Plak ! Plak ! Sebuah tamparan keras Papa mendarat di pipi Citra. Luar biasa, laki-laki yang biasa memanjakan perempuan di depannya itu benar-benar dipenuhi amarah. Papa tidak menduga kalau putri kebanggaannya benar-benar tidak bermoral. Siuman dari mimpi indah dan mendapati Kenyataan, tak seindah harapan. Sungguh menyakitkan. Citra tak sesempurna yang dibanggakan, wajah cantik dan kepintarannya tak sebanding dengan akhlaqnya yang rendah. "Aku menyayangimu Citra, tapi bukan berarti aku akan membenarkan perilakumu yang tak bermoral." Nafas Papa memburu. Kecewa, murka, amarah, dan perasaan sedih menjadi satu. "Bagaimana mungkin kau serendah itu itu, Citra?" Lagi- lagi tanya papa menggelegar di tengah isak tangis Citra yang tersedu-sedu. Untuk pertama kalinya tangan itu menampar wajah

