Bab 11. Ditolak Lagi

1069 Kata
Vivian mengintip dari balik hordeng dan betapa terkejutnya wanita itu hingga langsung kembali ke posisi awal, yaitu berbaring. Netranya terlihat waspada melihat ke arah langit-langit rumah sakit, berusaha untuk mengalihkan pikiran akan sosok pasien di samping. “Ngapain, sih, gue harus ketemu orang itu lagi,” keluh Vivian yang begitu malas jika berurusan dengan pria yang katanya telah diambil keperjakaannya oleh dirinya, "Pahit, pahit-pahit!" Setelah itu Vivian terus menggumamkan kata pahit seolah dirinya menyamakan Arsyad ini adalah seekor lebah yang akan pergi ketika dirinya melakukan tersebut. Jangan tanya ini ajaran siapa, yang jelas ini sudah ada ketika nenek buyutnya sudah lahir dan wanita itu hanya mengikutinya saja. Bedanya, jika makhluk penghasil madu itu menyengat kulit hingga meninggalkan ruam, atau bahkan bengkak setelah disengat. Sedang jika Arsyad yang mengantup, hatinya akan kembali porak-poranda. Dirinya belum siap berhubungan dengan makhluk berjakun. "Mbak, kamu lagi ngapain, sih? Kok, mulutnya komat-kamit kayak Mbah Dukun baca mantra?" Resi bertanya heran kala melihat bagaimana artisnya bertingkah aneh. "Apa tadi Pak Dokter salah ngasih obat?" Kedua bola mata Vivian langsung melirik tajam sang asisten. Dia melempar boneka yang ada di atas nakas–pemberian dari fans– ke arah Resi, lalu meletakkan jari telunjuk di atas bibir dengan galak. "Sstt! Sembarangan, gak usah berisik, deh!" "Dih, si mbak ini ngapa ngomongnya kayak tikus kejepit pintu, sih. Mbak Vivi 'kan tau, kalau telinga saya ini rada-rada," ujarnya cemberut di akhir kalimat. "Terserah!" Vivian memilih mengabaikan sang asisten, lalu memejamkan mata. Dia berpura-pura tuli, hanya untuk menstabilkan emosinya ketika berbicara dengan Resi. Nanti jika diladeni terus, bisa darting, alias darah tinggi yang ada. Resi yang merasa diabaikan pun hanya mengedikkan bahu. Dia lalu berkutat dengan jadwal sang artis yang harus di re schedule karena kondisi kesehatan Vivian Wheeler yang sedang tidak baik-baik saja. "Terus, apa Tuan Arsyad harus dirawat, Dok?" Suara di samping biliknya kembali terdengar membuat Vivian memasang indera pendengarannya agar lebih tajam. Siapa tahu dengan ini dia jadi tahu kelemahan pria tersebut. "Iya. Ini semua demi kebaikan Mas Arsyad. Jadi, lebih baik dia istirahat di sini saja dulu. Oh iya, nanti suster akan menyiapkan ruang rawat inap untuk Mas Arsyad," terang sang dokter. "Baik, Dok. Terima kasih." "Iya. Kalau begitu, saya akan mengecek kondisi pasien lain dulu. Nanti, saya akan meminta suster untuk melaporkan kondisi Mas Arsyad secara berkala." Setelah itu hening. Dua bilik yang terisi oleh dua orang dewasa kini tidak terdengar suara apa pun lagi. Brian baru saja pergi meninggalkan tuannya untuk ke bagian administrasi untuk melengkapi berkas rawat inap dari tuannya, sedangkan Arsyad sendiri dibiarkan sendiri di atas brankar dengan kondisi mata terpejam. “Mbak Vivi beneran gak mau rawat inap di sini?” Sebenarnya kondisi tubuh Vivian sendiri sedang kurang baik. Terlalu sibuk bekerja membuatnya drop hingga dilarikan ke rumah sakit. Namun, karena sikap keras kepala itu membuat sang artis menolak keras niatan tersebut. Iris gelap itu segera terbuka. Menatap jengah asistennya yang selalu menanyakan hal-hal yang sudah jelas sedari awal jika Vivian memilih untuk pulang. Dia benci rumah sakit dna dia juga tidak suka bau obat-obatan di tempat ini. “Gak usah ngeliatin Resi kayak gitu apa, Mbak!” larang Resi mengalihkan pandangan ke arah lain. “Aku mau pulang!” Tiga