Bab 13. Seketika lupa

1238 Kata
"Tolong ambil bunganya lagi!" Suara di seberang telepon itu terdengar begitu ketus dan sebelum pria itu berbicara, Vivian sudah lebih dulu memutuskan panggilan mereka. Dia melemparkan gawainya ke atas sofa, di mana ada satu buket bunga, serta coklat tergeletak tak berdaya di sana. Wanita cantik itu mendesah pendek. Rasanya, pikiran dan tubuh benar-benar butuh istirahat dari segala aktivitas hati dan dunia keartisan. Vivian lelah dan ingin sendiri. "Mbak Vivi itu kenapa bunga sama hadiahnya dibuang, sih? Sayang loh." Resi menatap iba benda yang kini tergeletak tak berdaya di atas sofa. Dirinya yang hingga di umur 24 tahun saja belum pernah diberi hadiah tentu saja iri, tidak seperti sang artis yang setiap hari menerima hadiah. Vivian memijat pangkal hidungnya yang terasa berdenyut sakit. “Gak apa-apa. Kamu habis dari mana?” tanyanya mencoba mengalihkan pembicaraan. Dia lalu duduk dengan tegak dan melihat kantong plastik yang ditenteng oleh sang asisten. Resi lalu meletakkan kantong plastik itu di atas meja. Dia mengeluarkan dua kotak berisi makanan yang memang dibeli di tempat langganan sang artis. “Ini makan siang buat, Mbak Vivi, ujarnya dengan senyum mereka di bibir. "Oh iya. Nanti mbak ada makan malam dengan salah satu house production. Untuk baju, sudah saya siapkan di dalam koper," imbuh Resi, sambil menunjuk ke arah samping pintu. Vivian hanya mengangguk. Dia lebih fokus untuk membuka kotak tersebut dan senyum itu langsung mengembang kala melihat nasi goreng dengan toping sate maranggi di atasnya. “Kamu emang tau banget kesukaanku, Re. Makasih, yah!” ujarnya senang. Resi tersenyum. “Ya percuma atau saya ikut mbak selama beberapa tahun, kalau masalah kayak gini aja gak tau. Lagian, tadi tokonya juga lagi senggang makanya gak terlalu ngantri.” Vivian yang mulai fokus memakan makanan itu pun hanya menanggapi seadanya. Dia kini justru sibuk menikmati nasi goreng, serta sate maranggi yang sudah masuk ke dalam indera perasanya. Sungguh rasa yang begitu memanjakan lidah dan ini adalah favoritnya. “Res, nanti kalau ada orang yang datang dan nyariin aku, bilang aja aku lagi gak di sini!" “Loh, emang siapa, Mba? Mas Iqbal, yah?” Resi langsung membungkam mulutnya sendiri, apalagi saat melihat tatapan tidak suka dari sang artis. “Ups, maaf. Keceplosan, Mbak,” lanjutnya dengan mimik menyesal. Vivian yang sedang nikmat-nikmatnya makan langsung hilang selera. Dia menaruh sendoknya di atas piring dengan ekspresi datar. “Res, bukankah aku sudah bilang sama kamu, kalau jangan pernah bawa-bawa nama dia di sini?” tanyanya dengan tangan dilipat di depan d**a. Resi menunduk penuh rasa bersalah. Dia merutuki mulut yang bisa-bisanya menghubungkan sang artis dengan masa lalunya. “Maaf, Mbak. Saya bener-bener gak sengaja,” ucapnya tulus. Vivian mendengkus. Tanpa banyak bicara, dia lalu berdiri dan berjalan menuju kamar. Hari ini yang dikira akan menjadi waktu yang tepat untuk beristirahat, justru harus dibayang-bayangi masa lalu dan satu lagi, pria gila yang mengaku kehilangan keperjakaannya karena dia. Double sial. “Oh, God. Kenapa hidup gue pahit banget, sih? Apa gak ada pria yang benar-benar bisa membuat hidup ini menjadi lebih berfaedah?” Tubuh ramping itu kini sudah berbaring. Menatap langit-langit kamar dengan mata menerawang jauh ke antah berantah. “Di usia gue sekarang, banyak temen yang udah nikah, punya anak.” Vivian meringis, meratapi nasibnya sendiri. Dia tidak mengelak jika ingin menikah, bahkan mempunyai anak-anak yang lucu dan manis. Akan tetapi, mimpi itu justru dihancurkan sepihak oleh orang yang dikira akan menjadi masa depannya. Iqbal benar-benar sudah menorehkan luka yang mendalam bagi hidup Vivian Wheeler. “Mbak, maaf di depan ada tamu.” Suara ketukan pintu yang diikuti dengan seruan Resi membangunkan lamunan Vivian dari kenangan masa lalunya. “Siapa?” tanya wanita cantik itu balas berteriak tanpa berniat bangun dari posisi rebahan. “Tuan Arsyad Wiguna!” Mendengar nama pria itu disebutkan oleh Resi, tubuh Vivian langsung terbangun. Dia menatap pintu kamarnya dengan pandangan setengah malas. Namun, langkah kakinya seolah dengan reflek menuju pintu. Saat dirinya sudah berada di luar kamar, pria itu ternyata sedang berdiri membelakanginya. Terlihat jelas punggung tegap itu begitu sandarable, bahkan seolah memanggil-manggil untuk disentuh. Vivian segera menggeleng saat menyadari fantasi gilanya. Wanita itu lalu berdehem dan berjalan menuju ruang tamu. Vivian menahan napas saat melihat senyum pria itu tersungging di wajah rupawan Arsyad. Dia otomatis mengumpat, apalagi lesung itu kembali menyembul membuat hatinya ketar-ketir. “H-hai!” Arsyad menatap si pemilik apartemen dengan canggung. Jujur, dia merasa senang sekaligus gugup karena untuk kesekian kalinya bisa satu ruangan dengan wanita yang dia suka. “Bagaimana kabar kamu?” lanjutnya karena sapaan tadi tidak mendapatkan jawaban dari Vivian. Wanita itu mengalihkan pandangan, dia berusaha untuk tetap santai dan tidak merasa terintimidasi akan keberadaan dari sosok Arsyad. Dari tampang, serta sifatnya jelas pria di depannya ini bukanlah lelaki asal-asalan dan layak untuk dijadikan teman hidup. Karena Vivian sendiri sangat membutuhkan tipe pria seperti Arsyad untuk melengkapi hidupnya. Namun, wanita itu segera mengenyahkan pikiran gila tersebut dari dalam otak. Sudah cukup dirinya dibodohi oleh lelaki, apalagi yang modelnya seperti Iqbal. Jauh-jauh, deh! “Baik.” jawab Vivian setelah lama sibuk dengan pikirannya sendiri. Resi datang dengan dua gelas jus jeruk dan satu toples makanan ringan yang memang selalu ada di dalam lemari. “Silakan, Tuan. Maaf, seadanya,” ujarnya, sambil berusaha untuk mencuri pandang ke Arsyad. Tidak lupa rona pipi yang menghiasi wajah sang asisten membuat Vivian berdecih. Wanita itu lalu meminta Resi untuk segera pergi dari hadapan mereka. “Aku minum ya, Via.” Suara Arsyad kembali memecah hening. “Minum tinggal minum, kok, repot,” jawab Vivian terkesan ketus, tetapi lagi-lagi itu tidak membuat seorang Arsyad sakit hati. “Kamu ngapain ke sini, sih? Bukankah aku udah bilang–” “Loh, bukannya kamu nyuruh aku buat ke sini?” Vivian menatap pria itu horor. “Kapan?” “Tadilah,” sahut Arsyad santai. Dia bahkan tak sungkan untuk duduk bersandar seolah rumah ini adalah miliknya. "Astaga, kenapa gue bisa lupa sama apa yang baru aja gue ucapkan?" batinnya menjerit menyalakan diri sendiri. “Tapi, kenapa harus kamu? Kenapa gak orang lain aja?” Vivian bersikeras tidak mau disalahkan sehingga dia tetap mencari alasan agar pria itu tidak menganggapnya bodoh, apalagi pelupa. Tengsin, dong. “Dalam ucapanmu tadi mengatakan jika aku harus datang sendiri. Jadi, ya aku sendiri. Apa ada yang salah?” Vivian bingung harus berkata apa hingga akhirnya menyerah. Dia lalu duduk diam, mengabaikan si tamu yang terlihat sibuk melihat suasana apartemennya, sedangkan dirinya sibuk bermain gawai. Setelah sekian lama dalam kebisuan, Arsyad pun berdehem. Dia merasa bingung, tidak tahu harus mengajak Vivian mengobrol apa. Niatan pria itu ke sini juga sudah jelas hanya untuk mengambil hadiah yang dikirimnya tadi. Namun, ketika dia mencari, justru yang ditemukan bunga itu sudah berada cantik dalam sebuah vas kaca di atas meja. “Vi, apa kamu ada wak–” “Gak ada. Udah sana pulang! Ngapain, sih, masih di sini? Bukannya aku udah nyuruh kamu buat bawa pulang hadiah kamu itu?” Vivian segera memotong ucapan Arsyad yang pastinya ingin mengajak dia pergi. Dia jelas menolak. Untuk apa? Tidak ada gunanya juga. “T-tapi itu ….” Arsyad menunjuk ke arah satu kuntum bunga mawar merah yang kini sudah tertata cantik di atas vas bunga. Sontak, Vivian langsung berdiri dan menatap ke arah Resi yang kini sudah lari terbirit-b***t ke dapur karena kepergok menguping di belakangnya. “Resi!” seru Vivian kesal, sedangkan Arsyad hanya bisa menahan senyum kala melihat wanita yang dia cintai sekarang sedang kelimpungan. "Jadi, apa kamu mau pergi bersamaku?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN