Arsyad kini sudah diperbolehkan pulang setelah sehari menginap di rumah sakit. Dia menolak keras anjuran Dokter Tio yang memintanya untuk dirawat semalam lagi. Pria tampan itu terlalu muak jika harus berlama-lama berdiam diri di dalam ruangan penuh dengan bau obat-obatan.
"Brian, apa kamu sudah melakukan hal yang aku suruh?" Arsyad yang sedang memeriksa laporan dari Brian lewat tablet segera bertanya. Penampilannya kini sudah bukan sebagai pasien lagi, melainkan eksekutif muda dan bergelimang harta yang siap menaklukan banyak tender.
"Sudah, Tuan."
"Apa kamu yakin?" Kembali sang CEO bertanya. Dia mendongak untuk melihat bawahannya. Arsyad menunggu dengan santai walaupun dalam hati sedikit berdebar. "Apa beneran dia sudah menerimanya?"
Brian mengangguk yakin. Dia lalu berjalan menghampiri bosnya, tidak lupa memberikan bukti transaksi atas pesanan dari Tuan Arsyad Wiguna. "Sudah diterima langsung oleh Nona Vivian Wheeler, Tuan."
Tertera di sana nama dari si penerima adalah Vivian Wheeler. Senyum puas langsung mengembang di wajah pria tersebut. Ada kelegaan di dalam hati saat melihat apa yang diberikan pada wanita itu sudah diterima.
Arsyad lalu menyuruh Brian untuk menyingkir. Dia lalu kembali berkubang dengan laporan. Namun, baru beberapa detik pria itu kembali mendongak. Iris gelap tersebut melihat ke arah sekitar, seperti ada yang mengusik pikiran.
"Apa ada yang mengganjal di dalam hati, Tuan?" tanya Brian peka saat melihat Arsyad sibuk melihat ke sana-kemari.
Arsyad menggeleng. "Aku hanya ingin cepat pergi dari ruangan ini. Bosen banget aku di sini. Ya, kamu taulah hidupku ini harus penuh tantangan jika ingin melihatku hidup," celetuknya, lalu tersenyum kecut.
Brian memperhatikan bagaimana tuannya berdiri, melangkah pasti menuju balkon. Pandangan itu jelas sudah menggambarkan bagaimana sang CEO berusaha untuk tetap hidup ditengah gempuran desakan yang ditujukan hanya untuknya.
"Apa mereka sudah pergi?" tanya Arsyad pelan dengan tatapan lurus ke depan. Memandang jauh ke tempat di mana orang yang selama ini sama sekali tidak peduli akan keberadaannya.
Brian menunduk penuh rasa bersalah. "Maaf, Tuan. Kami belum bisa menemukan keberadaan Ny–"
Arsyad menoleh cepat, membungkam mulut Brian hanya dengan tatapan dingin. "Kamu tidak perlu menyebutkan orang itu dengan jelas, Brian! Lagipula, aku pun tidak sudi melihat wujudnya sekarang!"
Mulut boleh berkata tidak. Namun, di dalam dasar hatinya yang paling dalam dia ingin bertemu dengan mereka. Akan tetapi, egonya yang terlalu tinggi membuat Arsyad selalu membohongi diri sendiri. Bersikap abai walau kenyataannya peduli. Jika tidak, mana mungkin pria itu rela menyewa orang untuk mencari.
Tangan Arsyad kini mengepal di dalam saku, menahan perasaan dendam yang selama ini telah ditanam dalam hati untuk orang yang mengaku sebagai orang tua. Nyatanya, merekalah yang telah memutuskan hubungan dengan meninggalkan diri ini di sebuah panti asuhan.
Sakit. Hati siapa yang tidak perih saat orang tua yang sudah melahirkannya tidak mau merawat, bahkan tidak ada niatan untuk mencarinya. Lubang menganga kini sulit sekali ditutup, apalagi setiap saat sang pemilik hati selalu memupuknya untuk tidak boleh memaafkan. Berdalih tidak bisa merawat, Arsyad kecil justru ditelantarkan di sebuah pintu dalam kondisi hujan deras.
Beruntung, si pemilik panti mau merawatnya hingga di usia beberapa bulan dia diadopsi oleh salah satu pengusaha sukses bernama Raden Wiguna dan istri, Aksara Cantik. Mereka lalu merawat Arsyad dengan penuh kasih sayang hingga menjadi anak yang pandai.
Setelah berusia 17 tahun, tepat di hari ulang tahunnya, mereka menceritakan identitas asli dari Arsyad. Jiwa raganya tentu saja menolak keras, dia bahkan langsung lari dari rumah demi bisa menenangkan pikiran.
"Ma, Pa, kenapa kalian tidak membuatku menjadi seperti ini?" Bulir kristal yang selama ini tidak pernah keluar dari netra pemuda itu kini deras membasahi wajahnya. "Mana mungkin … mana mungkin aku bukan anak kalian. Mama dan papa pasti bercanda, 'kan?"
Ditemani angin malam, Arsyad duduk di atas pasir pantai. Dia menatap hamparan langit malam yang terlihat indah seolah tengah mengejeknya sedang berduka. "Tuhan, apa benar yang mama dan papa katakan jika aku ini bukanlah anak mereka?" tanyanya pilu.
Dia tidak peduli jika ada orang yang melihatnya sebagai lelaki yang cengeng, atau apa. Toh, mereka juga pasti akan melakukan hal yang sama jika hal ini terjadi dalam hidupnya. Bagaimana tidak, selama ini Arsyad tidak pernah berpikir jika dirinya adalah anak angkat dari keluarga Wiguna.
Ketulusan hati mereka menutupi cacat yang ada di dalam hidupnya. Arsyad merasa dibohongi oleh dunia. Di saat dirinya begitu bangga mempunyai orang tua seperti mama dan papa, ternyata itu semua hanyalah palsu.
"Aku harus bagaimana, Ma, Pa? Arsyad harus apa?" Pemuda itu memeluk dirinya sendiri di antara dinginnya angin pantai. Di acara ulang tahunnya yang ke-17 tahun, justru kenyataan pahit yang dia dapatkan.
"Kenapa? Kenapa ini terjadi padaku, Tuhan? Kenapa?" Tangisnya semakin pilu.
Sejak saat itu, Arsyad menjadi sosok yang pendiam. Raden Wiguna dan Aksara Cantik sudah berusaha untuk membuat putra angkatnya itu kembali riang, tetapi selalu gagal hingga penyesalan pun datang. Kecelakaan tunggal membuat kedua orang tuanya meninggal di tempat.
Tanpa sempat mengucapkan kata maaf, Arsyad harus kehilangan kedua orang tuanya dengan tragis. Pemuda itu terluka dalam, lalu memilih mengurung diri di dalam kamar hingga tak ingin bertemu siapa pun sampai surat wasiat itu pun dibacakan oleh orang kepercayaan sang papa.
Jika semua harta milik Raden Wiguna dan Aksara Cantik diberikan kepada Arsyad Wiguna seutuhnya, serta ada beberapa surat dari mereka berisi permohonan maaf karena belum bisa menjadi orang tua yang baik untuknya.
"Maaf, Tuan. Itu ada yang menelpon." Suara Brian menyapa telinga Arsyad.
Pria itu pun lalu mengambil gawai yang ada di dalam saku celananya. Dia sedikit mengernyit saat ada nomor tak dikenal menghubunginya. "Brian," ujarnya menyerahkan benda persegi panjang itu ke arah sang asisten.
Brian pun mengangguk mengerti dan dengan cepat mengangkat panggilan tersebut. "Halo," sapanya kepada si penelpon.
Suara perempuanlah yang langsung menyapa pendengarannya. Wajah itu melihat ke arah tuannya dan setelah itu langsung diberikan kepada orang tersebut.
"Siapa?" tanya Arsyad, sambil tetap memandang ke arah pemandangan kota dari balik jendela.
Brian kemudian memajukan tubuhnya, berbisik tepat di samping telinga Arsyad. "Nona Vivian, Tuan."
Dalam sekejap, wajah murung itu berubah menjadi sumringah. Dia berdehem untuk menetralkan detak jantung yang tiba-tiba bekerja lebih cepat. "Apa penampilanku sudah ok?" tanya Arsyad kepada sang asisten.
"T-tapi, Tuan. Itu hanya panggilan suara," balas Brian dengan wajah bersalah.
Arsyad menjadi semakin salah tingkah. Dia lalu berdiri menjauh dari jangkauan Brian untuk menutupi rona merah di pipinya. "Bodoh!" umpatnya pada diri sendiri.
Setelah itu, dia mendengar deheman Brian. Memberitahukan jika ada seseorang yang tengah menunggu di ujung telepon. "Sial! Ngapa aku jadi kayak orang linglung begini, sih," ujar pria tersebut, sembari merutuki kebodohannya.
Arsyad lalu menempelkan gawai itu ke samping telinga. "Ha-lo …."