kata itu sudah cukup mewakili kejengkelan dari Vivian. Resi benar-benar membuat tensi darahnya naik. “Tapi, kondisi mbak belum pulih, lho!” Resi masih berusaha untuk menahan sang artis untuk tetap stay di rumah sakit dan dia melakukan ini juga atas suruhan dari orang tua atasannya. Jika tidak, mana mungkin gadis itu berlama-lama membujuk. Untuk membuktikan, Vivian lalu bangun dari pembaringan. Sial! Kepala gue pusing banget! Namun, hal itu hanya bisa diucapkan dalam hati karena jika sampai terucap bisa gawat. “See! Aku baik-baik aja. Jadi, segera tebus obatnya dan kita pulang sekarang juga!” Resi pun akhirnya harus kalah. Biarlah jika nanti dia dimarahi oleh orang tua dari sang artis. Kalaupun dipecat itu sudah menjadi konsekuensinya. Kini, dia pun keluar dari bilik untuk menuju tempat penebusan obat dan sekalian membayar biaya perawatan Vivian Wheeler. Suara batuk dari bilik samping membuat Vivian menoleh. Disusul panggilan lemah dari pria di samping yang tengah memanggil seseorang bernama Brian. Wanita itu hanya bisa diam dan tetap berada di posisi duduknya, sambil berpura-pura bermain ponsel. Namun, suara benda jatuh dna disusul ringisan dari bilik samping membuat Vivian dengan cepat bangun dari brankar. Dia membuka hordeng yang sedari tadi membatasi mereka dengan cepat dan menemukan sosok Arsyad kini tengah terjatuh di lantai. “Aish, Anda ini kenapa bisa jatuh, sih? Udah tua juga, tapi kelakuannya udah kayak bocah yang harus dijagain dua puluh empat jam!” Sembari mendumel, Vivian tetap membantu pria itu untuk bangun dan kembali ke brankar. Seorang suster yang mendengar kejadian itu pun langsung bergegas membantu. Dia mengecek selang infus si pasien yang terlepas paksa kemudian menyambungkannya lagi. “Sebentar, Tuan. Biar saya ambil kapas dulu untuk membersihkan darahnya!” Kepergian suster pun membuat keadaan dua orang dewasa itu menjadi canggung. Arsyad menatap paras pucat di depannya dengan sorot mata penuh kerinduan. Hampir sebulan mereka tidak berjumpa dan menyisakan rasa menggelitik di dalam hati. “Ngapain situ ngeliatin saya begitu? Ya, saya tau diri ini memang cantik. Tapi, gak usah natap kayak gitu, deh!” Vivian mendengkus sinis kala melihat mata pria di depannya kini tak bisa lepas dari dirinya. “A-apa kamu sakit?” Arsyad bertanya dengan suara sedikit gagap. Dia bahkan mengabaikan wajah sengak dari seorang Vivian Wheeler kepada dirinya. “Itu bukan urusan Anda!” ketusnya. Dia hendak pergi, tetapi sebuah tangan menarik lengannya hingga membuat wanita tersebut berdiri membelakanginya. “Ada apa?” “I miss you!” ucap Arsyad blak-blakan. Wajah Vivian berubah horor saat mendengar ucapan penuh kerinduan keluar dari seorang pria yang sama sekali tidak diinginkan. Dia mengatupkan giginya, berusaha menepis rasa berdesir yang tiba-tiba merangsek ke dalam hati. “Sayangnya gue gak!” Arsyad menghela napas. Perih saat orang yang selama beberapa minggu ini dirindukan, justru tidak balas mempunyai perasaan yang sama. Dia kini justru kembali ditinggalkan dalam keadaan menyedihkan. Di saat dia ingin merasa diperhatikan oleh seseorang yang disukai, justru Arsyad harus puas hanya bisa melihat punggung wanita itu. Walaupun hati sedikit pilu karena mendapatkan penolakan berkali-kali, itu tak membuatnya menyerah. “Aku harus bisa merebut hatimu, Via. Karena aku yakin, kalau kamulah wanita yang memang pantas berdiri di sisiku dan sebaliknya. Akulah pria yang pantas untuk menjadi masa depanmu!” ucap Arsyad penuh tekad kepada ruang hampa di depannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN