Pernyataan - COB 11

2035 Kata
“Lo beneran suka sama dia, Diva!” Radiva menggulingkan tubuhnya ke tengah kasur. Menatap langit-langit kamar yang berwarna hitam itu memenuhi matanya. Menghela napas panjang, Radiva tarik napas dalam-dalam. Ucapan Mocin malam ini benar-benar membuat Radiva tidak bisa tidur. Apalagi kalimat yang digunakan gadis itu sangat ambigu. Suka? Suka apa? “Suka mukanya?” Tanya Radiva pada dirinya sendiri. “Ya Dandi kan emang ganteng. Siapa aja bisa suka.” Matanya yang kecil menatap langit-langit kembali. Dengan wajah putih, hidung mancung dan halis yang terbentuk sempurna itu, siapa sih yang tidak akan suka dengan sosok Dandi? Ditambah tubuh lelaki itu juga seperti terjaga. Tidak ada yang kurang dari lelaki itu. Radiva menggulingkan kembali tubuhnya ke samping. Kali ini yang memenuhi netra matanya adalah lemari geser berwarna putih yang sudah 20 tahun ada di tempat yang sama. Menghela napas gusar, Radiva lihat sekeliling. Apa yang sebenarnya sedang ia khawatirkan, sih? “Suka badannya? Ya jelas! Bagus kok,” monolognya lagi. “Kalau suka sama hal lain, mustahil. Gua aja gak tahu dia bisa apa,” gumamnya seraya kembali mengubah posisi tidurnya. Kali ini gadis itu terlentang di kasur dengan kedua tangan yang merentang. Radiva kembali menarik napas panjang. Mengeluarkannya secara perlahan seraya memejamkan mata, Radiva pikir cara itu akan berhasil membuatnya sedikit lebih tenang. Namun, bukannya menjadi lebih tenang, wajah Dandi justru muncul dalam bayangannya. “Allahuakbar!” Pekiknya seraya membuka matanya kembali. “Bisa-bisanya tuh muka muncul!” Radiva segera bangkit dan duduk di kasur. Gadis itu merasakan napasnya seperti sudah berlari kencang. Dadanya juga berdegup kencang. Seakan Radiva benar-benar baru saja lomba lari memutari lapangan kampus. memejamkan matanya kembali seraya menenangkan hatinya, Radiva angkat tangannya guna mempermudah ia mengatur napas. 3 kali pengambilan napas dengan benar, sudah selesai. Napasnya juga sudah kembali normal. Degup jantungnya pun begitu. Tapi saat membuka mata, Radiva lihat dengan sangat jelas wajah Dandi yang tengah tersenyum. Benar-benar wajah lelaki itu. “Ah sialan!” Umpatnya seraya melempar bantal ke udara. “Lo apa sih, anjir?! Setan apa manusia?! Kenapa bisa keliaran di otak gue!!” Teriaknya keras seraya menjatuhkan tubuhnya lagi ke atas kasur. Tidak bisa. Radiva tidak bisa diam di sini. Ia harus segera mencari udara segar agar pikirannya juga kembali segar. Mengambil kunci motornya dari dalam laci, Radiva lalu menarik jaket kulitnya di belakang pintu. Gadis dengan rambut panjangnya itu berjalan cepat keluar dari rumah. Ia harus bisa menjernihkan pikirannya. “Kakak mau kemana? Regan ikut dong!” Radiva acuhkan ucapan adiknya dan memilih keluar dari rumah setelah mengambil helm kesayangannya. Beberapa kali Radiva berdecak saat tubuhnya hampir saja oleng dan jatuh karena salah menginjak tangga rumah. Membuka garasi, Radiva menarik napas panjang dan memakai helmnya. Gadis itu kemudian menaiki motornya dan bergegas pergi meninggalkan rumah. Semoga saja dengan keluar dari rumah dan menikmati angin malam, sedikit membuat Radiva lebih baik. Dan semoga saja otaknya tidak memikirkan lelaki itu lagi. Memperlambat laju motornya