Chapter 1
Hujan turun deras ketika Aluna kembali ke rumahnya. Aroma anyir darah menusuk hidungnya begitu pintu dibuka. Lantai ruang tamu penuh bercak merah. Di tengah ruangan itu ayahnya tergeletak dengan wajah lebam dan tubuh penuh luka.
“A-ayah!!” Aluna berlari panik, mendekap tubuh ayahnya. Tangisnya pun pecah. “Siapa yang melakukan ini? Kenapa ayah bisa begini?”
Seseorang berdiri di balik pintu, tubuhnya tegap dengan setelan jas hitam yang basah oleh hujan. Sebuah payung hitam menutup sebagian wajahnya, tapi Aluna bisa melihat sorot mata dingin itu menembus gelap.
Kaanan.
Kaanan Kaivan Sangkala Ganendra atau yang biasa dipanggil Kaanan. Orang yang paling berkuasa di negri ini. Perusahaannya dimana-mana, kekayaannya tercatat tidak akan pernah habis walau 7 turunan. Sebagian orang menyebutnya mafia kuat yang tak tersentuh karena tidak pernah ada yang bisa melawan pengaruhnya.
“Orang yang memukuli ayahmu hanya menjalankan perintah.”
“Salahkan dia sendiri karena berhutang pada orang yang salah.”
Aluna menatap Kaanan dengan sorot mata penuh kebencian. Gadis itu sudah sangat mengenal siapa pria didepannya kini. “Apa yang sudah kamu lakukan pada ayahku, b*****h sialan?!”
Kaanan berjalan masuk, melepas jas hitamnya, lalu melemparnya ke sofa dengan gerakan malas. “b*****h? Tapi b*****h sepertiku lah yang memberi ayahmu kesempatan hidup sampai hari ini.”
Aluna terdiam.
“Dengar, Aluna.” Suara Kaanan berat dan tegas. “Ayahmu berhutang miliaran pada Sangkala Group. Hutang yang tidak mungkin bisa ia lunasi bahkan sampai mati. Aku bisa saja mengambil rumah ini, menjual organ tubuhnya, atau menyeretnya kedalam sel penjara. Tapi aku tidak ingin melakukan itu.”
“Aku tawarkan jalan keluar. Menikah denganku dan jadi istriku. Dengan begitu, hutang ayahmu lunas.”
Aluna terpaku. Kata-kata itu seperti petir yang menyambar di tengah hujan badai.
“M-menikah?!” suaranya parau. “Kamu gila! Aku tidak akan pernah mau menikah dengan pria yang bahkan tidak punya hati sepertimu!”
Kaanan menunduk sedikit, jarak wajah mereka hanya sejengkal. Senyum tipis muncul di bibirnya. “Kamu pikir aku butuh persetujuanmu?”
---
Hari-hari berikutnya menjadi neraka bagi Aluna. Setiap malam orang suruhan Kaanan mendatangi rumahnya, mengawasi setiap gerak-geriknya, memastikan ia tidak kabur. Selain itu ayahnya juga semakin parah, tubuhnya lemah karena luka pukulan dan tekanan mental. Sedangkan ibu tirinya, entah kemana wanita jalang itu berada karena pada malam saat kejadian nyawa ayahnya hampir terenggut, wanita itu sudah tidak ada ditempat.
Alana sendiri mempunyai ibu tiri yang bernama Indira. Ayahnya menikahi wanita itu tepat setelah kepergian ibunya yang meninggal karena penyakit jantung. Sejak awal Aluna tidak pernah menyukai ibu tirinya karena ia tahu tujuan ibu tirinya menikahi ayahnya hanya semata-mata karena harta. Dan benar saja, setelah ayahnya terlilit hutang karena perusahaannya bangkrut, wanita itu tiba-tiba menghilang bagai ditelan bumi.
“Aluna…” suara ayah Aluna mulai terdengar serak saat ia terbaring di ranjang. “Ayah mohon… turuti saja maunya Kaanan. Ayah sudah tidak sanggup lagi. Cuma kamu satu-satunya yang bisa menolong ayah. Kalau kamu tidak mau, ayah bisa mati ditangannya.”
Tangis Aluna pecah lagi. Ia menggenggam tangan ayahnya erat-erat.
Jujur saja Aluna benci ayahnya. Secara tidak langsung ayahnya lah yang membuat ibunya meninggal karena serangan jantung setelah mengetahui perselingkuhan ayahnya itu dengan wanita yang sekarang menjadi ibu tirinya. Tapi meskipun begitu ia juga tidak tega melihat ayahnya seperti ini. Bagaimanapun ayahnya lah satu-satu nya keluarga yang dia punya.
