"Berhenti berdetak sekencang ini, bodoh."
Arini meremas dadanya sendiri tepat di depan pintu lift yang tertutup, seolah tangannya bisa meredam debaran jantung yang masih menggila akibat konfrontasi dengan Elvano beberapa detik lalu. Aroma kayu cendana dan espresso dari pria itu seolah masih menempel di pori-pori jas putihnya, meracuni oksigen yang ia hirup. Suster Maya yang berdiri di sampingnya hanya bisa menatap dengan dahi berkerut, namun Arini mengabaikan tatapan itu dan memilih menatap angka lift yang turun dengan perasaan tidak keruan.
Ketukan sepatu Arini di lantai marmer lobi rumah sakit sore itu terasa lebih berat, seolah bayangan Elvano yang angkuh masih mengekor di belakangnya. Ia segera menuju area parkir, mencari perlindungan di dalam sedan tuanya yang mulai kusam. Begitu pintu terkunci, Arini menyandarkan kepalanya ke kemudi, membiarkan keheningan kabin mobil menjadi barikade sementara dari dunia luar yang baru saja menggoncang pertahanannya.
"Dia hanya pria arogan yang kebetulan punya banyak uang, Arini. Jangan biarkan dia menang," bisiknya pada kegelapan di dalam mobil.
Perjalanan pulang menuju apartemen di daerah Bekasi terasa jauh lebih lambat dari biasanya, dengan kemacetan yang seolah memberi ruang bagi otaknya untuk memutar ulang kejadian memuakkan di apartemen Dimas tiga bulan lalu. Bayangan tubuh Dimas dan Shinta yang bergumul hebat kini tumpang tindih dengan sorot mata Elvano yang seolah sedang menelanjangi rahasia terdalamnya. Arini benci fakta bahwa pria asing itu bisa memicu reaksi fisik yang sama kuatnya dengan trauma yang ia simpan rapat-rapat.
Apartemennya yang terletak di lantai sepuluh menyambutnya dengan kegelapan yang tenang dan udara yang sedikit pengap. Arini tidak menyalakan lampu utama, ia lebih suka membiarkan cahaya temaram dari lampu jalan masuk melalui celah gorden, menciptakan bayangan panjang di atas lantai kayu. Ia melemparkan tasnya ke atas sofa, lalu berjalan menuju dapur hanya untuk menatap satu-satunya gelas di atas meja makan—simbol mutlak dari kesendirian yang ia pilih sebagai tameng.
"Kesepian ini lebih baik daripada dikhianati lagi," gumamnya sembari meneguk air putih dingin yang seolah membekukan kerongkongannya.
Ia melepas kancing jas putihnya satu per satu dengan jari yang sedikit gemetar, merasa seolah sedang melepaskan kulit kedua yang sudah mulai terasa menyesakkan. Di bawah jas itu, ia hanya mengenakan kemeja tipis yang kini basah oleh keringat dingin. Arini menatap pantulan dirinya di pintu kulkas yang metalik; ia tampak seperti prajurit yang kalah perang, dengan mata yang meredup dan garis bibir yang kaku.
Ponsel pribadinya yang tergeletak di atas meja tiba-tiba menyala, menampilkan sebuah notifikasi pesan dari nomor yang sama sekali tidak ia kenali.
“Kamu belum tidur, Dokter? Pastikan kamu bermimpi tentang jantung yang sehat, karena aku tidak suka melihatmu pucat besok pagi.”
Arini melempar ponsel itu ke atas sofa seolah benda itu baru saja menyengat telapak tangannya. Bagaimana pria itu tahu ia belum tidur? Apakah Elvano benar-benar sekuat itu hingga bisa menembus privasi paling pribadinya dalam hitungan jam? Rasa aman yang ia bangun di dalam apartemen ini seketika terasa rapuh.
"Cari tahu setiap inci tentang hidupnya, Rendy. Jangan lewatkan satu titik pun."