kala melewati perumahan, Radiva lalu menatap salah satu rumah dari banyaknya rumah yang berjajar di kanan kirinya. Rumah berwarna abu cerah dengan pagar hitam yang menjulang tinggi itu sedikit membuat Radiva penasaran. Kalian jelas tahu pemilik rumah itu kan? Ya, benar sekali. Itu adalah rumah Dandi. “b**o banget! Ngomongnya mau refreshing sekalian lupain nih orang, tapi malah berenti di depan rumahnya. Keknya gak ada lagi yang sebego gua!” Rutuk Diva pada dirinya sendiri. Matanya menatap ke depan dan kembali melajukan motornya. Ia tidak akan terdistrak kembali. Usahanya kali ini adalah untuk menyelamatkan kesadarannya tentang lelaki itu. Berhenti di depan café, Radiva lalu memarkirkan motornya asal. Melihat café yang masih cukup ramai dengan suasana yang cukup nyaman, membuat Radiva akhirnya memilih untuk menenangkan diri di tempat itu. Membuka helmnya dan menaruhnya pada stang motor, Radiva kemudian berjalan memasuki café. Matanya beberapa kali melihat ke sekeliling yang ramai dengan anak muda. Ada juga band yang sedang asik manggung di café bagian luar. “Selamat datang, Mbak.” Radiva menoleh pada seorang perempuan yang baru saja menyapanya dengan ramah. Radiva mengangguk. Ia baru ingat jika di sekitar sini terdapat beberapa ruko yang Bundanya dirikan untuk disewaakan juga dijual. Dan café ini juga salah satunya. “Loh, Mbak Diva anaknya Mbak Zira ‘kan, ya?” Tanya seorang wanita paruh baya yang datang pada Radiva dan berbicara akrab. Radiva tersenyum tanpa minat. Gadis itu lalu melihat sekitar yang ramai. Beberapa kursi juga tampak penuh. “Gak ada meja yang kosong, Bu?” Tanya Radiva. “Mau buat sama temen-temannya, ya? Sebentar, biar saya—“ “Nggak. saya sendiri, Bu. Ada meja kosong buat saya sendiri?” Potong Radiva seraya menatap wanita di depannya dengan senyum kecil. “Oalah ternyata datang sendiri. Gimana kalau di meja bar aja. Kebetulan meja kosong.” “Oh di sini juga ada kelab?!” Tanya Radiva antuasias. “Dimana, Bu?” “Bukan, kelab, Mbak Diva. Cuman mejanya saja yang sama. Itu, di sebelah sana. Mau saya antar?” Tanya wanita itu ramah. Radiva menggeleng pelan. Wajahnya berubah kecewa setelah mendengar jawaban dari sang pemiliki café. “Saya sendiri aja ke sana, Bu.” Wanita itu lalu mengangguk. “Semoga Mbak Diva suka sama hidangannya ya, Mbak.” Radiva mengangguk cepat dan segera berjalan menuju meja bar ala-ala. Walau disebut ala-ala, tetap saja meja tersebut sama persis seperti meja bar yang ada di kelab malam yang dulu Radiva datangi. Dengan desain elegan yang aman mengambil warna hitam dan emas. Membuat meja bar itu sangat cantik. Radiva tarik satu kursi putar yang ada di depannya sebelum menduduki kursi itu dan menopang dagu di atas meja. Matanya melihat keluar. Ada satu band anak muda di sana. Diva sendiri tidak begitu suka pada café yang memiliki acara hiburan seperti band atau hiburan lainnya. Beruntungnya itu dilakukan di luar café. Membuat Radiva bisa lebih baik menikmati malamnya. “Mau pesan apa, Mbak?” Tanya pramusaji di depan Radiva dengan suara ramahnya. Samar-samar Radiva kenal suara ini. Mendongkak untuk memastikan, Radiva hampir saja membulatkan mata melihat siapa yang ada di depannya. Merasa tak percaya, Radiva mengucek matanya beberapa kali. Lamat-lamat