Perasaan Aneh - COB 10

2056 Kata
“Kamu yakin mau les? Kakak bisa aja minta kelasnya dikosongin buat kamu kalau kamu mau.” “Iya. Kalau bisa lesnya yang bisa langsung buat Diva pinter.” “Heh! Mana ada yang kaya gitu! Di mana-mana kamu harus belajar dulu! Baru pinter!” “Gurunya harus yang handal berarti.” “Ya udah, berguru sama Kakak aja. Kakak, kan handal.” Radiva mendengkus. Gadis yang saat ini tengah menyetir mobilnya itu menatap jalanan dengan wajah kesal. “Bukan handal. Sesat!” “Enak aja! Kalau bukan karena Kakak yang ajarin kamu, gak akan kamu lulus seleksi ke kampus itu, ya!” “Tanpa bantuan Kakak juga bisa. Orang itu karena duit,” jawab gadis itu santai. Kinan. Perempuan yang ada di sebrang sana itu menjerit kesal memanggil nama Radiva. Membuat tawa Radiva keluar. Gadis itu memberhentikan laju mobinya dan menarik tuas begitu melihat lampu berubah menjadi merah. “Kak, kalau les pake high heels dimana, sih?” “Hah?! Kamu baru ngomong apa tadi?” Radiva berdecak keras. Menyugar rambutnya ke belakang, Radiva ambil permen di saku celananya. “Les pake sepatu tinggi.” Jika tadi Radiva yang tertawa, maka sekarang Kinanlah yang tertawa keras di sebrang sana. Radiva benar-benar menyesal sudah menelepon wanita itu hanya untuk menanyakan hal seperti ini. Tapi, kepada siapa lagi Radiva harus bertanya? Pada kembarannya? Mustahil sekali! Bisa-bisa ia ditanya macam-macam oleh wanita hamil itu. “Kamu lagi suka sama cowok, ya?” Tebak Kinan yang berhasil membuat Radiva hampir saja tersedak ludahnya sendiri. Melihat ke arah lampu lalu lintas yang sudah berubah menjadi hijau kembali, Radiva lalu melajukan mobilnya. Gadis itu membuka kaca mobil saat wajahnya terasa panas. Padahal di luar sedang hujan deras. “Gak! Aku gak lagi suka sama siapa-siapa,” elak gadis itu seraya menepuk pipinya beberapa kali saat terasa semakin memanas. “Yakin? Terus kenapa mendadak pengen jadi pinter? Pengen les pake high heels lagi.” Radiva tidak menjawab. Perempuan itu membuang wajah sebentar. Bermaksud untuk meredakan rasa panas di wajahnya yang semakin menjalar sampai pada telinga. Namun saat akan kembali melihat ke arah depan, matanya tak sengaja menangkap seorang lelaki yang tengah berteduh di depan sebuah café. Kening Radiva mengernyit. Ia sangat yakin jika lelaki itu adalah orang yang ia kenal. Bagaimana perawakannya yang jangkung dengan jaket kulit berwarna hitam dan celana jeans panjang. Radiva sangat mengenal pakaian dengan satu warna itu. Mengusung senyum miring, Radiva memutar stirnya begitu melihat belokan di depan. “Kak, Diva matiin teleponnya. Bye!” Putus Diva lalu mematikan teleponnya begitu saja. Membiarkan rintik hujan memasuki mobilnya, Radiva lalu tersenyum semakin lebar kala lelaki itu masih diam di sana. Hanya tersisa beberapa meter lagi untuk Radiva sampai di sana. Namun seolah kembali dihadang oleh kenyataan, sosok perempuan dengan jaket berwarna pinknya itu keluar dari café dan berdiri tepat di samping lelaki tadi. Rahang Radiva mengeras. Entah hanya perasaanya saja atau memang benar adanya, sepertinya Radiva mengenal gadis itu juga. Hijab instan dengan rok prisketnya yang terjuntai panjang ke bawah, membuat tangan Diva mengepal. Menghentikan mobilnya di depan toko bunga, Radiva lihat lelaki itu tersenyum manis pada gadis di sampingnya. Mengangkat kepalanya dan melihat ke arah lain, Radiva tarik napas sedalam mungkin. “Harus banget senyum kaya gitu?!” Tanyanya yang entah untuk siapa. Memukul stir keras, Radiva lalu kembali menyalakan mobilnya kembali untuk meninggalkan tempat itu. Ia memang seharusnya tidak melihat itu semua. Kenapa hari ini rasanya Radiva selalu sial?! “Kita bisa pulang bareng, Jeng. Anggap aja buat yang terakhir.” “Cukup buat semuanya, Dan. Aku gak mau buat masalah baru. Kamu bahkan lebih tahu kalau nanti ada orang yang lihat dan kasih tahu ini sama Bapak atau mungkin Om Reka.” “Tapi—“ Radiva mengangkat halisnya begitu suara percakapan kedua orang itu terdengar dengan jelas. Senyum miring tercetak jelas di bibir Radiva. Jadi, Dandi mencintai gadis itu, heh? Cukup menantang. Melajukan kembali mobilnya sampai melewati kedua manusia itu, Radiva lalu tersenyum semakin lebar. Sepertinya ini bisa jadi hal yang menyenangkan. Entah bagaimana bisa, tapi saat ini Radiva rasakan bahwa dirinya akan merebut lelaki itu dengan mudah. Benar. Ia akan mengambil Dandi denga… Sebentar. Kenapa rasanya ada yang salah? Senyum Radiva seketika menghilang begitu akal sehatnya kembali datang. “Gua kan pake dia cuman buat novel! Kenapa harus rebut dia segala? Kenapa juga tadi mau nyamperin dia? Anjir! Gua beneran gila, ya?!” Monolognya. Radiva mengusap wajahnya dengan kasar sebelum memukul keningnya beberapa kali. Gila! Kenapa ia malah berfikir untuk menjadikan Dandi sebagai miliknya?! Padahal sudah jelas tujuannya sejak awal adalah menjadikan Dandi sebagai sasaran paling baik untuk novelnya. Namun sekarang, kenapa pikirannya berubah? Kenapa juga rasanya ia tidak suka saat lelaki itu dekat dengan perempuan lain? Ia tidak memiliki hak apapun. Apa sebenarnya yang ia rasakan? Dandi juga tidak pernah melihat ke arahnya atau menanyakan tentangnya. Kenapa ia segencar ini melakukan semuanya?! “Ya kali gua beneran suka?” Radiva buru-buru menggelengkan kepalanya. “Nggak! Ini pasti gara-gara deadline sialan itu. Gak mungkin gua suka sama dia. Ini cuman demi novel. Iya! Gitu.” Radiva menghela napas pelan. Gadis itu kemudian menyandarkan punggungnya pada jok. Tidak mengerti dengan perasaanya sendiri yang kini sering sekali berubah-ubah. Selama ia mengenal Dandi, rasanya banyak hal yang tidak pernah Diva lakukan, tapi sekarang selalu gadis itu pikirkan sampai dilakukan. Mulai dari jarang merokok, mendatangi kelas orang lain, sampai merasa dekat dengan orang baru. Padahal sejak dulu, Radiva paling tidak bisa membatasi rokoknya dan juga mendatangi kelas orang lain. Sekalipun penting, ia akan menyuruh siapapun yang mau. Tapi semenjak kenal dengan lelaki itu, Radiva bahkan tidak keberatan berlari sekuat tenaga hanya untuk datang ke kelas Dandi yang jauhnya sudah seperti dari ujung kanan stadion ke ujung kiri stadion. Bisa dibayangkan sejauh apa Radiva harus berlari, kan? Dan ia melakukan itu semua hanya karena ingin bertemu dengan Dandi? s**t! Yang benar saja! “Gua emang beneran gila. Gak salah lagi.” *** Malam kembali menyambut setelah siang berperan dan memenuhi tugasnya. Rembulan terang ikut bersinar menerangi malam gelap. Beberapa kelap-kelip bintang terlihat. Karena sempat hujan selama berjam-jam, rasanya malam ini sangat bersih. Awan pun ikut jernih. Namun sayangnya tidak dengan otak Radiva. Bukannya jernih dan bersih, otak kosongnya itu kini terasa sangat penuh dan tidak beraturan. Entah bagaimana Radiva menjelaskannya, yang pasti rasanya sangat tidak mengenakan. Radiva bahkan tidak pernah merasakan hal itu sekalipun dalam hidupnya. Tapi sekarang ia merasakan hal yang bernama mumet. Mumet karena orang lain yang bahkan Radiva sendiri tidak begitu mengenal dengan baik. Hebat sekali Tuhan membuatnya berfikir setelah selama ini membiarkan otaknya menganggur. “Ya kali gua beneran suka? Akh, Anjir! Gua mau minta sama dia aja belum berani! Masa iya udah suka?!” Sedangkan di tempat lain yang berada tak jauh dari Radiva duduk, teman-temannya saling menatap satu sama lain. Mocin yang baru sampai saja mengernyit mendengar Radiva yang terus berbicara sendiri seraya mengacak rambut frustasi. Mocin tidak tahu jika ternyata Radiva bisa merasa pusing juga. Karena biasanya gadis itu akan merasa baik-baik saja. Sekalipun merasa pusing, rokok dan minuman bersoda akan kembali membuat gadis itu baik-baik saja. Tapi sekarang? Gadis itu bahkan menginjak tanah dengan kesal. “Temen lo kenapa sih, Cin?” Tanya Viza yang merasa ngeri dengan perubahan Radiva. “Mana gua tahu. Kambuh apa ya traumanya?” Tanya Mocin pada Viza kembali. “Gak mungkin. Kalau kambuh dia lebih gila dari itu,” jawab Uya. Mocin dan Viza tertawa tertahan mendengarnya. “Kayanya temen lo baru puber.” “Hah?!” Mocin dan Viza serentak menghentikan tawanya dan melihat Uya dengan wajah bingungnya. Uya mengangkat kedua halisnya kala melihat Mocin dan Viza yang terkejut. “Kenapa? Lo berdua juga dulu pasti pernah puber, kan? Gejalanya sama, kok.” “Maksud lo puber yang suka sama cowok?” Tanya Mocin dengan suara pelannya. Uya mengangguk tanpa ragu. “Iya. Puber kaya gimana lagi emang?” “Ta—tapi itu kan Diva, Ya. Jangan bercanda gitulah!” ucap Viza yang tidak percaya dengan apa yang baru saja Uya ucapkan. “Tadi pagi waktu ribut sama lo aja dia ngomongin tentang cowok kok sama gua. Dia juga bilang kalau dia mulai insecure sama cewek.” Mocin memegang dadanya dramatis. Sebelah tangannya yang lain menutup mulut. Tak bisa berkata apa-apa, Mocin melihat kembali ke arah Radiva yang masih menggerutu. Kaki gadis itu juga mulai menendang kecil tanah di bawahnya. “Ya, gua gak bisa ngomong apa-apa,” jujur Mocin seraya menggelengkan kepala. “Jangan bilang dia suka sama cowok yang ke tempat mie ayam itu?!” Uya menatap wajah Mocin dan mengedikan bahunya. “Gak tahu kalau masalah itu. Dia gak bilang siapa-siapanya. Tapi saingannya cewek berhijab gitu.” Viza mengedipkan matanya beberapa kali. Berusaha memastikan dengan benar bahwa gadis yang saat ini masih di tempatnya itu adalah Radiva. Si ketua geng yang bahkan mendekat dengan lelaki saja enggan. Tapi sekarang sudah suka? “Cepet banget gak sih kalau dia suka sekarang? Dia belum ketemu bener, loh. Tujuannya juga pasti cuman buat novel aja. Gua yakin!” Seru Mocin yang masih tidak terima dengan apa yang Uya ucapkan. “Ya mana gua tahu. Gua juga gak pernah tahu kalau tuh anak ternyata suka sama cowok. Biasanya juga diem-diem aja. Coba lo tanya sama dia sana.” Mocin mengangguk patuh. Gadis itu berjalan mendekati Radiva. Masih dengan wajah yang syok dan tidak percaya, Mocin tepuk bahu Radiva. Membuat gadis yang sejak tadi menggerutu itu mendongkak dan menatap Mocin dengan wajah garangnya. Sesaat Mocin bernapas lega karena melihat wajah garang Radiva yang mana menandakan bahwa itu benar temannya. Radiva si garang. “Kenapa?” Tanya Radiva tidak santai. “Lo kenapa? Dari tadi keknya keliatan aneh,” lirih Mocin di akhir kalimat. Gadis itu lalu duduk di samping Radiva dan menatap lekat teman satu geng motornya itu. “Div,” panggil Mocin setelah beberapa detik berlalu dan Radiva masih belum menjawabnya. “Hm.” “Lo beneran lagi kasmaran?” Tanya Mocin yang mendapat reaksi berlebih dari gadis di sampingnya. Bagaimana Radiva yang langsung menolehkan kepala dan membuang wajah kala Mocin menatapnya dengan intens. Mocin menghela napas tak percaya. Radivanya benar-benar sedang kasmaran. Perempuan itu benar-benar sedang mengalami masa-masa percintaan! Mocin bahkan melihat wajah Radiva yang memerah. “Gua gak tahu,” aku Radiva seraya menatap tanah di bawahnya dengan sendu. “Gua juga gak tahu gua kenapa.” Mocin mengigit bibir bawahnya kala melihat Radiva yang mendongkak dan menunjukkan raut wajah menggemaskannya. Dengan wajah yang sedikit memerah dan bibir yang mengerucut ke depan serta mata yang menyipit, benar-benar visual yang menganggumkan. Biasa melihat Radiva yang judes dan selalu marah-marah pada semua orang, membuat Mocin terpukau sesaat dengan kecantikan temannya ini. “Apa yang lo rasain?” Tanya Mocin. Setidak percaya apapun ia dengan ucapan Uya, ia tetap tidak boleh membiarkan teman perempuan terdekatnya itu sengsara karena masalah cinta. Ya, setidaknya Mocin bisa memberikan sedikit tips yang ia punya dan yang selama ini ia lakukan. “Gua gak ngerti. Gua juga gak tahu kenapa gua kaya gini. Tapi rasanya aneh. Gua gak paham, Cin. Seumur-umur gua baru ngerasain kaya begini dah, anjir!” Mocin mendatarkan wajahnya. Memang berbicara baik-baik dengan Radiva adalah kesalahan yang sangat besar. Ditambah dengan gadis itu yang tidak bisa mengucapkan kata-kata baik. Apa harus nada dan kalimat yang keluar seperti orang yang akan mengajak ribut? “Ya lo sekarang gimana rasanya?” Tanya Mocin yang berusaha sabar. “Gua gak tahu, Mocin.. Gua gak tahu apa yang gua rasain. Kalau deket lo sama yang lain, kaya biasa aja. Kesel tapi gak tahu kenapa. Tapi waktu deket dia, ada perasaan aneh. Gua gak suka deh di prank sama perasaan sendiri.” Mocin menatik napas panjang. “Dia yang lo maksud bukan cowok di tukang mie ayam itu, kan?” Tanya Mocin memastikan. Gadis itu menatap cemas Diva yang terdiam beberapa saat. Ia tidak bisa mengambil keputusan atas keterdiaman Radiva. Sebab Radiva cukup lemah dalam mengingat orang. Ditambah gadis itu juga termasuk orang yang cuek. “Kayanya iya. Dia orangya.” “Kok kayanya?!” Tanya Mocin yang sudah sangat kesal. Apa-apaan jawaban yang tidak pasti itu? “Ya gua mana tahu kalau ternyata dia apa bukan.” “Allahuma! Itu lo ngerasain perasaan aneh waktu deket sama si cowok mie ayam itu apa bukan?!” “Iya. Sama dia,” jawab Radiva santai. “Ya berarti yang lo maksud emang dia, Dodol! Astaga! Temen gua b**o banget sih!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN