisa kemari?” Bella spontan membuka matanya, dia segera menyadari bahwa dirinya yang dimaksud si penyanyi jalanan ketika semua mata menatapnya.  Dia menunjuk dirinya sendiri. “Iya, Nona.  Anda yang berkaus merah, yang berpelukan mesra dengan kekasih anda.  Bisa maju kedepan?” cetus si penyanyi sambil menyeringai konyol. Bella ragu, dia tak ingin menarik perhatian orang hingga membahayakan nyawanya.  Tapi Ardo mendorongnya lembut kedepan. “Tak apa, majulah.” Bella melangkah ke depan, merasa sedikit jengah karena tatapan semua orang tertuju padanya.  Tapi begitu merasakan tak ada pandangan aneh atau menghujat karena ia putri mafia, Bella menjadi lega dan mulai bisa menikmati nuansa baru yang dialaminya. “Siapa namamu, Nona cantik?” tanya si pemusik. “Bell ... Mia,” jawab Bella grogi. “Mia, apakah pria tampan itu kekasihmu?” tunjuk si penyanyi pada Ardo. Bella mengangguk malu, pipinya merona merah. “Untuk membuktikannya, maukah kalian mengikuti suatu permainan untuk mengetes cinta kalian?” “Apa?!” cetus Bella kaget. “Tenang saja, permainan ini tak membahayakan nyawa kalian.  Enjoy saja,” goda penyanyi berambut kribo itu. Bella memandang Ardo ragu, tapi melihat anggukan samar pria itu ... dia jadi yakin.  “Baiklah,” kata Bella menyanggupi. “Ok, great!  Sekarang saya akan meminta seseorang menutup mata Anda, lalu hampiri kekasih Anda dalam jarak tertentu.  Anda sanggup kan?” Tidak, Bella menelan ludah kelu.  Dia masih trauma karena tragedi penculikan dirinya di masa kecil yang mengakibatnya maminya meninggal.  Bella tak sanggup jika matanya ditutup dengan kain.  Dia nyaris menolak ketika Ardo berinisiatif melakukannya. “Bagaimana kalau dibalik?  Mata saya yang ditutup, dan saya akan mencari kekasih saya.  Anda boleh menyembunyikannya dimana saja!” tantang Ardo. “Wow, boleh juga!  Baik, ayo kita lakukan seperti itu.  Nona Mia, kami akan menyembunyikanmu setelah mata kekasih Anda ditutup.  Setuju?” Bella mengangguk lega.  Dia disembunyikan diantara kerumunan penonton. Sementara penonton disekitarnya berisik, Bella diminta menutup mulutnya.   Sepertinya tak mudah bagi Ardo untuk menemukannya, Bella jadi pesimis.  Ardo berkeliling seakan tak tahu arah, namun beberapa saat kemudian dengan langkah mantap dia berjalan menuju suatu tempat.  Bella ternganga lebar, bagaimana Ardo bisa menemukannya secepat ini?  Apa kain ini transparan hingga ia bisa melihat dengan jelas?  Bella mengoyangkan tangannya didepan mata Ardo yang tertutup kain hitam, namun Ardo tak bereaksi.   Berarti Ardo tak bisa melihatnya. “Akhirnya aku menemukanmu ...” gumam Ardo lirih. Napas Bella tercekat.  Mengapa kalimat ini membuatnya tersentuh?  Hatinya menghangat ketika Ardo memeluknya rapat, membuat para penonton bersiul dan ramai berkomentar . “So sweet ...”             “Andai gue yang dibegituin.”             “Mana ganteng lagi cowoknya.  Sial, gue jadi iri!”             “Beruntung sekali cewek itu ...”             Bella tersenyum sumringah.  Sepertinya dia jatuh cinta untuk kesekian kalinya pada pria yang menawan ini.  Cinderella Man-nya!   ==== >(*~*)               Mereka makan di cafe terbuka, di pinggiran pantai Kutai.  Menu ikan bakar yang menggugah selera telah mereka pesan, tak lupa dengan minuman kelapa muda nan eksotis.              “Aku tak sabar menanti pesanan kita datang!” cetus Bella bersemangat.             “Tentu, kau boleh memakan jatahku juga kalau kau mau,” sahut Ardo geli, cowok itu merapikan poni Bella yang diacak angin nakal.             Bella menatap kekasihnya sumringah, dia merasa sangat terlindungi dan amat disayang.  Bahagianya, andai mereka bisa seperti ini selamanya ...             “Ardo, bagaimana bisa kau menemukanku?” gumam Bella takjub.             “Karena takdir?” sahut Ardo kalem.             “Ish, maksudku saat permainan tadi.  Diantara begitu banyak orang, bagaimana bisa kau menemukanku tanpa melihat?” tanya Bella heran.             Ardo tersenyum lembut, lalu ia menjawil hidung mungil Bella.  “Manusia tak hanya memiliki mata sebagai inderanya.  Aku menggunakan hidungku.”             “Hidung?  Wow ... itu menakjubkan!  Mengingat aku diantara berbagai macam orang yang mengeluarkan bau berbeda, tapi kau ....”  Bella menatap kagum kekasihnya.             “Aku mengenali feromonmu, Bella.  Bau tubuhmu yang khas, aroma yang menguar keluar dari dirimu .... aku bisa merasakannya diantara berbagai macam bau yang lain jika aku berkosentrasi,” ucap Ardo menjelaskan.             “Bagaimana bisa?  Aku sendiri akan sulit melakukannya,” aku Bella jujur.             Ardo mendekat, hingga bibirnya didepan bibir Bella.  Nyaris tak berjarak.             Deg.             Deg.             Deg.             Jantung Bella berdebar kencang merasakan tatapan mesra Ardo yang tertuju padanya.  Dia terpana.             “Karena ... setiap kali kita berciuman, aku bisa mencecap dirimu.  Merasakan aromamu masuk ke relung hatiku melalui penciumanku yang tajam,” desis Ardo parau.             Ambyar, hati Bella kacau balau mendengarnya.  Dia jadi mabuk kepayang walau tak minum anggur atau minuman beralkohol lainnya.              “Kalau begitu,”  Bella menelan ludah kelu sebelum melanjutkan ucapannya, “mengapa kau tak mencecapnya sekarang?”             “I will,” sahut Ardo sebelum menyatukan bibirnya dengan bibir Bella.             Mereka berciuman mesra tanpa peduli sekelilingnya.  Untung saat itu ada beberapa pasangan turis asing yang juga melakukannya.             Cinta memang indah, dan memabukkan!   ==== >(*~*) BERSAMBUNG
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN