"Fokus ke jalan!"
“Cie, yang lagi seneng,” goda seorang pria kepada penumpang di samping kursi kemudinya.
Wanita itu melirik sinis, bahkan jika sebuah tatapan bisa membunuh, mungkin pria tersebut sudah mati di tempat. Namun, beruntunglah itu hanya terjadi di sebuah dunia manga dan halu. Karena sejatinya, tidak ada manusia yang mati hanya karena sebuah tatapan.
“Apa mata Anda ini mines, atau gimana?" tanya Vivian ketus. "Lagian, seneng dari mananya? Apa aku terlihat tersenyum, tertawa, atau ada rona merah di pipiku?"
Vivian bahkan sampai memajukan tubuhnya agar pria itu melihat raut seperti apa yang kini tengah diperlihatkan. "Gak ada, ‘kan?" Terlihat sekali jika wanita itu tengah merasa geram. "Jadi, lebih baik situ diem, deh. Gak usah ngurusin hidup orang!”
Wanita itu lalu membanting tubuhnya sendiri ke jok. Menatap jalanan di kota, sambil menggerutu. "Awas aja nanti Resi sama si Feri. Bakalan gue potong gaji mereka!"
Vivian tidak akan pernah berada di sini jika saja mereka berdua tak ceroboh. Bagaimana bisa mereka tidak tahu, kalau van yang biasa membawanya bekerja justru mogok dan lebih menyebalkan lagi adalah ketika dia harus menerima bantuan dari pria asing tersebut. "Mati aja gue!"
Rasa-rasanya, Vivian ingin sekali mencelupkan wajahnya ke ember besar. Terus, mandi kembang tujuh rupa untuk menghilangkan kesialannya. Akan tetapi, semua harus diurungkan karena dia masih memiliki pekerjaan. Jika tidak, mungkin sekarang wanita tersebut sudah mengurung diri di dalam kamar mandi untuk berendam.
"Kamu tau gak, Via–"
"Gak tau dan gak mau tau!" sela Vivian cepat. Dia seolah tidak Ingin terlibat lagi percakapan dengan pria di sampingnya.
Arsyad tersenyum kecil. Dia merasa heran akan dirinya sendiri. Selalu saja bibir ini dengan mudah terangkat untuk tersenyum, bahkan tertawa. Apa benar semua ini karena keberadaan wanita itu? Atau, ini hanya ilusi semata? Pria itu lalu mencubit lengannya sendiri. Sakit. Berarti memang bukan mimpi.
Dia lalu menoleh ke arah wajah Vivian yang kini tengah misuh-misuh. Cantik. Sangat cantik. Apa semua perempuan akan terlihat cantik jika tengah marah? Gak, deh. Tapi, kenapa Via justru terlihat begitu cantik? Oh, Tuhan. Sebenarnya ada apa dengan mataku ini?
Hal itu pula yang membuat Arsyad, si dingin menjadi bucin kepada Vivian. Belum lagi, mereka bahkan sudah pernah merasakan satu sama lain. Jadi, pria itu merasa jika hubungan mereka cukup istimewa. Bukan hanya sekadar orang asing, teman, atau bahkan pacar, melainkan lebih.
"Kamu cantik, Via. Sangat-sangat cantik!" Sebelum Vivian sempat membalas ucapannya, Arsyad lanjut berkata, “Via, kamu sebenarnya pakai pelet apa, sih? Kok, sedari tadi aku gak bisa fokus lihat jalan. Bawaannya pengin mandangin wajah kamu terus."
"Cih!" Vivian benar-benar dibuat menyeringai sinis. "Pelet? Wah, lelucon situ ternyata sangat tidak berfaedah sekali, ya."
Peduli setan sama sopan santun. Santun aja gak pernah sopan sama gue. Jadi, terserah dia mau ngomong apa. Mau nyampe berbusa pun gue gak peduli. Ora urus. Sakarepmu! batin Vivian menjerit, lalu lebih memilih untuk tidak memperpanjang masalah.
Wanita itu memalingkan wajah, apalagi saat melihat Arsyad yang justru cengemgesan di samping. Apa ada yang lucu? Kenapa dia malah tertawa? Ah, terserahlah. Lama-lama gue bisa gila, kalau ngobrol mulu sama ini orang. Setelah itu, dia pun memilih memejamkan mata, sambil menghadap jendela.
Saat ingin membalas ucapan wanita itu, Arsyad justru terkejut. "Eh, ternyata dia tidur. Astaga, Sya. Kamu terlalu banyak omong kayaknya, sampai bikin anak orang terlelap," gumam pria itu, lalu tertawa sendiri.
Arsyad tersenyum masam. “Apa sesulit itu buat aku masuk ke dalam hatimu, Via?” tanyanya, sambil tersenyum getir.
Selama sisa perjalanan menuju tempat yang dituju. Vivian yang tadinya hanya berpura-pura tidur, ternyata justru terlelap beneran. Tiga puluh lima menit mereka menempuh perjalanan ditemani kebisuan hingga akhirnya mereka sampai di depan sebuah gedung pencakar langit.
"Jadi tempat ini yang dituju oleh Via." Arsyad memang belum pernah masuk ke dalam gedung tersebut. Akan tetapi, dia cukup familiar dengan si pemilik perusahaan di depannya.
“Hoammm!” Vivian menguap cukup lebar hingga tanpa sadar merentangkan kedua tangannya ke atas tanpa sungkan. “Apa sudah sampai?” Mungkin di alam bawah sadarnya, orang yang ada di sekitar adalah Resi dan juga Feri.
Nyatanya, Vivian dibuat terkejut kala melihat Arsyad sedang menatapnya dengan satu tangan di letakkan di bawah dagu. "Yakh! Kenapa kamu bisa ada dia ini? Terus, Resi mana?" tanyanya linglung.
"Yang jelas niat aku baik untuk mengantarkan kamu ke sini. Untuk asisten kamu, dia masih ada di apartemen menemnai supir kamu," jawabnya begitu santai.
Sadar sudah bertingkah bodoh, Vivian pun hendak kabur. Namun, sebelum itu dia melihat ke arah Arsyad. "Terima kasih," ucap wanita itu pelan.
"Apa? Maaf, aku gak denger." Arsyad sendiri justru tersenyum kala melihat reaksi natural dari Vivian setelah bangun tidur. Mau melakukan apa pun, wanita di sampingnya tetap saja cantik. Bodoh sekali, pria yang melepaskan perempuan se-perfect Vivian Wheeler.
"Ish. Aku bilang, makasih!" serunya kesal. Dia sudah berusaha menekan rasa geramnya, tetapi Arsyad justru seolah sengaja memancing kesabaran Vivian yang setipis tisu dibagi 4.
Decakan kesal pun tak terelakan lagi dari mulut sang artis. “Ngapain kamu ngeliatin saya seperti itu?” tanyanya sewot.
Pria itu menggeleng. “Kamu cantik,” pujinya langsung.
Sebuah rona merah langsung merambat ke kedua pipi Vivian kala ditatap sedemikian intens oleh Arsyad. Bohong jika dia tidak terpesona oleh ketampanan dari Arsyad Wiguna. Namun, dia juga tidak sudi masuk ke lubang yang sama dalam waktu yang dekat.
“Cih, semua orang juga tahu, kalau saya ini cantik.” Vivian menjawab dengan sedikit tergagap.
“Tunggu, Via!” cegah Arsyad, tetapi dia langsung melepaskan tangan Vivian yang tadi sempat ditariknya. “Maaf!”
Vivian mendesah lelah. “Apa lagi?”
“Ehm, itu, kamu pulangnya jam berapa?” Terlihat sekali pria di depannya sedang salah tingkah.
“Gak tau dan kamu juga gak perlu nungguin, atau berniat jemput aku balik. Mending kamu pulang sekarang juga. Oh, iya. Terima kasih atas tumpangannya!” Setelah itu, Vivian benar–benar turun dari mobil Arsyad. Dia berjalan terus ke depan, tak berniat untuk sekadar menoleh, apalagi bersusah payah menunggu, atau melambaikan tangannya untuk mengantar kepergian pria tersebut.
Dia bukanlah orang penting di dalam hidupnya. Jadi, Vivian tidak perlu beramah tamah yang nantinya justru akan menyulitkan dirinya di kemudian hari.
“Good night, Via!” Mobil Arsyad masih berada di depan pelataran gedung. Menunggu hingga tubuh wanita itu sudah hilang di balik pintu. Setelahnya, barulah dia pergi menuju kantor. Brian sudah menunggunya sedari tadi untuk membahas masalah investor dari Korea yang akan bekerja sama dengan perusahan milik mereka.
Sikapnya yang murah senyum, malu-malu kini sudah berubah menjadi datar. Tatapannya pun sudah tidak jenaka, melainkan keseriusan seperti predator yang tidak ingin kehilangan mangsa.
Sikap dan pedulinya selama ini memang jarang sekali diperlihatkan di depan umum. Karena sejatinya, sikap Arsyad ketika di kantor adalah dingin, misterius, dan kejam. "Brian, tolong kamu pecat semua orang yang sudah berkhianat dalam perusahaan kita!"