17. Si Rubah Sheila

1073 Kata
Sheila pov             Selalu perempuan b*****h itu!             Aku tersenyum padanya meski dalam hati aku memakinya.  s**t!             “Jadi, kamu tak usah sok kerajinan memeriksa kerjaan Ardo lagi.  Dia urusanku, kamu tak lupa kan kalau Ardo itu supir pribadiku?” sindirnya.             “Iya, Kak Bella.  Sheila selalu mengingat apa yang menjadi milik Kakak.”             Sombong!  Tentu aku mengingat apa yang menjadi milikmu, Kakak tercinta.  Karena suatu saat aku akan merebut semuanya darimu!!  Untuk saat ini aku harus sabar menerima sikapmu yang meremehkanku.   Kesabaranku akan berbuah manis.             “Bagus!   Jangan coba-coba mengusik milikku, dan semua t***k bengek urusanku.  Aku tak suka ada yang obok-obok di daerahku.  Ngerti Sheila?”             Aku mengangguk, meski terasa gatal tanganku ingin menggampar mulut arogan yang sedari tadi telah mengataiku!  Suatu saat aku akan membantainya.  Akan kubuat dia menangis darah, hingga tak sanggup menampilkan wajah sombongnya untuk selamanya!  Aku seakan melihat gambaran itu, dia menangis dengan keadaan lusuh seperti pengemis gembel.  Aku akan menendangnya, kuludahi dia.  Dia akan meraih kakiku, dan memohon ampun padaku.  Meratap belas kasihan dariku.  Harus kuapakan dia?  Enak saja bila aku mengampuninya.  Tak semudah itu, aku akan membuat hidupnya sulit hingga dia tak berniat hidup.  Apakah aku kejam?  Dia juga kejam padaku, selama ini dia selalu menghina dan meremehkan diriku dan Mom.  Juga Dad, aku harus membuatnya menyesal telah menganak tirikan kami berdua.  Akan kubuat dia memohon pengampunan untuk putri kesayangannya.  Tapi setelah itu tetap kutolak!  Hahahaha ...             “Oke, jangan sampai aku melihatmu ada di sekitar Ardo.  Jauhi dia!” ultimatum Kak Bella yang membuatku tersadar dari lamunanku yang menyenangkan.             Heran, dia selalu melarangku mendekati Ardo.  Ada apa dengan mereka?  Apa mereka diam-diam menjalin hubungan?  Apa aku perlu meyelidiki hal ini?  Ah, tapi tak mungkin manusia seangkuh Kak Bella berminat pada Ardo.  Walau, ya kuakui supir kere itu amatlah tampan.  Belum pernah aku menemukan pria setampannya.  Tak juga Kak Dion, pria yang dijodohkan Dad.  Huh, lagi-lagi aku mengutuk keberuntungan perempuan tak tahu diri itu!!  Aku harus merebut semua keberuntungannya.             Meski Kak Bella keberatan, Dad memaksanya menerima pertunangannya dengan Kak Dion.  Bahkan Kak Dion sendiri juga tak keberatan bertunangan dengan perempuan angkuh itu.  Apa kekuranganku dibandingkan dengannya?  Mengapa ia tak memilihku?  Padahal aku mengenal Kak Dion dulu sebelum Kak Bella mengenalnya.  Kami bertemu saat aku dan Mami ikut Dad menemui temannya sebelum kami dinner di restoran.  Ternyata yang ditemui Dad adalah ayah Kak Dion,  dan ada Kak Dion disana.  Aku suka melihat penampilan tenangnya, dia nampak tampan dan elegan.  Suami idaman masa depan!              Aku sangat berharap Dad menjodohkan Kak Dion denganku.  Tapi aku jadi gigit jari ketika Dad memutuskan Kak Sheila yang bertunangan dengan Kak Dion.  Padahal perempuan itu mati-matian menolak keinginan Dad, namun tetap Dad tak mengurungkan niatnya.  Aku benci Dad!  Mengapa ia tak melirikku sedikitpun?  Mentang-mentang aku hanya anak tirinya!  Hanya anak emasnya yang diperhatikan, benci sekali aku!             Lihat saja, Dad.  Aku akan merebut semua yang dimiliki purti kesayanganmu!   ==== >(*~*)               Kak Dion datang lagi.              Dia ingin menemui Kak Bella, tapi perempuan itu raib entah kemana.  Sial baginya, untung bagiku.  Ini kesempatan bagiku untuk mendekati calon kakak iparku.             “Maaf, Kak.  Kak Bella pergi, Sheila tak tahu dia pergi kemana,” ucapku dengan raut wajah menyesal.             Wajah lempeng Kak Dion tak bereaksi sedikitpun, aku ingin memancing kekesalannya.  