Tidak terhitung lagi berapa banyak air mata yang ditumpahkan Nadira untuk meratapi kepergian sang ayah. Yang semalam masih duduk bersamanya. Memeluk dan tertawa bersamanya. Nadira juga masih ingat bagaimana binar bahagia terpancar dari wajah sang ayah. Ketika ia mengatakan tengah hamil dan sebentar lagi beliau akan memiliki cucu. Nadira juga baru saja merasakan bagaimana bahagianya mendapatkan kasih sayang seorang ayah. Baru saja. Baru beberapa hari bahkan masih terasa seperti mimpi bisa mendapatkan kasih sayang dari Anton. Namun, semua itu sudah sirna. Seiring dengan terbungkusnya raga tak bernyawa sang ayah dengan kain kafan. Telah tertutup dengan tanah dan tidak akan pernah kembali lagi. Tunai sudah perkataan sang ayah siang itu. Saat mereka berziarah ke makam sang ibu, dan meng

