“Sudah saatnya dia show off!” cetus Jibril memutuskan.
“Apa dia siap?” tanyaku memastikan.
“Siap lahir batin, Beb! Dari aku sudah tak ada yang perlu dibenahi. Dia telah menjelma menjadi pangeran, Cinderella Man kamu.”
Aku mengamati Ardo yang tengah berbincang-bincang dengan asisten penata busana Jibril. Wajahnya nampak aristokrat saat mengangguk-angguk tiap kali menjawab pertanyaan Zubaidah. Mengagumkan, dia seakan terlahir membawa darah biru dalam nadinya! Padahal Ardo hanya supir.
“Lalu bagaimana dia bisa show off? Terlalu riskan Jibb! Disini banyak yang mengenal kami, kecuali .... “ aku menatap Jibril penuh harap, “bukannya kau akan ke terbang ke Bali? Untuk pameran baju internasionalmu?”
Jibril menggoyangkan telunjuknya didepan hidungku. “O-o, aku mengenal arti pandangan ini. NO, Beb. Jangan mengacaukan bisnis aku. Tiap kali kau meratap seperti itu, aku selalu kena taiknya. Sekarang apalagi, kau memintaku membiarkan Ardo menggantikan diriku di Bali?” semprot Jibril gusar.
“Cih, tentu saja tidak! Ardo terlalu tampan untuk menggantikan kamu,” ledekku. Melihat bibir Jibril merengut, aku buru-buru menambahkan, “Tapi kamu good looking say, kalau tak ada Ardo aku bisa saja jatuh hati padamu.” Tentu saja aku menggombalinya, tak mungkin aku jatuh hati pada lelaki segemulai Jibril! Yang penting dia senang dulu, buktinya hidung Jibril kini jadi kembang kempis. Bangga.
“Wait,” tiba-tiba Jibril melirikku curiga, “lu berkata seperti itu seakan-akan lu sedang jatuh hati pada ...”
“Tak mungkin, Say!” potongku cepat mengelaknya.
“Aku hanya belajar menghayati peranku, do you understand?” imbuhku.
“I hope so ...” lamat Jibril sambil menatapku bergantian dengan Ardo.
“Kembali ke masalah tadi,” aku mencoba mengalihkan perhatian Jibril dengan membahas rencana show off My Cinderella Man, “bukan aku berniat menukar Ardo denganmu, Jibb. Tapi kami akan ikut denganmu! Bayangkan petualangan asik yang akan kita alami, kami tak akan menjadi nona majikan dan supir disana, di tempat yang tak mengenal kami berdua!”
Mata Jibril membola mendengar usulku. “Lalu sebagai apa?!”
Aku mendecih, melecehkannya. “Tentu saja Ardo berperan sebagai Pangeran Leonardo de Lafoya! Dia datang ke Bali, melihat pameran lu untuk mencari peluang untuk membuang duitnya ... eh, berinvestasi disana. Sedang aku yang cantik akan menjadi asisten sang pangeran,” kataku mengakhiri dengan membusungkan d**a.
Kuharap Jibril bertepuk tangan kagum akan rencanaku, tapi yang kudapat adalah pekikan histeris keluar dari mulutnya.
“WHATS?! ARE YOU CRAZY?! Rencana lu bullshit, Bel! Terlalu riskan!”
Perhatian Ardo terbelah mendengar pekikan Jibril. Tak lama kemudian dia bergerak mendekati kami. Jibril segera memberitahunya tentang rencana gilaku. Ardo menatapku bingung.
“Nona, Anda serius?”
Aku mengangguk dengan bibir mencebik, kesal karena semua orang nampaknya tak mendukung rencanaku!
“Ish, kemana jiwa petualang kalian? Jangan terlalu khawatir! Tak ada orang mengenal kami disana! Jangankan Ardo, aku saja yang putri mafia ternama tak akan dikenal disana! Orang Bali hanya tahu Dad, sedang kiprahku tak terdengar oleh mereka. Pasti amanlah.”
Jibril menatapku kalut. Dia sangat was-was, mungkin takut rencanaku bakal merusak reputasinya. Yang mengherankan reaksi Ardo yang santai.
“Saya rasa rencana Nona boleh juga.”
Sontak Jibril menoleh padanya dengan mata membelalak. “Eitz, mengapa lu malah mendukung rencana gila nonamu?! Haishhhhh!!”
Jibril menghembuskan napas kesal.
“Oke, katakanlah kita jalankan rencana gila ini ... mana mungkin mereka percaya begitu saja bahwa Ardo adalah Pangeran Leonardo? Mikiiiirrrrrr!”
“Sudah, Jib. Dan hasil pemikiranku adalah ...” aku menatapnya berbinar, “kamu yang akan mereferensikan Ardo sebagai Pangeran Leonardo!”
