Vivian melemparkan remote tv yang baru saja digunakannya ke atas meja rias. Dia bosan dengan topik yang itu-itu mulu. "Ckckck, kayak gak ada berita lain aja, deh," dumelnya malas.
Kandasnya hubungan Vivian Wheeler dan Iqbal sudah tersebar luas di media sosial. Entah siapa pelakunya, tetapi yang jelas wajah dua pasangan itu kini selalu memenuhi setiap layar televisi penduduk Indonesia.
Belum lagi para fans Vivian Wheeler juga berbondong-bondong berkomentar di akun sosial milik sang artis. Mereka menanyakan alasan di balik retaknya hubungan mereka dan kadang ada pula yang spam iklan obat pelangsing dan hal lainnya.
Pembatalan pernikahan yang hanya tinggal menghitung hari itu jelas menjadi kesialan bagi Vivian. Banyak netizen yang menduga jika kandasnya hubungan mereka itu karena ada pihak ketiga, keempat sehingga membuatnya muak.
Pihak agensi pun begitu cepat tanggap dalam menangani berita tersebut. Dengan segala koneksi yang dimiliki oleh mereka, akhirnya berita itu pun mulai redup. Ditutup dengan gosip artis lain, atau bahkan selebgram baru yang bertingkah menjijikkan.
Suara tawa di belakang tubuh Vivian langsung terdengar. "Gila, nama lo semakin hari semakin banyak dicari aja, Nek. Berarti cuan makin banyak dong mengalir ke rekening!" Beni, penata rias yang terkenal belok itu kini tengah mengomentari berita panas yang sedang marak-maraknya.
"Tapi, Say. Bukannya gue mau nyalahin elo, yah. Tapi, menurut gue nih, yah. Iqbal itu orangnya udah cucok meong buat elo deh, Beb. Apalagi sama sikap elo yang kadang suka ngalor ngidul itu. Ya, you know lah, namanya juga laki pasti ada gesernya dikit," ujarnya menasehati si artis.
Vivian sendiri tetap memilih diam, bermain sebuah permainan candy lewat ponselnya. Tidak peduli akan ocehan dari sang penata rias yang begitu berisik mengurusi hidupnya. Bibirnya bahkan tak segan untuk mengumpat kala game yang dimainkan kalah.
"Nek, ngemeng atuh! Masa mau diem bae. Nanti, yang ada bibir lo sariawan karena gak pernah dipakai buat ghibah, loh," oceh Beni semakin melantur tidak jelas. Namun, Vivi tetap saja tidak menggubris dan sibuk dengan ponselnya.
"Ish. Ini si bebeb satu kok, ya, bikin gemes." Beni yang merasa diabaikan pun mendumel, sambil tetap menata rambut Vivian agar lebih makin cantik saat dipandang di layar kaca.
"Mba Vivi, lima menit lagi!" Suara salah satu kru dari balik pintu menginterupsi Beni yang hendak mengajak sang artis ghibah.
Vivian berdiri. Sebelum pergi, dia menatap pantulan wajahnya di kaca, lalu tersenyum menyeringai. "Gue gak perlu koar-koar tentang masalah pribadi gue, Ben. Toh, dia sudah jadi mantan dan lo tau 'kan di mana letak barang bekas berada?"
Beni melongo.
Vivian menyeringai. Dia lalu menepuk bahu pria jadi-jadian itu dengan jumawa.
Setelah kepergian Vivian, Beni yang tadi sempat dibuat terdiam, tidak bisa berkata-kata. Kini, akhirnya sadar. "Si bebeb ini emang paling bisa bikin eik mati kutu. Aih, untung eik udah kebal sama pesona si Nyai Rempong," sahutnya heboh. Mengipasi diri yang tiba-tiba terasa kegerahan, padahal dia sedang berada di dalam ruangan ber-ac.
***
Suasana di dalam ruangan CEO terlihat begitu mencekam. Tiga orang karyawan kini tengah berdiri kikuk saat mendapati wajah bos mereka begitu datar tanpa ekspresi.
"Tu-an …." Belum selesai si karyawan membuka mulut, sebuah berkas melayang tepat ke wajah pria tersebut. Tubuhnya bergetar ketakutan, menyadari jika status sebagai pekerja di sini terancam akan hilang.
