"Tentang segala luka yang pernah bersarang di d**a, semoga akhirnya kita sendiri yang menjadi penawarnya." ---- Tania menjatuhkan tubuhnya ke atas tidurnya. Gadis itu mengembuskan napas lega karena akhirnya ia mengatakan semuanya kepada Mika. Ia tahu semua ini tidak akan mudah bagi lelaki itu. Tetapi, semakin mengulur waktu, perasaannya semakin tersakiti. Ia juga bersyukur karena lelaki itu masih mau berteman baik dengannya. Ya, mungkin awalnya Mika tidak bisa selegowo itu untuk menerima. Namun, Tania tahu kalau temannya itu selalu dewasa dan kritis dalam menghadapi setiap masalah. Tania begitu beruntung bisa memiliki seseorang seperti Mika di sekitarnya. "Huft... Gue nggak nyangka kalo Mika masih mau temenan sama gue." Tania bergumam pelan sambil mengecek ponselnya. Namun, lagi-lagi p

