Bali, aku datang!!
Ingin aku berteriak seperti itu jika tak ingat peranku disini. Aku berperan sebagai nona sekretaris. Tak sembarang nona sekretaris, karena bosku adalah Pangeran Leonardo de Lafoya!
Kutatap sosok Ardo yang telah bertransformasi menjadi seorang pangeran, aduhai betapa tampannya supirku sekaligus kekasih gelapku ini. Dia begitu berwibawa, mewah, dan aristokrat. Siapa yang menyangka sebenarnya dia hanyalah supir? Aneh sekali kalau kupikir lagi, aku yang bos disini menjadi sekretaris yang harus melayani keperluan Ardo yang berperan sebagai majikanku. Jadi posisi kami terbalik 1800!
“Mia, bisa kemari?”
Aku celingukan memandang sekitarku sebelum menyadari bahwa Mia adalah nama samaran yang dipilihkan Ardo untukku. Sial, aku harus membiasakan diri dengan peran ini.
“Siap, Tuan!” Aku berlari cepat mendekatinya, nyaris terjatuh jika ‘bos’ku tak menahan pinggangku.
“Hati-hati,” katanya memperingatkan dengan mata menyipit.
Sial, mengapa aku jadi segan padanya seakan dia betulan atasanku? Ingin kutoyor kepalanya jika tak ingat kami berada di bandara, dimana pergerakan kami harus tertata sempurna bila ingin misi kami berhasil. Kutahan diriku. Ingat, sungguh suatu keajaiban Dad mengijinkan aku datang kemari. Aku mati-matian membujuknya, dia masih tak setuju. Entah bagaimana Ardo meyakinkannya hingga akhirnya dengan berat hati Dad melepasku.
“Iya, Bos. Maaf,” kataku berbisik.
Ardo nampak tak puas, dahinya berkerut dalam. “Mia tak pernah mengenal istilah bos, ia seharusnya memanggil atasannya ... Pangeran.”
Ck, bawel! Ini hanya peran saja, mengapa harus seribet itu? Seakan ada sosok Mia betulan! Jangan-jangan memang ada ...
“Mia, ingat mulai sekarang kamu harus mencatat setiap perintahku. Aku tak akan mengulangnya dua kali, kau harus mengingatnya setiap saat.”
“Mencatat?” ulangku. Berarti aku harus membawa bolpoin dan agenda seperti yang dilakukan Bu Ningsih, sekretaris Dad? Kuno sekali!
“Mia biasa mencatat di tab-nya. Kalau tak ada tab, terpaksa kau mencatatnya secara manual.”
Mia. Mia. Mia. Mengapa nama itu lama-lama seperti memiliki jiwa? Apa aku memerankan orang lain? Jangan-jangan Mia itu mantan kekasih Ardo, NGEHEK!!
Dengan wajah merengut, aku menjawil bahu lebar Ardo dari belakang. Dia menoleh dengan alis menukik.
“Mia tak berani melakukan ini padaku, jangan ulangi,” tegurnya dingin.
OMG! Aku betul-betul muak dengan nama Mia ini!
“Apa aku boleh berganti nama? Aku tak suka nama Mia!!” desisku gusar. Mungkin nama Felicita atau nama Jocelyn, sepertinya lebih elit dan girly. Membuatku merasa aku adalah sekretaris keren masa kini.
Ardo menyeringai geli, sedetik kemudian wajahnya kembali serius. “Tidak, Pangeran Leonardo hanya punya satu sekretaris ... Nona Mia!”
ARGHHHHH!! Mengapa dia harus seserius ini pada peran abal-abalnya? Atau ... ?
“Apakah Mia itu nama mantan kekasihmu?” tanyaku curiga.
“Saya tak punya mantan.” Alisnya menukik ketika mengatakan itu.
“Jadi masih kekasih?” aku makin nyolot.
“Bukan!” Wajahnya semakin suram, apa dia tersinggung?
“Itu jawaban Ardo atau Pangeran Leonardo?” sindirku lirih.
“Kedua-duanya,” sahut Ardo tegas. Lalu ia mempercepat langkahnya, meninggalkanku yang masih gondok.
“Mr Jibril!” panggilnya pada Jibril yang berjalan beberapa meter didepan kami.
Sial, mengapa aku merasa terabaikan disini? Apakah ini yang dirasakan seorang bawahan? Heloooowwwww ... siapa yang menjadi bawahan disini? Aku adalah putri mafia dan Ardo adalah supirku yang kere. Apa dia melupakan itu? Beraninya dia memperlakukanku seperti ini!
==== >(*~*)
Aku mulai menyesali ide gilaku yang menyebabkan Ardo punya kuasa atas diriku. Lihat saja, dengan semena-mena ia memintaku membelikannya kopi hitam tanpa gula. Mana tempatnya jauh pula! Aku berjalan kaki hampir sejauh sekilo untuk membelikan kopi hitam sialan ini! Ohya jangan lupakan, dia menyuruhku membelikan donat dengan gula-gula centil diatasnya.