gadis itu periksa dengan jelas sosok di depannya. “Mbak? Ada yang mau dipesan?” Tanya perempuan itu dengan nada ramah dan lembutnya. Lagi. Seketika jiwa Radiva tersentil mendengarnya. Suara lembut dan merdunya itu seolah menerjang pertahanan Radiva yang selalu mengaku kalau ia bisa menjadi lebih baik. “Oh, saya mau coklat dingin saja satu. Es batunya sedikit saja,” pinta Radiva dengan suaranya yang dibuat-buat lembut. Perempuan itu mengangguk lalu berjalan pergi. Membuat Radiva menggeram kecil. Ajeng Gayatri. Perempuan yang baru saja bertanya padanya itu adalah perempuan yang Dandi sukai dan sedang menjadi incaran lelaki itu. Dan perempuan yang juga membatalkan perjodohanya dengan Dandi. Sedikit bersyukur karena gadis itu ternyata bukan lawan yang berat dalam masalah keuangan, namun Radiva cukup merasa sedih melihat Ajeng yang menjadi lawan terberatnya dalam hal sikap. Jauh sudah perbedaan di antara keduanya, kan? “Ini pesanannya, Mbak.” Radiva menggeser lengannya sedikit sebelum mengangguk dan mengambil gelas yang perempuan itu berikan. “Namanya siapa, Mbak?” Tanya Radiva basa-basi. Gadis itu tersenyum kecil kala Ajeng berbalik dan melihat ke arahnya. “Saya, Mbak?” Tanya gadis itu memastikan. “Iya, Mbak. Namanya siapa?” “Ajeng Gayatri, Mbak.” Benar, kan? Sesuai dengan apa yang Radiva ucapkan. Bahwa gadis di depannya ini benar seorang Ajeng Gayatri. “Umur Mbak?” “20 tahun, Mbak. Ada apa ya?” Tanya Ajeng bingung. Beda satu tahun doang sama gue! Walau tuaan gue, tapi tetep cantikan gue, Dandi! Radiva menggelengkan kepala. “Ah, gak ada apa-apa, Mbak. Saya penasaran aja. Baru pertama kali ke café ini soalnya. Saya Radiva,” ujar Radiva memperkenalkan diri. Tangan gadis itu terangkat dan bersalaman dengan Ajeng. “Salam kenal, Mbak Radiva.” Radiva mengangguk. Gadis itu lalu membiarkan Ajeng kembali ke dapur. Sosok Ajeng saat memakai seragam kerja ternyata berbeda jauh saat gadis itu memakai pakaian santai seperti siang tadi. Apa ini semacam takdir? Sudah 2 kali Radiva bertemu dengan gadis ini. Dan di hari yang sama pula. “Kalau Dandi yang jadi takdir gue sih, gak papa,” gumaam Radiva seraya memutar sedotan di gelasnya. *** Selesai menikmati satu gelas coklat dingin dan satu potong roti bakar, Radiva memilih menenangkan dirinya kembali di danau yang ada di dekat sini. Salah satu danau yang juga menjadi tempat keluh kesahnya. Danau yang biasanya Radiva jadikan tempat untuk menangis dan tertawa. Danau yang juga Radiva jadikan tempat beristirahat dari dunia yang kejam. Melajukan motornya perlahan, Radiva rasakan angin malam yang terasa menyejukan. Suara motornya diantara suasana sepi adalah kebahagiaan yang hanya bisa Radiva rasakan sendiri. Dengan tangan yang beberapa kali terangkat, Radiva rasakan bebannya selama ini terangkat. Tidak ada yang lebih baik dari malam dan gelap. Kedua hal yang tidak bisa Radiva elakkan untuk menenangkan hatinya. Begitu sampai pada danau yang ia maksud, Radiva segera membuka helmnya dan berjalan pelan. Kalau orang lain melihatnya seperi ini, mereka pasti sudah mengira Radiva adalah orang aneh. Siapa juga yang akan berangkat ke danau larut malam begini. Ditambah dengan suasana danau yang sepi dan tanpa ada orang satupun. Hanya ada satu pos satpam yang