"Apa kalian tahu di mana letak kesalahan kalian?" Pelan, tetapi suara itu mampu membuat tubuh ketiga karyawan di depan sana semakin gugup. Arsyad, si pemilik perusahaan merasa begitu kecewa hingga muak akan kelakuan mereka semua.
"Ka-mi ti-dak se-nga-ja, Tuan," ujar pria berkemeja putih itu gagap.
"Tidak sengaja kamu bilang?" Arsyad tersenyum mengejek akan alasan yang diberikan oleh si karyawan. Dia benar-benar sudah gatal untuk mengusir tiga pengkhianat di depannya. "Apa memberikan informasi kepada pihak lain adalah sebuah ketidaksengajaan?"
Ketiga pria itu mengangguk cepat. Akan tetapi, kepala itu langsung menunduk takut saat melihat ekspresi keras di wajah si CEO.
"Kalian tahu berapa kerugian yang dialami oleh perusahaan … sepuluh miliar," jelasnya dengan kecut. "Dan itu semua atas ketidaksengajaan kalian!”
“Puas? Bukankah itu yang kalian inginkan?"
Ketiga pria itu semakin menunduk penuh penyesalan. Rasa takut kini tengah menggelayuti hati, serta pikiran mereka. Bayang-bayang akan didepak dari perusahaan sudah mengikutinya sedari tadi.
Berdoa saja, semoga Arsyad tidak meminta ganti rugi.
"Ka-mi minta ma-af, Tuan. Ka-mi benar-benar ti-dak se-nga-ja."
"Keluarlah! Bicara saja dengan pengacara kalian dan sampai jumpa di persidangan nanti!" ucap Arsyad dingin, lalu tangannya mengambil gagang telepon yang akan menyambungkan langsung ke sekretarisnya. "Bawa mereka semua keluar!"
Setelah itu, ketiga karyawan tersebut diseret paksa oleh security untuk dibawa keluar dari ruangan bosnya. Arsyad sendiri tengah memijat bagian pangkal hidungnya. Dia heran, kenapa masalah selalu saja datang menghampirinya.
"Tidak bisakah aku hidup damai sekali saja? Apa harus selalu dirinya yang menjadi objek kejahatan dari orang lain? Kenapa? Kenapa harus aku?" Kedua tangan itu berpindah ke rambut, lalu meremasnya kuat. Mencoba menghilangkan rasa sakit yang tiba-tiba menyerang.
"Obat. Mana obatku?" Arsyad segera menarik laci mejanya satu persatu. Mencari di mana botol berisi tablet pereda nyeri itu berada. Saat ditemukan, ternyata kosong. Dia pun langsung melempar benda tersebut ke lantai.
"Brian! Cepat kemari!" teriaknya keras. Tangannya masih berada di kepala, meremas rambutnya yang terasa berdenyut sakit.
Pria yang diketahui bernama Bria–sekretaris– segera masuk ke dalam ruangan bosnya. Wajah itu berubah panik saat melihat sang CEO sudah terduduk di atas lantai, sambil meremas rambut. "Tuan. Apa yang terjadi?"
"Kepalaku sakit. Obatku juga habis. Tolong, bawa aku ke rumah sakit!" ucap Arsyad dengan terengah-engah menahan rasa sakit di kepalanya.
Brian lalu dengan cepat memapah tuannya keluar ruangan. Beruntung, tidak ada karyawan yang melihat saat sang bos dalam keadaan lemah seperti ini. Jika tidak, bisa hancur wibawa Arsyad sebagai pemegang saham terbesar di perusahaannya.
Lima belas menit mobil yang ditumpangi oleh Arsyad dan Brian kini sudah masuk ke parkiran Rumah Sakit Cinta Karya. Dokter Tio sudah menunggu di depan pintu masuk UGD bersama kedua suster.
"Bagaimana bisa ini terjadi? Bukankah saya sudah meminta Tuan Arsyad untuk tidak banyak pikiran?" Dokter Tio ini adalah orang yang selama ini merawat keluarga Arsyad. Maka dari itu, dia terkejut saat mendengar jika pria di atas brankar tersebut sakit.
Brian lalu menjelaskan duduk permasalahan yang tengah dihadapi oleh Arsyad, sambil berjalan menuju ruang pemeriksaan. Dokter Tio pun berdecak sengit.
Sementara itu, seorang wanita yang berada tepat di samping brankar Arsyad yang hanya dibatasi oleh hordeng itu mengernyit samar. "Siapa dia, sih? Kok, dokter bisa sampai seheboh itu?"