Hawa dingin menerobos jendela kamar Nafisah. Nafisah baru datang dari rumah sakit ,mengantar salah seorang anak panti yang kecelakaan saat pulang sekolah. Lama Nafisah mematung di depan cermin di kamarnya. Hanifa Sudah terlelap sejam yang lalu. Sehingga Putri kecilnya tidak tahu dia sudah kembali. Nafisah berpaling dan mendekati Hanifah yang tampak lelap, membelai rambut dan kepala mungil Hanifa dengan perasaan sedih. "Tadi ibu ketemu Papa, dia bertanya kapan kita kembali ke rumah. Sayangnya, kita tidak akan pernah kembali lagi ke sana." Suara Nafisah terdengar lirih dan terluka. Nafisah mencium pipi Hanifa dengan sedih. "Sabar ya nak, lupakan rumah besar itu. Ibu akan menghabiskan sisa waktu hidup disini, membesarkan dan merawatmu dengan sepenuh hati." Lanjutnya, ada riak sakit yang s