Elvano berdiri di balkon griya tawang miliknya, membelakangi asisten pribadinya yang sejak tadi berdiri mematung di ambang pintu geser kaca. Cahaya bulan menyinari bahunya yang bidang, memberikan kesan misterius sekaligus mengintimidasi. Ia menyesap wiski di tangannya, membiarkan cairan hangat itu membakar tenggorokannya yang terasa kering.
Rendy mengangguk, jemarinya bergerak cepat di atas tablet digital. "Saya sudah mendapatkan data dasarnya, Tuan. Lulusan terbaik, spesialisasi bedah jantung termuda, dan reputasi tanpa cela. Namun, ada satu hal yang menarik."
Elvano memutar tubuhnya perlahan, matanya berkilat di bawah temaram lampu balkon. "Apa itu?"
"Dia membatalkan pernikahannya tiga bulan lalu secara mendadak. Calon suaminya adalah seorang pengusaha properti bernama Dimas. Sejak saat itu, dia pindah apartemen dan mengunci diri dalam jadwal kerja yang tidak manusiawi," lapor Rendy dengan nada datar.
Elvano menyunggingkan seringai tipis yang dingin. Jadi itu alasannya. Patung es yang ia temui di rumah sakit tadi ternyata adalah hasil dari sebuah keretakan yang belum sembuh. Ada rasa puas yang aneh merayap di d**a Elvano saat mengetahui bahwa wanita itu sedang terluka. Wanita yang terluka jauh lebih mudah untuk dimanipulasi, atau setidaknya itulah yang ia pikirkan.
"Jadi dia dikhianati?" tanya Elvano sembari menatap gelas wiskinya.
"Sepertinya begitu, Tuan. Ada laporan mengenai keributan kecil di apartemen mantan tunangannya pada hari anniversary mereka. Setelah itu, dokter Arini menghilang dari pergaulan sosial sama sekali," tambah Rendy.
Elvano tertawa rendah, sebuah suara yang terdengar lebih seperti geraman predator daripada tawa manusia. "Menarik. Dia mencoba membekukan dirinya agar tidak ada yang bisa melukainya lagi. Sayangnya bagi dia, aku sangat ahli dalam menghancurkan es."
"Mengenai Dimas, mantan tunangannya, Tuan? Dia baru saja mengajukan pinjaman modal untuk proyek perumahan barunya di bank mitra kita," tambah Rendy.
Elvano tertawa rendah, sebuah suara yang terdengar seperti gesekan logam yang dingin di tengah malam. "Hancurkan aplikasinya. Buat dia merangkak di lantai bursa sampai dia tidak punya tenaga lagi untuk sekadar menyebut nama Arini. Tidak ada pria yang boleh menyakiti apa yang sudah kutandai sebagai milikku, meskipun itu adalah masa lalunya."
Obsesi itu merambat naik ke ubun-ubun Elvano, lebih memabukkan daripada wiski termahal yang pernah ia teguk. Baginya, Arini bukan sekadar dokter bedah yang memiliki tangan emas; Arini adalah teka-teki yang kaku, sebuah tantangan yang harus ia tundukkan sampai wanita itu memohon padanya untuk tidak dilepaskan. Elvano menyukai kedinginan Arini, karena itu berarti hanya dia yang memiliki hak istimewa untuk melihat wanita itu mencair.
"Kamu pikir kamu bisa mengunci pintu apartemenmu dan merasa aman, Dokter?" gumam Elvano sembari menatap ke luar jendela besar yang menghadap cakrawala kota. "Kamu tidak tahu bahwa aku sudah memegang kuncinya sejak pertama kali aku melihat matamu yang bergetar itu."
Malam semakin larut, namun Elvano tidak beranjak dari kursinya, ia terus menatap foto Arini seolah sedang merencanakan langkah catur berikutnya. Di sisi lain kota, Arini meringkuk di atas tempat tidurnya dengan lampu kamar yang menyala terang, memeluk bantalnya erat-erat karena merasa udara di sekitarnya tiba-tiba menjadi sangat dingin. Ia tidak tahu bahwa badai bernama Elvano tidak akan berhenti sampai seluruh dunianya hancur dan dibangun kembali sesuai keinginan pria itu.