Pemeriksaan selesai, setelah dengan ramah pria yang berprofesi dokter spesialis penyakit dalam itu memberikan penjelasan penting seputar kondisi kesehatan Mama, tak ada yang istimewa. Sesaat kemudian pria dengan wajah bersih dan ratapan teduh itu pamit, selintas melirik ke arah Nafisah, mengangguk dan tersenyum memberi isyarat pamit untuk memeriksa pasien lain. Bisma memperhatikan tatapan dokter itu untuk Nafisah. Seperti ada binar hangat, yang coba disembunyikan dalam sikap profesionalnya. Bisma yang mendadak sensitif, menekan rasa cemburunya kuat-kuat dan berusaha mengunci rapat bibirnya agar tidak bertanya macam-macam. Bisma belum punya alasan untuk menyemprot Nafisah, bukankah tadi mereka hanya selintas saling sapa dan jelas sikap dokter spesialis itu tak ada yang aneh dan tetap

