“Emang beneran titisan dakjal kayanya. Untung lo punya sifat kek jin, Div. Kalau nggak, mana mau gua anterin ini barang.” Mocin memakai jaket yang tersampir di dekat sofa. Berjalan keluar dari apartemen, mulut gadis itu tidak hentinya menggerutu sebal. Tapi kakinya tetap melangkah. Beberapa kali gadis itu juga berdecak kesal saat melihat buku di tangannya yang memiliki sampul absurd. “Udah orangnya aneh, berantakan, buku juga ikut-ikutan berantakan. Emang Radiva doang,” gumamnya dengan tangan yang membolak-balik bagian luar buku. Sampul hitam dengan gambar-gambar kepala zombie juga beberapa warna merah yang dibuat seperti darah itu memenuhi luar buku. Ada juga tulisan-tulisan kasar dan kotor yang Mocin lihat di sudut-sudut bukunya. Memang sepertinya hanya Radiva yang punya kebiasaan an

