Siasat Sang Matriark

1270 Kata
​"Vano, apa kamu yakin Arini tidak akan curiga jika aku tiba-tiba mengalami serangan di tengah jam makan malam seperti ini?" ​Suara Sarah Adiguna terdengar jauh lebih bugar daripada seseorang yang seharusnya sedang berjuang melawan maut. Ia duduk di sofa beludru ruang tengah Mansion Adiguna, menyesap teh kamomilnya dengan tenang sementara matanya melirik ke arah pintu besar yang masih tertutup rapat. Seminggu telah berlalu sejak kepulangannya dari Rumah Sakit Medika Internasional, dan selama tujuh hari itu pula, rumah mewah ini terasa sepi tanpa kehadiran dokter muda yang keras kepala itu. ​Elvano yang sedang berdiri di dekat bar pribadi, menuangkan wiski ke dalam gelas kristal, hanya menyunggingkan senyum tipis yang penuh rahasia. "Dia seorang dokter bedah jantung, Ma. Dia dilatih untuk mendeteksi kebohongan melalui detak nadi, jadi pastikan aktingmu tidak berlebihan atau dia akan langsung berbalik pergi." ​"Aku tidak sedang berakting, aku hanya sedang merindukan menantu masa depanku," sahut Sarah sembari meletakkan cangkirnya dengan denting halus. ​"Dia belum menjadi menantumu, dan dia bahkan masih menatapku seolah aku adalah virus yang mematikan," balas Elvano, namun sorot matanya yang tajam menunjukkan bahwa ia justru menikmati proses penaklukan itu. ​Ponsel di atas meja marmer bergetar, menampilkan pesan dari Rendy bahwa dr. Arini baru saja menyelesaikan praktiknya dan sedang menuju ke parkiran. Elvano segera memberikan isyarat kepada pelayan untuk meredupkan lampu ruangan dan menyiapkan skenario "darurat" yang telah mereka rancang. Ia tahu, Arini tidak akan pernah datang ke kediamannya jika diundang secara formal untuk makan malam, maka satu-satunya cara adalah menggunakan "sumpah medis" wanita itu sebagai umpan. ​"Suster Maya, apakah ada laporan hasil lab Nyonya Sarah yang tertinggal? Kenapa Tuan Elvano terdengar sangat panik di telepon tadi?" ​Arini melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata menyusuri jalanan kota yang mulai diselimuti mendung tebal. Napasnya memburu, dan jemarinya mencengkeram kemudi hingga buku jarinya memutih. Baru sepuluh menit yang lalu ia melepas jas putihnya, bersiap untuk pulang dan membenamkan diri dalam kesendirian apartemennya, sebelum sebuah panggilan suara bariton yang penuh otoritas—namun terdengar genting—memaksanya memutar balik arah kendaraan menuju kawasan elite di pinggiran kota. ​"Dokter, Ibuku mengeluh sesak napas yang hebat dan nyeri d**a kiri yang menjalar. Beliau menolak dibawa ke rumah sakit dan terus memanggil namamu," suara Elvano di telepon tadi masih terngiang, mengirimkan gelombang kecemasan yang profesional sekaligus sesuatu yang lebih personal ke dalam d**a Arini. ​Arini benci perasaan ini. Ia benci betapa mudahnya pria itu menyeretnya masuk ke dalam orbitnya hanya dengan satu panggilan telepon. Namun, sumpah yang ia ambil sebagai tenaga medis tidak memberinya ruang untuk mengabaikan pasien, terutama pasien dengan riwayat operasi jantung yang baru berumur satu minggu. Ia harus memastikan Sarah baik-baik saja, meskipun itu berarti ia harus menginjakkan kaki di wilayah kekuasaan Elvano. ​Gerbang besi raksasa Mansion Adiguna terbuka secara otomatis saat mobil Arini mendekat. Arini terpaku sejenak menatap kemegahan bangunan bergaya klasik modern di hadapannya. Rumah itu tampak seperti benteng yang angkuh, dengan pilar-pilar tinggi yang menyangga atap megah, persis seperti pemiliknya. Ia memarkirkan mobilnya dengan sembarang dan langsung menyambar tas medisnya di kursi penumpang. ​"Di mana Nyonya Sarah?" tanya Arini tanpa basa-basi saat seorang pelayan membukakan pintu utama. ​"Di ruang tengah, Dokter. Mari saya antar," jawab pelayan itu dengan wajah yang tampak sangat terlatih untuk menyembunyikan ekspresi apa pun. ​Arini melangkah cepat, ketukan sepatunya di atas lantai granit terdengar seperti detak jantung yang terburu-buru. Begitu sampai di ruang tengah yang luas, ia mendapati suasana yang temaram. Di atas sofa panjang, Sarah terbaring dengan mata terpejam dan napas yang tampak berat, sementara Elvano duduk di sampingnya, memegang tangan sang ibu dengan raut wajah yang sangat gelap. ​"Arini, akhirnya kamu sampai," ucap Elvano, suaranya rendah dan serak, seolah-olah ia benar-benar sedang berada di puncak kecemasan. ​Arini tidak menjawab. Ia segera berlutut di samping sofa, meletakkan tas medisnya dan mulai melakukan pemeriksaan awal. "Nyonya Sarah, dengarkan suara saya. Di bagian mana yang terasa paling sakit? Apakah rasa nyerinya seperti tertindih beban berat?" ​Sarah hanya mengerang pelan, matanya sedikit terbuka namun tampak sayu. "Sesak ... Arini ... rasanya sangat sesak ...." ​Arini segera menempelkan stetoskop ke d**a Sarah, mencoba mendengarkan ritme jantung yang seharusnya bermasalah. Namun, dahinya berkerut saat ia mendengar detak yang cukup teratur, meski sedikit lebih cepat—mungkin karena kegelisahan. Ia kemudian memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan Sarah, merasakan aliran darah yang stabil dan kuat. ​"Tekanan darahnya sedikit naik, tapi detak jantungnya stabil," gumam Arini sembari menatap Elvano dengan curiga. ​Elvano berdiri, menjulang di atas Arini dengan aura dominannya yang tidak pernah luntur. "Tadi dia hampir pingsan, Arini. Aku tidak mungkin berbohong soal nyawa ibuku sendiri." ​Arini kembali menatap Sarah, kali ini dengan mata yang lebih menyelidik. Ia menyadari ada rona merah yang terlalu sehat di pipi wanita tua itu untuk seseorang yang sedang mengalami serangan jantung. Ia juga mencium aroma teh kamomil yang masih segar di udara, bukan aroma obat-obatan darurat yang biasanya menyertai kondisi seperti ini. ​"Nyonya Sarah," Arini memanggil dengan nada yang lebih tegas, "jika Anda memang merasa sangat sesak, saya harus memberikan suntikan nitrogliserin sekarang juga untuk melebarkan pembuluh darah Anda. Tapi suntikan ini memiliki efek samping pusing yang sangat hebat." ​Arini mulai membuka tas medisnya, mengambil sebuah jarum suntik dan botol kecil berisi cairan bening. Ia bisa melihat sudut mata Sarah sedikit bergetar. ​"Tunggu, Arini! Apakah tidak ada cara lain? Mungkin dengan ... makan malam yang tenang?" Sarah tiba-tiba bersuara, suaranya tidak lagi terdengar berat, justru terdengar sangat jernih dan penuh harapan. ​Arini menghentikan gerakannya. Ia menegakkan tubuh, menatap Sarah yang kini sudah duduk tegak di sofa dengan senyum bersalah yang menghiasi wajah tuanya. Arini kemudian beralih menatap Elvano yang kini justru tampak sangat tenang, bahkan pria itu kembali meraih gelas wiskinya di atas meja. ​"Jadi, ini semua hanya sandiwara?" tanya Arini dengan suara yang bergetar karena amarah yang tertahan. ​"Jangan menyalahkan Vano, Arini. Ini ideku. Aku hanya ingin dokter kesayanganku ini datang ke sini tanpa harus aku paksa dengan surat kontrak," Sarah mencoba meraih tangan Arini, namun Arini menariknya dengan cepat. ​"Anda tahu betapa bahayanya berbohong tentang kondisi medis? Saya meninggalkan pekerjaan saya, saya mengemudi seperti orang gila karena mengira Anda sedang sekarat!" Arini berdiri, napasnya memburu karena merasa dipermainkan. ​Elvano melangkah mendekat, memangkas jarak di antara mereka hingga Arini harus mendongak. "Ibu ku hanya merindukanmu, Arini. Dan aku ... aku hanya memfasilitasi keinginannya. Kamu sudah ada di sini sekarang, jadi kenapa tidak duduk dan menikmati apa yang sudah disiapkan?" ​"Saya bukan mainan yang bisa Anda panggil kapan saja dengan skenario palsu seperti ini, Tuan Adiguna!" Arini menyambar tas medisnya dengan kasar. "Nyonya Sarah, saya senang Anda baik-baik saja, tapi tolong jangan pernah lakukan ini lagi. Saya permisi." ​Arini berbalik untuk pergi, namun tepat saat ia mencapai pintu kaca besar yang menuju ke arah parkiran, suara gemuruh petir yang sangat keras terdengar dari luar. Langit yang tadi mendung seketika tumpah, menurunkan hujan yang sangat lebat hingga jarak pandang ke halaman depan menjadi nol dalam hitungan detik. ​"Sepertinya alam tidak mengizinkanmu pergi begitu cepat, Dokter Es," ucap Elvano dari belakangnya, suaranya terdengar sangat puas dengan situasi yang ada. ​Arini menatap ke luar jendela, melihat air hujan yang menghantam kaca dengan ganas. Ia terjebak di dalam mansion ini bersama pria yang paling ingin ia hindari, dan ia tahu, malam ini baru saja dimulai dengan cara yang paling tidak ia inginkan. ​"Aku akan menyiapkan kamar tamu untukmu setelah makan malam," Elvano membisikkan kalimat itu tepat di telinga Arini, membuat napas wanita itu tercekat. "Karena aku tidak akan membiarkanmu pulang dalam badai seperti ini, meskipun kamu harus membenciku seumur hidupmu."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN