Aku pulang disambut oleh celotehan anakku. “Mom tahu, Bos Mommy itu bukan orang jahat. Dia baik. Dia bilang dia bukan orang asing, jadi Ardilla boleh ya menerima s**u dan coklatnya?” Aku melirik satu kantong besar berisi s**u dan permen coklat yang tergeletak di meja makan. Merk mahal punya, bukan seperti yang sesekali kubelikan untuk Ardilla. Pasti bocah itu amat kegirangan memakannya. Kutemukan banyak bungkus coklat dan kotak s**u kosong di tong sampah kami. “Apa tak terlambat Ardilla meminta ijin pada Mommy? Sudah banyak yang dihabisin juga,” aku pura-pura menggerutu. Ardilla dengan tampang bersalahnya nampak menggemaskan. Dia menggesek-gesek kedua ujung jari telunjuknya pertanda merasa kurang nyaman. “Mommy jangan

