Aku bergeming. Tetap pada posisi semula. Tak kuhiraukan beberapa kali panggilannya. Jika dia ingin menjelaskan, silakan bicara. "Erlin bukan siapa-siapa. Tidak ada hubungan spesial di antara kami, selain hanya sebatas teman. Dia adik ipar Bang Edi, teman sabung ayam. Bang Edi biasa ke arena bersama istrinya. Jadi pernah dua kali, Erlin juga ikut. Mas kenal dia di sana," terangnya. Sesekali dia mencium dan membelai rambutku. Tangannya masih melingkar di pinggang. "Kami sering telpon dan chat. Mas akui bahwa Mas sempat suka padanya." Laki-laki itu menjeda ucapannya beberapa jenak Merasakan perih yang mulai mengiris, aku memejamkan mata, menahan panas yang tiba-tiba menjalari sudutnya. Munafik jika aku kuat mendengar pengakuan bahwa suamiku menyukai perempuan lain. Hatiku terluka. "Erlin

