Bab 9. Terbirit-b***t

1055 Kata
Vivian mendengkus tidak percaya. Tangannya menyugar rambut yang sedikit berantakan ke belakang, lalu menatap pria itu dengan mata menyorot dingin. “Lo sadar gak, sih, dengan siapa sedang berhadapan?" tanyanya dengan kedua tangan disilangkan di depan d**a. Arsyad mengangguk polos. Vivian mengerutkan dahi. “Jadi, Anda ini sudah tau saya siapa?” tanyanya, sambil menunjuk pada diri sendiri. Sekali lagi Arsyad mengangguk. Tidak terpengaruh dengan tatapan penuh selidik dari wanita di depannya. Sesekali dia melihat ke arah jarum jam yang ada di dinding. Pukul 08.00 wib, berarti dia hanya punya waktu 15 menit menyelesaikan masalah di sini supaya tidak telat masuk kantor. “Via, maksudku mengatakan hal ini bukan karena ingin meminta pertanggungjawaban darimu layaknya gadis pada umumnya. Tapi, aku berharap dengan kejujuran–” “Cih!” Wanita itu berdecih sinis. Hilang sudah rasa kagum yang sempat bersarang di dalam hatinya untuk Arsyad. Berganti dengan perasaan ilfil. “Dengernya, Tuan Arsyad yang terhormat. Sebelum membohongi saya, baiknya pikir-pikir dulu, deh!” Sekarang ganti Arsyad yang bingung dengan Vivian. “Tapi, aku emang gak bohong, Vi.” “Mana buktinya, kalau emang saya udah ngambil keperjakaan lo?” Vivian menantang Arsyad untuk memberikan bukti yang konkrit daripada sekadar ucapan belaka. Emang dia pikir gue bego dan bisa dikibulin dengan begitu mudah? Sorry, Anda memilih lawan yang salah! Arsyad tersenyum tidak percaya. Dia tahu jika ini memang sebuah alasan bodoh dan terbilang mencoreng harga dirinya sebagai pria mapan. Akan tetapi, pria tersebut juga tidak ingin melepaskan Vivian begitu saja. Ya, terlepas dari mereka yang sama-sama melakukan itu pertama kali. Arsyad merasa jika dirinya dan si artis harus bersama dalam sebuah ikatan yang pasti. “Bodohnya aku gak berniat untuk mengabadikan momen saat itu. Tapi, seharusnya kamu juga menyadari waktu bangun tidur. Rasa tidak nyaman di bagian in_tim. Bukankah kamu merasakannya?" tanya Arsyad dengan seringai di bibirnya. Sayangnya ingatan Vivian ini tidak seencer insan yang lain. Ada batas waktu dalam menyimpan memori di dalam otak sehingga ada beberapa hal yang tidak tersimpan dengan begitu baik di dalam otaknya. Mungkin termasuk kejadian malam panas itu dengan Arsyad. “I-itu ….” Bibir Vivian dibuat kelu saat dirinya harus menjawab akan ingatan yang jelas sudah lewat. “B-biasa aja,” lanjutnya dengan memalingkan wajah ke arah lain. “Ah, sudahlah! Bukankah Anda mau pergi, ‘kan? Jadi, gak usah diperpanjang masalah ini lagi. Bye!” “Tunggu dulu!” Arsyad menahan lengan Vivian, tapi wanita itu langsung menepisnya kasar. “Apalagi, sih?” Vivian sepertinya mulai kesal karena pria di depannya ini justru terlihat begitu terobsesi akan dirinya. “Ah, jika tentang masalah itu, bukannya sekarang gak zaman memperkarakan masalah perjaka dan tidaknya dalam sebuah hubungan?” “Apa maksud kamu, Via?” Mata pria itu menatap penuh kecewa wanita yang ada di depannya. Vivian mencoba menarik napas, lalu mengeluarkannya dari hidung. “Dulu, ya, dulu saya ini emang perempuan kolot yang akan menjalin kasih tanpa berhubungan badan. Mempertahankan mahkota yang seharusnya hanya diserahkan hanya untuk sang suami kelak. Tapi, semenjak pria si-alan itu,” jedanya dengan emosi yang membumbung tinggi. Arsyad sendiri berusaha untuk bersabar dan tidak terbawa emosi. Karena jika tidak, wanita di depannya justru akan kabur, pergi meninggalkan dirinya yang bagaikan burung dalam sangkar selama ini. Tangan Vivian mengepal erat, luka yang ditorehkan oleh Iqbal begitu membekas di dalam hatinya. Menorehkan trauma mendalam hingga wanita tersebut enggan untuk menjalin kasih dengan lelaki. "Tapi, apa, Vi?" Arsyad bertanya pelan. Vivian menggeleng. "Bukan apa-apa. Permisi!" Wanita itu lebih memilih untuk pergi meninggalkan kamar yang bisa dipastikan milik Arsyad. "Vi, tunggu dulu! Jangan pergi!" Arsyad mengejar langkah gadis itu yang begitu cepat. Dia berusaha untuk menggapai jaket untuk diberikan kepada wanita tersebut. "Saya udah bilang jangan ngikutin! Kenapa susah banget, sih, dibilangin?" Vivian mencoba menepis tangan Arsyad di lengannya, tetapi pria itu justru mencengangkan begitu kuat. "Sakit, Bego!" "Aku gak akan pernah lepasin kamu, Vi!" "Kamu gila, hah? Kita ini gak saling kenal. Ketemu aja baru sekali. Kenapa lagaknya udah kayak suami yang takut kehilangan istri!" Hancur sudah image kalem Vivian. Kini yang terpampang justru sifat Vivi yang bar-bar. Sungguh dirinya muak menghadapi pria seperti Arsyad. Gaya perlente dan duit banyak membuat mereka sering mengabaikan perasaan seorang wanita. Yang ada di otak merek hanya kerja, kerja, kerja, dan cari kepuasan. Bulshit! Jijik banget Vivian melihatnya. "Aku akan antar kamu, Vi!" Suara Arsyad sama sekali tidak terpancing akan emosi yang meluap dari Vivian. Pria itu berusaha untuk menjadi penyejuk di kala si wanita tengah dalam hati yang panas membara. "Gak mau!" tolak Vivian ketus. Wajahnya dipalingkan ke arah lain, menolak setiap tangan Arsyad yang berusaha memakaikan jaket ke tubuhnya. "Ok, aku janji gak akan ganggu kamu lagi! Tapi, izinkan aku untuk mengantarmu pulang kali ini!" ucap Arsyad pada akhirnya. Dia menyerah. Melepaskan sesuatu yang bahkan belum dimulai. Mengikhlaskan hubungan yang belum sempat dirajut. Terkesan pengecut memang, tetapi jika seseorang itu saja tidak mengizinkan untuk dirinya masuk ke dalam hidupnya. Lantas, kenapa harus berjuang sendiri? "Benarkah?" Vivian mulai tertarik atas penawaran yang diberikan oleh Arsyad. Sekali mendayung dua pulang terlampaui. Dia bisa pulang ke apartemen tanpa takut ketahuan netizen, atau orang tuanya. Terus, pria yang mengaku telah diambil keperjakaannya ini juga tak akan mengejar dia. Arsyad mengangguk. Vivian bersorak kegirangan. "Ok. Kalau gitu Anda boleh mengantar saya. Tapi, ingat! Jangan pernah berniat menemui saya lagi!" Sebuah ultimatum sudah diikrarkan oleh Vivian kepada Arsyad. Jadi, hidupnya nanti akan kembali seperti semula. Bedanya, tidak ada lagi Iqbal, hanya kerja, kerja, dan kerja. Arsyad kembali mengangguk. Dia lalu menyerahkan jaket miliknya untuk dipakai oleh si artis. Beruntung kali ini wanita itu tidak menolak dan justru senyum lebar terulas di wajah cantiknya. "Ngomong-ngomong. Apa kamu gak berniat buat cuci muka dulu, Nona?" "Maksudnya?" tanya Vivian bingung. Kerja otaknya kembali melambat sehingga kurang mengerti akan maksud dari ucapan Arsyad. Dia lalu memegang bagian wajah yang terasa biasa-biasa saja, lalu menatap pria tersebut tajam. "Itu, ada iler di samping wajah kamu," tunjuk Arsyad dengan wajah tanpa dosanya. Vivian terdiam membeku. Matanya berkedip-kedip lucu. Dia merasa jika sekarang dirinya butuh ember, atau benda yang bisa menyembunyikan wajahnya dari pria asing yang dengan watados menunjukkan kata-kata larangan di dalam kamus seorang wanita. "Via!" Panggilan itu kemudian menjadi awal teriakan keras dari Vivian yang langsung lari terbirit-b***t menuju kamar mandi. Meninggalkan Arsyad yang kebingungan, sambil menggaruk belakang kepala. "Loh, kenapa dia malah teriak? Apa ada yang salah dari ucapanku?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN