Dara mengeluh saat pekerjaannya makin bertambah karena Chef yang terkenal mulai diketahui banyak orang di cafe itu, maka orang berbondong-bondong untuk sekadar ingin mencicipi hasil masakan sang chef di cafe. Sebuah keuntungan bagi Tiara si pemilik cafe, tapi tidak bagi Dara yang merasa tubuhnya makin lelah akan hal itu. Melihat Sarah yang mengulurkan nampan padanya dengan senyum, Dara makin merasa dongkol. Dia merebut nampan dari tangan Sarah dengan kasar hingga kuah tumpah ke lantai. “Dia! Dia yang menumpahkan kuahnya, Chef!” teriak Dara takut karena Devan melihat hal itu. Tangannya menunjuk ke arah Sarah. “Saya tidak, Chef. Ini karena—“ “Tidak, dia itu sejak lama sudah tidak suka pada saya, Chef! Sarah ini pasti melakukan hal yang membuat saya nggak betah di sini! Chef harus tah

