Sinar matahari pagi yang menerobos masuk melalui celah gorden apartemen Arini terasa seperti sembilu yang menyayat mata. Arini terbangun dengan tubuh yang terasa remuk, bukan hanya karena kelelahan fisik setelah dua malam berturut-turut dikonsumsi oleh intensitas Elvano, tetapi juga karena beban mental yang kian menghimpit. Area parkir rumah sakit semalam telah menjadi saksi bisu runtuhnya sisa-sisa martabatnya. Di dalam mobil kecilnya sendiri, tempat yang seharusnya menjadi ruang pribadinya yang paling aman, Elvano telah menanamkan tanda kepemilikan yang lebih dalam dari sekadar bercak merah di leher. Arini bangkit dari tempat tidur dengan gerakan kaku, menatap pantulan dirinya di cermin kamar mandi yang beruap. Matanya sembab, dan bayangan gairah liar di dalam mobil itu terus berputar seperti kaset rusak di kepalanya.
Ia mencoba fokus. Hari ini adalah hari baru. Ia harus kembali menjadi Arini yang disegani. Namun, saat ia baru saja hendak mengenakan kemeja kerjanya, ponsel yang ia letakkan di atas meja rias bergetar hebat. Arini berjengit, jantungnya seketika berpacu kencang karena trauma akan panggilan Elvano. Namun, saat ia melirik layar, bukan nama pria itu yang muncul, melainkan nama "Nyonya Sarah Adiguna". Arini menghela napas panjang, mencoba menenangkan sarafnya sebelum menggeser tombol hijau.
"Halo, Nyonya Sarah?" ucap Arini, berusaha menjaga suaranya tetap profesional meskipun getaran di tangannya tak bisa disembunyikan.
Suara di seberang sana tidak menjawab dengan sapaan hangat seperti biasanya. Yang terdengar hanyalah suara napas yang terengah-engah, pendek, dan berat. "Arini ... Nak ... tolong ...." Suara Sarah terdengar serak, nyaris tenggelam oleh suara rintihan yang menyakitkan. "d**a ... dadaku ... seperti dihimpit ... ahhh ...."
Arini seketika berdiri tegak, insting medisnya mengambil alih seluruh kesadarannya. "Nyonya? Nyonya Sarah, dengarkan saya. Apakah Anda merasakan nyeri yang menjalar ke lengan kiri atau rahang? Di mana obat nitrat Anda?"
"Tidak tahu ... Elvan sedang ... sedang di kantor ... pelayan ... tidak ada yang paham ... Arini, rasanya ... gelap ..." Suara itu kemudian diikuti oleh bunyi ponsel yang terjatuh ke lantai, menyisakan suara statis yang mengerikan di telinga Arini.
"Nyonya Sarah! Sarah!" teriak Arini, namun tidak ada jawaban.
Logika Arini berteriak bahwa ini mungkin saja jebakan lain, mengingat drama "akting" Sarah dua hari yang lalu. Namun, sisi medisnya memberikan peringatan yang jauh lebih keras. Sarah Adiguna bukan sekadar pasien biasa; dia memiliki riwayat medis yang nyata, termasuk pemasangan dua ring di pembuluh darah koroner tahun lalu. Dalam dunia kardiologi, setiap detik adalah nyawa. Arini tidak bisa bertaruh dengan nyawa seseorang hanya karena ia takut terjebak dalam skenario keluarga Adiguna. Jika kali ini serangan itu nyata, dan ia mengabaikannya karena rasa benci pada Elvano, ia tidak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri sebagai seorang dokter.
Tanpa pikir panjang, Arini menyambar tas medisnya dan kunci mobilnya. Ia bahkan tidak sempat memoles wajahnya, hanya mengenakan jas dokter di atas kemeja yang belum rapi sepenuhnya. Ia memacu mobil city car putihnya menembus jalanan Jakarta yang mulai padat. Pikirannya kalut. Di satu sisi, ia mengutuk dirinya sendiri karena begitu mudah digerakkan oleh keluarga ini, namun di sisi lain, bayangan Sarah yang kolaps di lantai mansion yang dingin membuatnya terus menginjak gas lebih dalam.
Mansion Adiguna berdiri megah di bawah langit pagi yang cerah, namun bagi Arini, bangunan bergaya Eropa klasik itu tampak seperti mulut raksasa yang siap menelannya kembali. Begitu ia sampai di depan gerbang, pintu besi itu terbuka otomatis seolah sudah mengantisipasi kedatangannya. Arini tidak memedulikan hal itu; ia langsung memarkir mobilnya dengan sembarang di depan lobi dan berlari masuk.
"Nyonya Sarah! Di mana Nyonya?" teriak Arini saat memasuki lobi yang sunyi.
Seorang pelayan muda menunjuk ke arah lantai dua dengan wajah bingung. Arini tidak menunggu penjelasan; ia menaiki tangga melingkar itu dengan napas tersengal, stetoskop sudah ia kalungkan di leher. Ia langsung merangsek masuk ke dalam kamar utama Nyonya Sarah yang beraroma lavender dan kemewahan.
Di sana, di atas ranjang king size yang dipenuhi bantal bulu angsa, Sarah Adiguna sedang berbaring miring dengan tangan memegangi dadanya. Matanya terpejam erat, dan wajahnya tampak meringis menahan sakit. Arini segera menghampirinya, meletakkan tas medisnya di atas nakas dengan gerakan sigap.
"Nyonya, saya di sini. Tolong buka mata Anda," ucap Arini sambil meraih pergelangan tangan Sarah untuk memeriksa denyut nadinya.
Arini mengerutkan kening. Denyut nadi Sarah terasa cukup kuat dan teratur, meski sedikit lebih cepat dari normal—mungkin karena kecemasan. Ia kemudian menempelkan stetoskopnya di d**a wanita tua itu, mendengarkan detak jantungnya dengan seksama. Tidak ada suara murmur atau tanda-tanda edema paru yang biasanya menyertai serangan jantung akut. Arini beralih memeriksa tekanan darahnya menggunakan tensimeter digital yang ia bawa. 130/85 mmHg. Sedikit tinggi, tapi jauh dari angka krisis hipertensi.
Arini menghela napas, rasa curiga mulai merayapi pikirannya. Ia menatap wajah Sarah yang masih tampak meringis, namun ada sesuatu yang janggal. Tidak ada keringat dingin, dan warna bibirnya masih kemerahan, bukan pucat kebiruan yang menandakan kekurangan oksigen.
"Nyonya Sarah," panggil Arini dengan nada yang kini lebih datar dan penuh selidik. "Napas Anda sudah jauh lebih baik. Tekanan darah Anda juga stabil. Bisa Anda buka mata sekarang?"
Perlahan, satu mata Sarah terbuka, lalu diikuti mata lainnya. Senyum tipis yang penuh rasa bersalah—atau mungkin kemenangan—muncul di wajah wanita tua itu. Ia segera duduk tegak dengan lincah, sama sekali tidak terlihat seperti orang yang baru saja merasa "dihimpit batu besar".
"Ah, Arini ... kamu memang dokter yang paling sigap yang pernah kutemui. Vano benar, kamu tidak akan pernah membiarkan pasienmu dalam bahaya, meskipun kamu sangat membenci keluarga kami sekarang," ucap Sarah dengan nada suara yang segar bugar, bahkan tangannya kini meraih sebuah kipas cendana dari meja samping.
Arini berdiri tegak, melipat stetoskopnya dengan gerakan yang sedikit kasar. Rasa marah kini mengalahkan rasa khawatirnya. "Nyonya Sarah, ini yang kedua kalinya. Anda tahu betapa berbahayanya berbohong tentang kondisi jantung? Jika suatu saat Anda benar-benar terkena serangan dan saya mengira ini hanya drama, Anda bisa kehilangan nyawa karena keterlambatan saya!"