Hari masih dini hari, jalanan di komplek perumahan Runan nampak sepi, orang-orang sudah terlelap dalam mimpinya masing masing, hanya sesekali terdengar suara orang berlalu lalang melewati jalan itu. Di antara jajaran rumah itu berdirilah sebuah toko alat tulis bernama ‘Shiyi Stationary’, jika siang hari toko itu nampak sangat ramai dikunjungi pelajar-pelajar maupun orang-orang yang ingin membeli keperluan alat tulis, dan saat malam menjelang lantai satu toko itu tutup semantara sang pemilik beralih ke lantai dua tempat sang pemilik dan keluarganya tinggal. Sepi seperti toko pada umumnya, hanya lampu teras dan lampu lantai dua yang tetap dibiarkan menyala meski semua anggota keluarga telah tidur. Tiba-tiba seluruh lampu yang ada di rumah itu mati total. “Argggggh.” Suara teriakan terdenga

