
Elang & Naura
———————
Menikah dengan calon kakak ipar.
Sebuah gagasan yang tak pernah terpikirkan oleh Naura Zivani Ardhana (Naura). Dia yang sudah memutuskan untuk tidak menikah, tiba-tiba harus menggantikan kakaknya yang kabur tanpa kabar.
Menjadi pengganti berarti harus siap dengan segala risikonya. Termasuk menghadapi sikap sang suami, Elang Jagatra Adhiraja (Elang), yang sulit ditebak.
Istilah “makan hati” sudah menjadi santapan sehari-hari. Elang memang tak pernah memperlakukannya dengan buruk, tetapi perhatiannya selalu dibungkus dalih tanggung jawab. Ditambah ada sekretaris yang kerap memperkeruh keadaan, membuat Naura semakin tak memiliki rasa aman.
Lama-kelamaan, Naura lelah menebak-nebak perasaan suaminya sendiri. Baginya, menjadi janda jauh lebih baik daripada terus hidup dalam ketidakpastian. Terlebih, ada Naren Wiradipura (Naren), cinta pertamanya yang kembali hadir.
Saat akhirnya Naura mengutarakan niatnya untuk bercerai, Elang justru menjadi pihak yang paling menentang. Dia mati-matian ingin mempertahankan rumah tangganya dengan Naura.
Mempertahankan rumah tangga tak selalu berarti karena cinta. Sebab, Naura tahu, Elang memiliki trauma akibat perceraian kedua orang tuanya.
Namun, bagaimana ketika kakaknya tiba-tiba kembali?
Akankah Elang tetap ingin bertahan dengan Naura, atau justru mengejar kembali cintanya?
Dan bagaimana jika ada satu kebenaran dari masa lalu yang tak pernah Elang ketahui— kebenaran yang mungkin akan membuatnya menyesal, tetapi semuanya sudah terlambat?

