Dandi: Gua udah di lobi. Lo ada kelas pagi, kan? Radiva tersenyum kecil. Gadis itu bangkit dari meja riasnya dan mengambil tas gendong yang memang sudah ia siapkan. Tak lupa, Radiva masukan laptop yang masih terbuka di atas kasur. Kembali bercermin sekali lagi, Radiva lalu menghela napas panjang. “Kalau aja tiap hari lo gitu, Div. Kagak bakal suram pagi gue,” celetuk gadis yang masih terbaring di atas kasur dengan mata yang tertutup. Namun Radiva tahu jika gadis itu sudah terbangun sejak tadi. Mengacuhkan Mocin yang berbalik, Radiva keluar dari kamar. Kakinya melangkah menuju pintu seraya menenteng satu pasang sepatu boots berwarna hitam. Memakai sepatu itu di depan pintu, Radiva rasakan jantungnya berdegup kencang. Seolah sedang balap dengan orang yang handal. Debarannya cukup kuat,