Apa wajah itu akan beriak?  Kucoba menghasutnya.             “Tadi dia pergi dengan wajah berseri-seri, dengan supir pribadi Kak Bella yang amat tampan.  Kakak tahu supir itu kan?” pancingku.             Kak Dion mengangguk.  Tak ada reaksi, aku semakin tertantang untuk menimbulkan sedikit ekspresi di wajah dingin itu.  Masa dia tak terpengaruh?  Terbuat dari apa hatinya?             “Sedari pagi tadi Kak Bella nampak begitu ceria, sibuk mematut dirinya.  Tadinya Sheila pikir dia akan berkencan dengan Kak Dion.”             Kulirik pria didepanku, tak ada reaksi.  Apa betul tak ada perasaan apapun dalam hati Kak Dion untuk Kak Bella?  Jadi motivasi perjodohan ini murni untuk urusan bisnis mafia?   Andaikata aku berhasil membuat Kak Dion jatuh hati padaku, apa rencana perjodohan mereka akan dibatalkan?  Aku siap menjadi nyonya mafia next generation!  Hehehe ...             “Kami tak ada janji,” cetus Kak Dion datar.             “Jadi Kakak ingin bertemu Dad?  Sayang sekali, Kak.  Dad juga tak ada di rumah,” kataku dengan wajah empati.  Kusentuh lengan Kak Dion lembut, dia tak bereaksi.  Awal yang baik.  Aku semakin antusias mendekatinya.  Sepertinya ada harapan bersamanya.             Kak Dion mengangguk, lalu berkata dingin, “Saya pergi.”             “Eh, tunggu!”  Spontan aku menahan tangannya, Kak Dion melirik pada tautan tangan kami.  Dengan wajah kubuat merona malu, aku melepasnya.             “Maaf, apa Kak Dion ada waktu?” tanyaku pura-pura malu.             “Untuk apa?” dia balas bertanya singkat.             “Itu ... Sheila hanya sendiri di rumah.  Mereka semua pergi, sibuk dengan urusan masing-masing.  Jadi ....” aku berlagak meliriknya ragu, tanganku kupilin-pilin dengan gelisah.  Akting sempurna kan?  Semoga dia meresponku dengan baik, ayolah ...             “Jadi?” tanyanya dengan sebelah alis naik.             “Itu, Kak.   Sheila sedari tadi sibuk di dapur, menyiapkan banyak masakan untuk mereka.  Ingin kami makan bersama dengan akrab, menikmati hidangan yang telah dimasak Sheila dengan sepenuh hati ... tapi kenyataannya mereka semua pergi,” aku melirik meja makan yang penuh hidangan yang dibuat oleh ... koki kami!              “Sayang sekali semua makanan itu jika tersia-sia, sebab Sheila membuatnya dengan cinta,” lirihku sedih.             Sial, dia diam tak bereaksi.  Apakah hatinya tak tergerak sedikitpun untuk menghiburku?  Hei, disini ada seorang gadis yang membutuhkan belaian ... eh, sedikit empati.              Aku menelan ludah kelu, jangan putus asa!  “Kak, apa Kakak mau meluangkan sedikit waktu berharga Kakak untuk mencicipi masakan Sheila?” pintaku memelas.             Dia mendengus dingin.  “Seperti kau bilang, waktu saya berharga!”             Hah?  Jadi ceritanya aku ditolak nih?  Kecewa, tapi aku tak mau patah semangat.  Lain kali aku akan berusaha lagi.             “Tak apa, Kak.  Sheila akan mencoba menghabiskannya sendiri, atau memberikannya pada ...”             “Tinggal 14 menit 5 detik.  Itu waktu saya di rumah ini.”             “Hah?  Oh, iya.  Baik Kak!”  dengan tersenyum sumringah aku menarik Kak Dion mendekati meja makan.             Ini langkah baik, walau sikapnya nampak acuh tak acuh tapi Kak Dion membiarkan aku menggandengnya ke meja makan.   Good job, Sheila!              Langkah selanjutnya, aku akan terus mendekati Kak Dion.  Perlahan sekali, supaya tak kentara.  Akan kubuat pria itu jatuh cinta padaku hingga dia meninggalkan Kak Bella.   Kalau perlu akan kubuat Kak Dion membenci dan memusuhi Kak Bella, dengan demikian kebencianku pada Kak Bella bisa terlampiaskan.             Tunggu saja Kak Bella, kau akan kubuat menderita lahir dan batin!   ==== >(*~*)                              
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN