Beberapa minggu setelah itu berlalu. Samuel mengetuk pintu ruangan Alex. Dia membawa data perusahaan Zidanne, yang telah didapatnya dari para bawahan. “Tuan,” panggilnya sopan saat Alex sedang serius mengerjakan pekerjaannya. “Oh, ya Samuel. Ada apa?” tanya Alex. “Saya telah mendapatkan data perusahaan Tuan Zidanne beserta grafik peningkatakn dan penurunannya,” tutur Samuel dengan wajah semringah. “Bacakan, Samuel.” Pria yang mengabdi pada Alex selama lebih dari delapan tahun itu membacakan semua data perusahaan milik Zidanne. Alex mendengarkan dengan saksama semua yang keluar dari mulut Samuel. “Jadi, perusahaan itu dibangun saat Sarah kecil, jatuh bangun lalu berkembang ketika Sarah telah dewasa dan kemudian ibunya meninggal,” ucap Alex. “Benar, Tuan.” Alex mengambil seba

