Zidanne duduk menunggu istrinya pulang. Wajahnya menunjukkan rasa jengkel di hati. Baru reda rasa murkanya pada sang anak kandung, tadi siang Sarah menghubunginya secara mendadak, mendesaknya untuk menikahkan Sarah dengan pria yang tidak jelas siapa. “Aku nggak peduli, meski dia menikah dengan preman pasar atau tukang mabuk sekalipun, aku tidak akan menganggapnya sebagai anak lagi,” sungut Zidanne tambah kesal saat Sarah meneleponnya di kala dia sedang mengadakan pertemuan dengan berbagai pengusaha yang datang untuk menjalin kerja sama. “Aku baru tahu bahwa anak itu setolol ibunya. Menghubungiku di saat yang tidak tepat,” decihnya, ingat akan mendiang istrinya yang seringkali meneleponnya hanya untuk menyuruh makan siang yang telah disiapkan di rumah. Zidanne kesal saat pulang, mendapa