Aku tak bisa menolak perintahnya menyebalkan ini karena ia menitahkannya didepan klien penting Jibril. Tapi lain kali ... tak akan! Aku akan menegaskan pada Ardo saat kami berduaan supaya dia tak bersikap melunjak padaku. Apa dia lupa aku ini nona majikannya? Huh!
Satu jam aku meninggalkannya, saat bertemu dengannya kebetulan Ardo tengah duduk sendirian di lobi hotel tempat kami menginap. Aku menghempaskan pantatku di sebelahnya dengan wajah merengut.
“Ini kopinya, Pangeran! Habisin, jangan sampai tersisa setetespun!” cetusku geram. Kubanting gelas kopi itu didepannya, untung gelasnya terbuat dari paper glass. Kalau dari cangkir porselen, hancur sudah semuanya .. alangkah baiknya kopi panas itu menciprati wajah tampannya yang menyebalkan!
Dengan gaya bangsawannya yang memuakkan ia menoleh padaku. “Terima kasih,” katanya berwibawa.
Kejengkelanku sudah di ubun-ubun. Aku mendekatkan wajahku, lalu mendesis tepat didepan wajahnya, “Apa kamu harus segitunya padaku, Do! Aku muak!”
Ardo mengulurkan tangannya, kupikir ia akan mengelus pipiku. Perkiraanku meleset, ia menepuk bahuku pelan.
“Saya seorang pangeran, Mia. Kita di tempat umum, banyak mata memandang. Jangan lupakan itu!” sindirnya. Dengan kata lain ia mengingatkan akan komitmen kami, bahwa kami sepakat menjaga peran masing-masing dengan sebaik-baiknya.
“Tapi tak perlu mendetail hingga menyebabkan kakiku gempor telah berjalan hampir sejam demi membeli kopi sialanmu ini! Dan donat ini ...”
“Itu untukmu, Mia. Untuk menebus kegondokanmu,” potong Ardo sembari tersenyum kecil.
Astaga, ia sudah memperkirakan aku bakal kesal pangkat dua dan menyiapkan sogokan berupa donat centil ini! Dia tahu aku suka makan yang manis-manis jika sedang kesal. Ingin aku melempar donat bergula itu ke wajahnya, siapa tahu setelahnya kelakuan Ardo kembali manis padaku. Tapi donat itu terlalu menggoda lidahku untuk menyantapnya. Mubazir jika dimanfaatkan untuk ajang balas dendam ...
“Baik, aku terima niat baikmu,” sinisku.
Kubuka bungkus donat yang kubawa, kupilih donat yang paling manis. Kugigit dengan gaya lebay seakan tengah memamah daging alot. Ardo menatapku datar. Apa ia tak terusik dengan sikap merajukku? Sialan!
“Mia, setelah ini kau boleh beristirahat. Kita akan bertemu sebelum makan malam nanti. Kamarmu disebelah kamarku, ini kuncinya.”
Dia menyerahkan card kamarku, bertulis nomor kamarku. 3002. Kamar Ardo 3001. Kamar kami di lantai 30, lantai untuk kamar elit di hotel ini. Aku mengerutkan dahi heran.
“Sepertinya Mr Eldrich tak memesankan kamar semahal ini untuk kita,” bisikku pelan. Aku tahu, karena aku yang memberinya perintah. Biaya sewa kamar ini akan masuk kedalam tagihanku.
“Mereka mengupgrade kamar kita setelah tahu identitas saya sebagai Pangeran Leonardo, tentu saja saya meminta mereka merahasiakannya.”
Terserahlah. Yang penting, aku bisa nyaman tanpa menguras kocekku karena biaya akomodasi ke Bali dan yang lain aku yang menanggungnya. Aku tak mau Dad membayarnya, khawatir dia akan memeriksa dan menemukan kejanggalan disana-sini.
“Dimana Jibril?” tanyaku pada Ardo. Disaat Ardo bersikap menjengkelkan seperti ini, bersama Jibril adalah hiburan bagiku.
“Sepertinya dia sibuk mempersiapkan pamerannya yang akan dimulai besok, Mia. Tak ada yang menemanimu main, istirahatlah. Nanti malam ada pesta gala dinner di hotel ini, dimana para peserta pameran dan investor-investor berkumpul. Kita harus mempersiapkan penampilan kita sebaik mungkin kan?” kata Ardo penuh arti.
Memang seharusnya seperti itu, tapi aku sedang suntuk. Aku ingin menemui Jibril. Siapa tahu dengan menggodanya bisa menurunkan kemarahan terpendamku.
“Jangan khawatir, Pangeran. Tenagaku seperti baterai energizer. Aku akan hadir tepat waktu sebagai Mia si sekretaris yang terampil dan berdaya guna!” sahutku ketus.
Kutinggalkan pangeran abal-abalku dengan bertingkah lebay seperti sekretaris perawan tua yang sangat jutek! Bodo, Ardo sialan!!
==== >(*~*)
Bersambung