“Aluna, dia bisa datang kapan saja dan membunuh ayah.”
“Kenapa harus aku?” Alana mulai terisak. “Kenapa bukan istri baru ayah saja? Kemana dia sekarang saat ayah sekarat seperti ini? Kenapa harus aku? Kenapa harus aku yang menjadi tameng, ayah? Aku tidak mencintai b*****h sialan itu!” Aluna setengah berteriak. Sungguh gadis itu kesal, disaat seperti ini ayahnya memohon bantuannya, kemarin-kemarin kemana saja? Saat dia sedih ditinggalkan ibunya, ayahnya justru bersenang-senang dengan istri barunya.
“Maafkan ayah. Sekali ini saja tolong ayah. Cinta tidak membuatmu hidup, Aluna. Cinta juga tidak bisa membayar hutang. Tapi pernikahanmu bisa menyelamatkan nyawa ayah.”
Kalimat itu seperti pisau tajam yang menancap di d**a Aluna. Sungguh ia sangat membenci ayahnya, namun disisi lain dia juga tidak mungkin membiarkan ayahnya mati ditangan mafia kejam itu.
Dan pada akhirnya Aluna kalah. Gadis itu terpaksa menuruti kemauan ayahnya, menikah dengan mafia kejam yang tidak pernah ia pikirkan dalam hidupnya.
---
Hari pernikahan itu datang dengan cepat, tanpa pesta megah, tanpa gaun putih, tanpa bunga dan tanpa tawa bahagia. Hanya kontrak dingin yang ditandatangani di atas kertas putih dengan saksi beberapa pengacara dan notaris.
Aluna mengenakan gaun sederhana berwarna cream, wajahnya pucat, matanya sembab. Di sebelahnya, Kaanan tampak gagah dalam jas hitam mahal yang terjahit sempurna di tubuh tegapnya. Senyum puas terpampang di wajah pria itu saat tinta pena menorehkan tanda tangan mereka.
Mulai detik itu, Aluna bukan lagi Aluna Winarya. Ia menjadi Aluna Sangkala, istri dari pria terkejam di negri ini.
---
Malam pertama bukan malam penuh cinta, melainkan malam penuh tekanan.
Kaanan berdiri di depan balkon kamar penthouse mewahnya, memandang kota dengan segelas wine di tangan. Sementara Aluna duduk di tepi ranjang, tubuhnya gemetar, pikirannya kacau.
“Kenapa aku?” suaranya lirih, hampir tak terdengar.
Kaanan menoleh perlahan, sorot matanya menusuk. “Karena aku mau. Sesederhana itu.”
“Tapi kenapa? Dari semua wanita kenapa harus aku?”
Kaanan melangkah mendekat. Ia berhenti tepat di depannya, lalu membungkuk agar sejajar. Tangannya yang besar mengangkat dagu Aluna dengan lembut, kontras dengan aura dingin yang ia bawa.
“Karena kamu berbeda. Kamu menatapku bukan dengan kagum atau takut seperti wanita lain. Kamu menatapku dengan tatapan benci. Itu menyenangkan dan aku menyukainya.”
Aluna membeku. Jadi aku dipilih hanya karena dia suka lihat aku menderita, bukan?
“Kalau kamu berharap aku akan jatuh cinta padamu, lupakan. Aku tidak percaya cinta. Yang aku percaya hanyalah kepemilikan. Dan sekarang, kamu milikku. Hanya milikku.”
Air mata Aluna jatuh tak terbendung. Ia merasa seperti burung kecil yang dipaksa masuk ke sangkar emas. Indah dari luar, tapi menyakitkan di dalam.
---
Kehidupan Aluna dalam pernikahan itu berjalan bagai siksaan. Kaanan memperlakukannya seperti perhiasan berharga yang harus selalu ada di sisinya. Ia dibawa ke pesta bisnis, ke ruang rapat, serta ke jamuan makan malam dengan pengusaha kelas kakap. Semua orang kagum melihat kecantikan Aluna, tapi tak seorang pun tahu bahwa di balik senyumnya yang dipaksa ada hati yang remuk.
Di depan umum, Kaanan bersikap seperti suami sempurna. Menggandeng tangannya, menatapnya penuh kelembutan, seakan benar-benar mencintainya. Tapi di balik itu ia tetap dingin, tetap keras, tetap menegaskan bahwa Aluna adalah miliknya, bukan pasangannya.
“Jangan pernah coba kabur, Aluna,” ucapnya suatu malam, sambil menyelipkan helai rambut Aluna ke belakang telinga. “Kamu tahu apa yang akan terjadi pada ayahmu kalau kamu berani macam-macam.”
Ancaman itu membuat Aluna terdiam, lidahnya kelu.