berjarak 250 meter dari danau. Radiva rasakan semilir angin yang terbawa pepohonan. Rasanya sangat menyenangkan. Ditambah dengan suara malam dari hewan-hewan kecil yang menemani. Membuat Radiva rasanya hidup kembali. Namun semuanya hancur kala Radiva menangkap siluet hitam yang sedang duduk di kursi taman menghadap danau. Kening gadis itu mengernyit. Setahunya tidak ada orang yang mengetahui tentang keindahan danau ini saat malam. Sebab danau ini memiliki beberapa lampu penerangan yang Radiva buat sendiri agar malamnya tidak terlalu gelap seperti kehidupannya. Menyalakan lampu dengan menggunakan remote di tangannya, Radiva akhirnya bisa melihat dengan jelas siapa yang sedang duduk di sana dengan ponsel di tangannya. “Dandi?” Panggil Radiva tidak yakin. Melihat lelaki itu menoleh dan menatap Radiva dengan bingung, membuat Radiva menghela napas lega. Radiva kira orang lain yang mnegetahui tentang danaunya. Karena jika ada yang datang tanpa sepengatahuannya ke danau ini malam-malam, Radiva bisa langsung pergi dan mencari tempat lainnya untuk ia berdiam diri. “Radiva?” Tersenyum manis, Radiva berjalan mendekat. Gadis itu lalu duduk di samping Dandi. Melihat sekilas pada lelaki itu, Radiva kembali tersenyum saat Dandi membalas senyumnya. “Lo ngapain di sini malem-malem?” Tanya Radiva seraya menatap wajah Dandi yang ada di sampingnya. Membuka obrolan sekaligus membuka suara setelah duduk di samping lelaki itu. “Lo sendiri ngapain di sini?” Tanya Dandi balik. “Butuh ketenangan,” jawab Radiva. Gadis itu melihat dengan Dandi yang mengangguk pelan. “Kalau lo? Kenapa ke sini malem-malem?” “Lagi butuh suasana sepi.” Radiva menganggukkan kepalanya pelan. “Kalau gitu, lo gak akan pulang cepet-cepet, dong?” Dandi mengernyit namun tak urung menganggukan kepala. “Kayaknya. Kenapa? Ada hal penting yang mau dibicarain?” Radiva menarik napas panjang dan mengangguk pelan. “Apa yang mau diomongin?” Tanya Dandi penasaran. Radiva tersenyum lebar. “Lo mau jadi pacar gua?” “Hah?” Radiva tersenyum. “Lo bisa bantu gua? Lo jadi pacar gua.” “Maksudnya gimana? Gua gak ngerti sama sekali.” Radia berdecak pelan. “Iya. Lo mau gak jadi pacar gua?” “Alasannya apa? Kenapa jadi tiba-tiba kaya gini? Waktu makan bubur juga sama.” Radiva mengeluarkan satu catatan kecil yang selalu ia bawa dan memberikannya pada Dandi. “Ini mungkin sedikit buat harga diri lo terluka. Tapi gua butuh pemain male lead. Gua butuh orang yang mau cari pengalaman atau kasih pengalamannya sama gua tentang ya… lo pasti paham kalau udah baca.” “Hitamana? Itu lo?! Jadi lo juga yang tulis novel terbaru kemarin?” Radiva mengangguk tanpa ragu. “Jadi, lo mau jadi pacar gue gak?” Dandi menutup buku kecil itu dan memberikannya kembali kepada Radiva. “Untuk hal itu gue gak bisa.” Ada sedikit rasa sakit dalam hati begitu mendengar jawaban dari Dandi. “Kenapa?” “Gue sama sekali gak berpengalaman masalah percintaan. Gue juga bukan penyuka genre romansa. Dan lagi, gue gak bisa kalau itu lo.” Radiva mengernyitkan keningnya dalam. Memangnya kenapa jika itu dirinya? “Emang kenapa kalau itu gua? Ada yang salah dari diri gua? Atau ada hal yang gak lo suka dari gua? Gua bisa—“ “Gue gak suka anak geng motor.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN