15. Kesalahan Fatal

1115 Kata

Mas Fauzi berlari ke arahku dengan wajah pucat. Raut cemas begitu jelas terlihat. "Bagaimana Aqmar, Sayang?" tanyanya di sela napas yang terengah. Jika tidak ingat tempat, ingin rasanya kuberteriak memaki laki-laki itu. "Mengapa datang?" tanyaku tajam mendesis. "Dek." Tangannya terulur hendak menyentuh pundakku, tetapi kasar kutepis. "Pergi! Urus ayam-ayammu!" Aku berucap pelan, tetapi tajam. Sesekali sisa isak membuat tubuhku berguncang. Jejak basah masih terasa di pipi. "Dek." Dia memasang wajah memelas. "Aku memintamu datang sejak tadi ketika pertama kali kutelpon. Saat itu Aqmar membutuhkanmu. Tapi mengapa kamu tolak panggilanku?" tanyaku sedikit berteriak, mulai lepas kontrol. "Maaf," sahutnya pelan. "Maaf? Aku muak mendengar kata maaf itu. Palsu! Ternyata maaf darimu hanya

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN