Cahaya matahari pagi yang pucat menembus kaca-kaca besar Rumah Sakit Medika Internasional, namun hawa dingin pendingin ruangan tetap terasa menggigit kulit Arini. Pagi ini, ia sengaja datang lebih awal, berharap bisa menyelesaikan visitasi pasien VVIP-nya sebelum pria badai itu muncul dan mengacaukan konsentrasinya. Arini melangkah keluar dari lift lantai sepuluh, jemarinya meremas tali tas kulitnya yang mulai usang, sementara matanya terus waspada memindai setiap sudut koridor yang sunyi.
"Kamu terlihat seperti seseorang yang baru saja melihat hantu, Dokter Arini. Apakah apartemenmu terlalu dingin semalam?"
Suara bariton itu menyambar Arini tepat saat ia baru saja menghela napas lega, memecah kesunyian koridor VVIP. Elvano berdiri di sana, bersandar pada dinding marmer dengan tangan terlipat di depan d**a. Pagi ini, ia mengenakan setelan jas abu-abu arang yang dipotong sangat sempurna, membalut tubuh atletisnya dengan keanggunan seorang predator yang baru saja selesai mengintai mangsanya.
Arini mengeratkan pegangan pada papan jalan medisnya, merasakan jantungnya mencelos hingga ke perut. "Bagaimana Anda bisa tahu tentang suhu di apartemen saya, Tuan Adiguna? Apakah menguntit dokter ibu Anda adalah hobi baru bagi pria sesibuk Anda sekarang?"
Elvano menyeringai, sebuah ekspresi yang lebih menyerupai tantangan daripada keramahan, sembari melangkah maju perlahan. "Aku tidak menguntit, Dokter. Aku hanya memastikan aset berhargaku—orang yang memegang nyawa ibuku—berada dalam kondisi prima untuk bekerja. Wajahmu sangat pucat pagi ini. Kamu tidak menyukai lili putih yang kukirim ke depan pintumu?"
Langkah Arini terhenti seketika, matanya melebar menatap pria yang kini berdiri hanya sejangkauan tangan darinya. "Jadi itu benar-benar dari Anda? Bunga tanpa nama itu?"
"Nama itu tidak penting, Dokter. Pesannya yang utama. Kamu butuh sesuatu yang hidup di dalam ruangan matimu itu agar kau tidak lupa cara bernapas," balas Elvano dengan nada rendah yang bergetar di udara, membuat bulu kuduk Arini meremang seketika.
Arini mendongak, menantang sorot mata elang itu dengan sisa keberanian yang ia kumpulkan. "Lain kali, simpan bunga Anda untuk wanita yang menghargai romansa murahan. Saya lebih suka ruangan saya tetap mati daripada diisi oleh gangguan dari pria manipulatif seperti Anda."
"Romansa murahan?" Elvano tertawa rendah, suara yang terdengar sangat jantan sekaligus berbahaya. "Kamu terlalu sinis untuk wanita semuda ini, Dokter. Mari kita lihat apakah kamu masih bisa sesinis itu saat memeriksa kondisi fisik ibuku di dalam."
Mereka berjalan beriringan menuju kamar nomor satu. Begitu pintu dibuka, Nyonya Sarah tampak sedang mencoba duduk di tepi ranjang dengan napas yang sedikit tersengal. Arini segera mempercepat langkahnya, membantu Sarah kembali berbaring dengan posisi yang lebih nyaman sementara Elvano mengawasi dari ujung ranjang.
"Satu minggu lagi, Nyonya. Jika Anda memaksakan diri, ring jantung yang baru saja dipasang bisa bergeser. Tolong kerja samanya," ucap Arini dengan nada tegas namun lembut.
"Lihat, Vano? Doktermu ini sangat galak jika menyangkut aturan," goda Sarah sembari melirik putranya.
Elvano tidak menyahuti ibunya, ia justru memperhatikan setiap lekuk punggung Arini yang sedang membungkuk merapikan selimut. Saat Arini hendak menegakkan tubuh, ujung kabel stetoskopnya tersangkut pada kancing jasnya sendiri. Ia mencoba melepaskannya dengan terburu-buru, namun malangnya, kakinya terpeleset pada bagian lantai yang licin.
