“Lalu aku harus apa? Marah? Menangis? Atau melarangmu? Apakah aku punya hak untuk itu saat aku bukan siapa-siapa untukmu?” ---- Tania beranjak dari tempat duduknya dengan lesu, ia tak bersemangat lagi mengikuti kelas hari ini. “Mau ke mana?” tanya Vanya sembari ikut bangkit dari duduknya. “Kantin,” jawab Tania singkat. Vanya mengekori sahabatnya dari belakang. “Tunggu!” “Gue boleh ikut?” Itu bukan lagi suara Vanya, melainkan Rieke yang ikut menyusul mereka. Vanya yang tahu sahabatnya sedang tertimpa masalah, tidak langsung mengiyakan, ia meminta persetujuan Tania dengan meliriknya dan Tania yang mengerti hanya menganggukkan kepalanya ke arah Rieke. “Makasih,” ujar Rieke ceria. Ia memang gadis yang periang dan mudah bergaul. Tania kembali menelan peliknya kenyataan. Satu lagi, ia b

