"Bisa?" tanyaku ketika dia hanya diam. Tidak ada jawaban. Hening. Laki-laki itu terlihat menautkan kedua bibir. Ekspresi khasnya jika sedang menimbang suatu keputusan. Sepertinya permintaanku cukup berat baginya. "Jangan begitu, dong, Dek. Gak ada hubungannya. Permasalahannya 'kan Erlin, mengapa jadi ayam-ayam itu yang harus dikorbankan?" Benar dugaanku, dia menolak untuk menjual ayam-ayam itu. "Hubungannya sangat erat, Mas. Ayam itu adalah jembatan perantara kalian, hal yang mempertemukan kalian." Dia mengusak rambutnya, kemudian menggaruk tengkuk yang kurasa pasti tidak gatal. Terlihat bahwa dia sangat keberatan melepas ayam-ayamnya. Selama Mas Fauzi masih tenggelam dengan hobinya, keadaan tidak akan membaik. Parahnya, hobi itu pun menjadi alasan baginya untuk mencari sosok lain