"Ah!" Arini memekik tertahan saat tubuhnya limbung ke arah belakang.
Sebelum punggungnya menyentuh lantai, sebuah lengan yang kuat dan panas melingkar di pinggangnya dengan kecepatan kilat. Arini merasakan dadanya bertabrakan dengan bidang d**a yang kokoh. Napasnya tercekat saat ia menyadari wajah Elvano kini hanya berjarak beberapa sentimeter saja dari wajahnya.
"Hati-hati, Dokter. Jika kamu jatuh dan terluka, siapa yang akan menyambung detak jantung ibuku?" bisik Elvano, suaranya terdengar seperti geraman halus yang sangat intim di depan bibir Arini.
Tangan Elvano yang lebar menekan pinggang Arini dengan sangat posesif, menarik tubuh wanita itu semakin rapat ke dalam dekapan jas mahalnya. Arini bisa merasakan panas tubuh Elvano menembus lapisan jas putihnya, sebuah sensasi yang membangkitkan alarm bahaya di sekujur sarafnya.
"Lepaskan saya, Tuan Adiguna," bisik Arini dengan suara yang bergetar hebat.
Elvano tidak melepaskannya; sebaliknya, ia justru semakin mempererat pelukannya. "Kamu masih gemetar di pelukanku, Arini. Kenapa? Apakah gravitasi yang membuatmu takut, atau tangan yang sedang menopangmu ini yang membuatmu gelisah?" Elvano tidak melepaskannya. Sebaliknya, ia justru semakin mempererat pelukannya, memaksa Arini untuk menatap langsung ke dalam matanya yang gelap dan penuh obsesi.
"Vano, ku membuatnya takut," Sarah menegur dari ranjang, meskipun ada nada geli dalam suaranya.
Elvano perlahan menegakkan tubuh Arini, namun tangannya tetap berada di pinggang wanita itu beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya. Ia seolah ingin meninggalkan jejak panas di sana. "Aku hanya membantu dokter kesayanganmu agar tidak berakhir menjadi pasien di departemennya sendiri, Ma."
Arini segera mundur tiga langkah begitu pegangan itu terlepas, merapikan jas putihnya dengan tangan yang masih gemetar parah. Ia mencoba kembali profesional meski batinnya bergejolak. Selesai memeriksa Sarah, Arini hendak beranjak pergi, namun langkahnya tertahan oleh suara Elvano yang mutlak.
"Aku menunggumu di kafetaria bawah sepuluh menit lagi, Arini. Ada beberapa poin kontrak tambahan yang harus kita bicarakan tanpa gangguan," ujar Elvano sembari merapikan manset kemejanya.
"Saya tidak merasa ada kontrak tambahan yang perlu dibicarakan, Tuan. Semuanya sudah jelas di administrasi," sahut Arini tanpa menoleh.
Elvano berjalan mendekat, melewati Arini dan berhenti tepat di depan pintu, menghalangi jalan keluarnya. "Sepuluh menit, Dokter. Jika kamu tidak muncul, aku yang akan menjemputmu ke poli atau ruang dokter. Dan kamu tahu betul aku tidak suka melakukan hal yang sama dua kali."
Pintu tertutup dengan suara debuman halus, meninggalkan Arini dalam keheningan yang menyesakkan bersama Sarah. Arini mencoba mengatur napasnya, namun aroma parfum Elvano seolah telah terjebak di dalam paru-parunya.
"Dia pria yang sulit, bukan?" Sarah bertanya lembut sembari menyentuh tangan Arini.
"Vano bukan pria yang mudah menyerah, Arini. Jika dia sudah menginginkan sesuatu, dia akan melakukan apa saja untuk mendapatkannya," Sarah melanjutkan ucapannya dengan nada lembut sembari menatap Arini dengan penuh simpati.
Arini hanya terdiam. Ia tahu bahwa Elvano bukan hanya pria yang sulit. Pria itu adalah jebakan yang telah terpasang dengan rapi, dan Arini baru saja menginjak pemicunya. Ia merasa setiap jengkal tubuhnya yang tadi disentuh oleh Elvano masih terasa panas, sebuah sensasi yang membangkitkan kemarahan sekaligus ketakutan yang mendalam.
Kafetaria rumah sakit yang biasanya terasa tenang kini terasa mengintimidasi bagi Arini. Ia melihat Elvano duduk di meja sudut yang paling tersembunyi, sedang menatap layar tabletnya. Sebuah cangkir espresso mengepul di depannya. Arini melangkah mendekat dengan langkah yang berat, berharap pertemuan ini akan berakhir secepat mungkin.
"Duduklah, Arini. Aku tidak suka bicara dengan orang yang berdiri seolah sedang menunggu bus," ucap Elvano tanpa mendongak.
Arini menarik kursi di depan Elvano, menjaga jarak sejauh mungkin. "Apa yang ingin Anda diskusikan? Kondisi Nyonya Sarah sudah stabil."
Elvano meletakkan tabletnya dan menatap Arini dengan tatapan yang sangat intens. "Aku tidak ingin bicara tentang angka di monitor jantung. Aku ingin bicara tentangmu. Kenapa kamu selalu memakai jas yang dikancing sampai ke leher itu? Apa yang kamu coba sembunyikan?"
Arini mengerutkan kening. "Ini urusan profesional, Tuan Adiguna. Pakaian saya bukan bagian dari rekam medis ibu Anda."
"Segala sesuatu yang mengganggu fokus dokterku adalah urusanku," balas Elvano sembari memajukan tubuhnya ke arah meja. "Kamu tampak ketakutan setiap kali aku menyentuhmu. Kenapa? Apakah tunanganmu yang pecundang itu melakukan sesuatu yang merusakmu?"
Wajah Arini seketika berubah pucat pasi. "Bagaimana Anda tahu tentang ...."
Elvano menyandarkan punggungnya ke kursi, wajahnya yang tadi keras kini sedikit rileks. "Aku bukan cenayang seperti yang kamu pikirkan, Arini. Aku Elvano Adiguna, info sekecil apapun bisa aku dapatkan jika itu menyangkut hal yang membuatku tertarik."
Arini tertegun. Kalimat itu diucapkan dengan nada begitu percaya diri namun ada sedikit nada menggoda di sana. Entah kenapa, kesombongan pria ini terasa begitu jujur hingga tanpa sadar, sebuah senyum tipis yang hampir tidak terlihat muncul di bibir Arini—sebuah reaksi refleks terhadap sisi konyol dari kesombongan Elvano.
Mata Elvano menyipit. Ia tidak melewatkan kilatan kecil itu. Untuk pertama kalinya, ia melihat dinding es itu retak dan memperlihatkan sedikit kehidupan. "Kamu tersenyum, Arini. Ternyata Dokter Es ini punya saraf tawa juga."
Arini segera menarik kembali ekspresinya, kembali ke wajah datarnya yang kaku. "Jangan terlalu percaya diri, Tuan. Itu hanya reaksi karena saya baru saja mendengar kalimat paling sombong minggu ini."
"Sombong atau fakta, itu tergantung dari sudut mana kau melihatnya," balas Elvano sembari memajukan tubuhnya ke arah meja. "Tapi setidaknya, senyummu itu membuktikan bahwa kamu belum sepenuhnya membatu. Itu kabar baik bagiku."
"Apa hubungannya dengan Anda jika saya tersenyum atau tidak?"
Elvano meraih pergelangan tangan Arini di atas meja, genggamannya mantap namun tidak kasar. "Karena aku tidak suka milikku tampak menderita. Dan kamu, dokter Arini Sekar Wangi ... adalah tantangan paling menarik yang pernah kutemui. Aku akan memastikan senyum itu muncul lagi, tapi bukan karena mengejekku, melainkan karena kamu menginginkanku."
Arini merasakan lututnya lemas. Panas dari tangan Elvano seolah merambat masuk ke dalam aliran darahnya. Ia menatap mata Elvano dan di sana ia tidak melihat adanya penyesalan; ia hanya melihat kegelapan yang siap menelan seluruh eksistensinya tanpa sisa.