Jibril tepuk jidat, seakan menyesali diri. “Aku lagi kan yang kena taiknya,” gumamnya sangat lirih, tapi aku masih bisa mendengarnya.
“Jangan pengecut, Sob! Kayak banci aja lu!”
Kutepuk bahunya keras, ia nyaris terjungkal jatuh kalau tak dipegang oleh Ardo.
“Terima kasih, Ganteng,” ucapnya lembut pada Ardo. Padaku ia mendelik kesal.
“Mending aku kayak banci daripada harus mengikuti rencana gilamu, Bel!”
Sepertinya aku salah strategi untuk membujuk sohib sensiku ini. Kurubah wajahku sesedih mungkin.
“Ayolah, Jibb. Teganya kau padaku. Kau kan tahu, dalam kehidupanku yang keras dan sunyi ini kau adalah sahabatku satu-satunya. Aku hanya percaya padamu. Tolonglah aku, Jib. Belakangan ini aku sangat suntuk, nyaris gila karena rencana pertunangan yang amat memuakkan itu. Aku butuh bernafas Jib, “ kataku sesendu mungkin. Kutatap dia memelas. Sepertinya hati Jibril mulai lumer.
“Ya bernafaslah,” dengusnya pelan.
“Tentu, Jib. Jika kau bersedia menolongku, beri kesempatan bagiku untuk rileks sejenak. Kalau aku pergi bersamamu, Dad akan percaya. Akan kubilang aku jalan denganmu sekalian ingin melihat peluang bisnis di Bali. Ardo ikut denganku, mengawal sekaligus melindungiku. Dad tak akan curiga, karena Martin belakangan ini sibuk membantunya jadi tugasnya digantikan oleh Ardo.”
“Iya, beres dari sudut lu. Buatku bagaimana?” keluh Jibril lesu.
“Tenang, Bro. Kita akan persiapkan mulai sekarang. Identitas Pangeran Leonardo abal-abal segera disiapkan, juga berita bohongan di kolom surat kabar kecil, berita hoax Pangeran Leonardo de Lafoya ada di Indonesia, kemungkinan besar sedang ke Bali!”
Kuharap dengan sentilan berita semacam itu, mereka akan percaya bahwa Ardo adalah Pangeran Leonardo asli! Orang Indonesia cenderung lebih percaya pada gosip yang tak jelas, ketimbang fakta yang terus dipertanyakan kebenarannya. Hehehe ...
Demikianlah, rencana gilaku akan segera kami wujudkan. Entah apa yang menanti kami di Bali.
Yeee ... adventure!
==== >(*~*)
Ardo pov
Aku menghubungi Mr P untuk mengetahui detail pertemuan rahasia para pemegang saham yang diprakarsai oleh pamanku, Pangeran Eager. Mereka mengadakannya di Bali!
“Mereka akan tiba dua hari lagi, Pangeran. Mereka berencana menentukan orang yang akan menggantikan kedudukan Anda dengan alasan ketidakhadiran Anda selama beberapa waktu ini. Anda dianggap tak layak memimpin perusahaan karena telah mengabaikannya,” lapor Mr P.
Aku tersenyum sinis. Meski aku tak berada di sana, tapi aku menyelesaikan tugasku dengan baik. Dunia sekarang sudah berbeda, asal ada jaringan internet semua bisa dilakukan. Jarak bukan masalah lagi. Apalagi dengan menjadi supir pribadi Bella, waktu luangku sangatlah banyak. Jadi alasan pamanku yang serakah itu sangat mengada-ada. Demi mencapai ambisinya, merebut tahta kerajaan!
“Mr P, besok saya akan ke Bali. Rencananya saya disana sekitar empat sampai lima hari. Tolong persiapkan yang saya minta, jangan ada yang terlewatkan! Kita akan memberikan kejutan yang indah buat Paman Eager tercinta,” kekehku.
“Baik, Pangeran. Saya mengerti. Sebelum Anda tiba, semuanya akan siap. Sesuai jadwal!” tegas Mr Pang.
Aku menutup telepon begitu mendengar kesanggupannya. Kini, kami hanya bicara seperlunya saat bertelepon. Berhati-hati lebih baik kan?
Jadi sebenarnya inilah alasan utama aku menyetujui rencana gila Bella pergi ke Bali. Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampui. Tidak hanya untuk menyenangkan Bella dengan mengikuti rencana kekanak-kanakannya, tapi aku harus hadir disana untuk menyelamatkan perusahaanku dan menghentikan ketamakan pamanku. Kebetulan waktunya bersamaan.
Sepertinya takdir berpihak padaku,
==== >(*~*)
Bersambung..