20. Tujuan Rahasia

1194 Kata
ARDO POV             Dia gondok.  Tak masalah.  Aku memang memancing kekesalannya, supaya nona mafia itu tak terus mengikutiku.  Aku punya tujuan rahasia disini, jadi aku butuh bergerak dengan leluasa tanpa diikuti oleh kekasih bayanganku itu.              Begitu Bella pergi menemui Jibril, aku segera mengontak seseorang.             “Dante, segera jemput saya di lobi B.”             “Siap, Pangeran.”             Dante menjemputku di lobi hotel sayap B.  Kami segera melaju meninggalkan hotel, menuju ke ruang pertemuan rahasia bersama team spesialku.  Kami berembug menciptakan kejutan khusus untuk Paman tercintaku.  Dia akan menyesal telah mengusik diriku.  Akan kupastikan itu.             Sejam kemudian, Dante mengantarku bertemu Mr Jack.  Dia salah seorang pemegang saham perusahaan yang masih pro pada keluarga kerajaan.  Kami berjanji bertemu di cafe Olala, di seberang hotel Kingdom, tempat pameran Jibril diadakan.  Dan Bella tadi kesana menemui sobatnya itu.  Aku harus memastikan keberadaan gadis itu, khawatirnya ia akan memergokin disini, bersama orang-orang asing dan kami melakukan aktivitas mencurigakan.  Jangan sampai itu terjadi, aku tak ingin identitasku terbongkar secepat ini.             “Bella, dimana kamu?” aku meneleponnya.             Dia mendengus kasar di ujung telepon sana, “Ada perlu apa Bos mengecek keberadaanku?”             “Hanya untuk memastikan kau cukup beristirahat sebelum menghadiri malam gala dinner kita,” kataku beralasan.              “Jangan khawatir, Bossssss ... aku sedang bersantai di kamar.  Menikmati fasilitas hotel, apa kau ingin merubah panggilan ini menjadi video call?  Bos akan melihatku sedang dipijat oleh terapis hotel.  Dalam keadaan setengah telanjang!”             “Hah, sungguh menggoda!  Terima kasih tawarannya, mungkin lain kali.  Aku sibuk.”             “Baik Bos, tutup dulu.”             “Ya, dan Bella ... tolong rekomendasinya jika terapi pijatmu sangat menyenangkan.”             “Tentu Bos, bye!”  Dia buru-buru menutup teleponnya, mungkin dia tak ingin terganggu menikmati pijatan terapisnya.             Aman, Bella ada di kamar hotelnya.  Aku melangkah masuk kedalam Cafe Olala bersama Dante.  Sang waiter membawa kami masuk ke ruang VVIP dimana Mr Jack telah menunggu.  Dia berdiri memberi salam begitu melihatku datang.             “Pangeran, salam hormat saya.”  Dia kesulitan merunduk dengan tulangnya yang telah renta, jadi aku mencegahnya.             “Tak usah repot, Mr Jack.  Aku menerima salammu.”             “Terima kasih,” gumamnya lirih.  Dia menegakkan tubuhnya yang memang telah membungkuk.               “Duduklah,” perintahku padanya.  Kami duduk mengelilingi meja yang menyajikan berbagai macam hidangan lezat plus teh chamomille hangat.             “Maaf kalau saya tak menyambut Pangeran dengan baik.  Saya tak menyangka Pangeran akan hadir di kota Bali.”             “Tak usah sungkan, Mr Jack.  Anda tahu pasti, saya disini bukan untuk bersenang-senang,” sindirku.               Mr Jack mungkin telah sadar, aku tahu segalanya.  Tak ada guna menutupinya lagi, Mr Jack memilih mengakuinya.             “Pangeran pasti tahu pertemuan rahasia para pemegang saham besok, di kota ini.”             Aku tersenyum sinis.  “Pikir kamu untuk apa saya berada disini?  Rekreasi?”             Tanpa merasa tersindir, Mr Jack menjawab, “Tentu tidak, Anda tak mungkin menghilang hanya sekedar untuk berekreasi atau bekerja part time.”             Yang pertama memang tidak, tapi yang kedua benar adanya.  Pekerjaan part timeku sekarang adalah menjadi supir nona mafia yang sangat manja dan keras kepala!  Awalnya sangat membosankan, tapi entah mengapa akhir-akhir ini aku mulai menikmatinya.  Nona mafia yang unik itu berhasil membuatku terhibur, satu hal yang telah lama tak kualami di kehidupan kerajaanku yang dingin.             “Saya punya misi penting, Mr Jack.  Terpaksa saya menyempatkan diri kemari untuk menyapa warga Indonesana yang ingin menyingkirkan saya dengan penuh kasih sayang!” sindirku santai.  “Saya sedang memikirkan hadiah apa yang akan saya berikan pada mereka yang begitu menyayangi saya itu.”             Wajah Mr Jack berubah pias, pasti dia tak ingin masuk dalam daftar hitam sang pangeran alias aku.  “Pangeran, Anda tahu saya akan selalu setia pada Anda dan kerajaan!”             Lagi-lagi aku tersenyum sinis.  “Kalau demikian, buktikan kesetiaanmu pada kerajaan.  Beritahu semua informasi yang kau ketahui berkaitan dengan rencana kudeta pamanku.  Terutama untuk  acara besok ...”             Dan meluncurlah semua informasi yang diketahui Mr Jack pada sang Pangeran dan mata-mata spesialnya, Dante.  Langkah pertama ... done!  Langkah kedua adalah ...             “Mr Jack, saya ingin Anda melakukan satu hal lagi.  Kapan Anda berencana bertemu dengan paman saya tercinta?”             “Ehm, nanti malam Pangeran.  Jika Pangeran berkeberatan saya akan segera membatalkan hadir dalam pertemuan terbatas itu,” sahut Mr Jack tak enak hati.             “Tak perlu, Mr Jack.  Justru saya ingin memberi Anda tugas khusus yang harus Anda laksanakan nanti malam.  Jadi begini ...”  Aku menjelaskan langkah-langkah yang harus dijalankan Mr Jack untuk mendukung posisiku sebagai sang putra mahkota.   ==== >(*~*)   Author pov             Pangeran Leonardo tengah melangkah bersisian dengan Dante sembari membicarakan langkah yang akan mereka ambil besok ketika ekor matanya menangkap kehadiran sesosok gadis yang dikenalnya.  Sial, berarti gadis itu telah membohonginya!  Dia bilang sedang beristirahat di kamarnya, lalu apa yang dilakukannya didepan toko kue itu?             Tak ada jalan memutar atau jalan lain, terpaksa Pangeran Leonardo harus melewati tempat yang disinggahi Bella.  Dia menarik Dante ke sebelah kirinya, agar menutupi dirinya dari pandangan gadis itu.  Sayang, saat dia merasa sedikit lega karena merasa aman telah melewati Bella ... si nona mafia mengalihkan tatapannya dari etalase toko kue dan menangkap keberadaannya.             “Ardo!!” panggilnya keras.             Ardo pura-pura tak mendengar, sebaliknya ia mempercepat langkah kakinya sesegera mungkin menjauh dari gadis itu.  Saking penasaran, Bella bergegas mengejarnya.              “Ardo!!  Aku tahu itu kamu, berbaliklah!” teriak Bella kencang.             Tak ingin menarik perhatian lebih banyak orang, Ardo menoleh.  Dia berpura-pura terkejut melihat Bella.             “Oh Nona ada disini!” ucapnya sembari mengode Dante supaya segera menyingkir.  “Bukannya Nona sedang beristirahat di hotel?”             Bella tersenyum masam.  “Tadinya iya, tapi karena lapar aku kemari mencari makanan.”  Tentu saja dia berbohong, dia langsung kemari setelah selesai menemui Jibril.  Saat Ardo menelepon, Bella masih di tempat pameran bersama Jibril.             “Lalu, untuk apa kau disini Ardo?  Apa yang kau lakukan?”  Bella balik bertanya.             “Sebenarnya rahasia, saya sedang mencari hadiah kecil buat Nona.”  Ardo berargumen dengan cepat.  Jawaban jitu.  Mata Bella berkilau mendengarnya, dia senang mengetahui Ardo berniat memberinya surprise manis.             “Lalu apa kau telah menemukannya?  Aku suka ...”             “Saya rasa sudah bukan surprise lagi.  Percuma.  Lagipula semua benda disini terlalu mahal, uang saya tak cukup membelinya,” keluh Ardo memelas.             Bella jelas kecewa, tapi dia tak tega memaksa Ardo yang kere untuk membelikannya benda mahal baginya.  Padahal meskipun bukan benda mahal Bella akan menerimanya dengan senang hati, yang penting niatnya kan?              “Tak apa, Ardo.  Aku mengerti, yang penting aku tahu niat baikmu.”             “Sebagai gantinya, maukah Nona berkencan dengan saya?  Sebagai orang biasa,” tawar Ardo yang merasa bersalah telah mengelabui gadis jutek tapi sangat polos ini.             “Apa kita punya waktu melakukannya?” tanya Bella penuh harap.  Ia melirik jam mahal yang melingkar di pergelangan tangannya.              “Tentu, masih ada waktu dua sampai tiga jam lagi.  Tapi kalau Nona Bella merasa capek lebih baik kita kembali ke ho ...”             “Tidak!   Aku sudah cukup beristirahat.  Ayo kita pergi berkencan, sebagai orang biasa!” potong Bella antusias.             Dia menggamit lengan Ardo dan menariknya penuh semangat.             “Kemana kita akan pergi?”             “Nona ingin kemana?”  Ardo balas bertanya.             Bella mengerutkan keningnya, memikirkan tempat-tempat yang romantis di Bali.  Cocoknya mereka kemana?   ==== >(*~*)   Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN