Langkah sepatu pantofel itu terlihat begitu pasti. Menuju di mana ruang kantornya berada. Beberapa pegawai yang hendak pulang sengaja berhenti untuk memberikan salam kepada si pemilik Perusahaan Wiguna.
Wajah dingin, serta aura siap membunuh itu membuat udara di sekitar terasa mencekam. Mereka yang di sana pun merasa hampir tercekik jika saja sang CEO bertahan beberapa detik lagi di sana.
"Tunggu dulu!" Pria itu menghentikan langkahnya saat akan memasuki lift. Tubuhnya berbalik, melihat ke arah salah satu pegawai yang tengah menunduk di samping tembok besar. "Bukankah kamu ini anak dari HRD di sini? Siapa itu … ah, iya si Hendra. Bukankah itu nama ayah kamu?"
Karyawan yang baru saja masuk selama dua bulan itu seketika berkeringat dingin. Dia tidak berani mengangkat wajah yang kini sudah langsung berubah pucat pasi. "B-benar, Tuan," gagapnya.
Arsyad tertawa sinis. Dia menatap ke arah Brian di belakang, lalu memintanya untuk mengurus karyawan tersebut. Sementara itu, pria tersebut segera masuk ke dalam lift sendirian, tanpa sang sekretaris.
"Oh, iya, Brian. Sekalian, tolong kamu belikan saya makanan. Terima kasih!" Lift pun tertutup, bersamaan dengan embusan napas lega dari para karyawan yang ada di sekitar setelah melihat kepergian CEO mereka.
Suara bisik-bisik penuh kelegaan kini mulai memenuhi lobi utama. Namun, ada satu orang yang kini masih membeku di tempat. Dia adalah Indrik, anak dari HRD Perusahaan Wiguna–Hendra.
"M-maaf, Tuan Brian. A-apa saya sudah melakukan kesalahan?" tanya Indrik dengan bibir bergetar ketakutan.
Brian tersenyum. Dia lalu menepuk jas karyawan tersebut di bagian bahu dengan lembut kemudian memajukan wajahnya dekat dengan telinga orang tersebut. "Bilang kepada ayahmu untuk membuatkan surat pemecatan atas nama Indrik Hendra Herlambang. Kamu mengerti!" Pelan, tetapi begitu mengena ke dalam jantung.
Brian berlalu dari hadapan Indrik yang kini tengah terduduk di atas lantai keramik setelah mendengar dirinya telah dipecat dengan tidak terhormat oleh Bosnya. Ingin mengelak, tetapi dia merasa tidak ada guna hingga pasrah yang bisa dilakukan olehnya.
Sementara itu, Vivian Wheeler kini tengah duduk sendirian di bagian lobi sebuah perusahaan. Rencana makan malamnya justru beralih menjadi sebuah kunjungan tidak terduga ke perusahaan milik salah satu rekan bisnis sang klien.
Alhasil, dia yang sedang menunggu jemputan pun hanya bisa diam di ruangan itu sendiri. Sebenarnya tidak sendiri pula, ada dua security dan satu resepsionis yang tengah berjaga di sana. Namun, karena begitu sepi suasana gedung tersebut membuat Vivian hampir mati kebosanan.
"Sebenarnya Resi sama Feri ini ke mana, sih? Kenapa sedari tadi mereka belum juga datang?" Sekali lagi, Vivian melihat ke arah jam digital yang ada di bagian pojok bagian atas gawainya. Saat menyadari jika dirinya sudah bertahan lebih dari 15 menit menunggu, justru membuat dia semakin kesal. "Apa mereka sudah bosan bekerja sama gue, hah? Awas aja nanti, kalau datang. Bakalan gue potong gajinya!"
"Nona, apa Anda ingin minum sesuatu?" Seorang wanita berseragam rapi tiba-tiba datang menghampiri Vivian, lalu menawarkan sebuah minuman kepada si tamu. Panggil saja Citra dan dia adalah karyawan Perusahaan Wiguna yang menjabat sebagai penerima tamu, atau biasa disebut sebagai resepsionis.
"Tidak perlu. Sebentar lagi jemputan saya akan datang, kok," jawab Vivian ramah.
"Ehm, kalau gitu … apa saya boleh minta tanda tangan dari Nona Vivi?" Dengan menyodorkan sebuah buku kecil, Citra menahan diri untuk tidak bersorak kegirangan saat melihat artis yang diidolakannya berada begitu dekat. "I'm lucky fans," gumamnya penuh bangga.
Vivian yang memang sedang dalam suasana hati yang bagus pun tidak menolak. Dia tersenyum ramah, lalu bertanya nama dari karyawan tersebut. "Ini," ucap sang artis, sambil tetap menyunggingkan senyum.
"Terima kasih, Nona Vivi. Oh, iya. Saya ini adalah penggemar setia Anda sedari dulu loh, Nona. Dan saya selalu berdoa semoga Nona Vivi bisa menemukan cinta sejatinya. Sehat selalu, sukses, dan juga bahagia dunia akhirat. Terima kasih atas kesempatan yang luar biasa ini, Nona!" ujar Citra begitu panjang.
Vivian mengaminkan doa dari fansnya. Dia juga tidak menyangka akan bertemu dengan salah satu penggemar di tempat seperti ini. "Kamu juga jaga kesehatan dan tetap semangat dalam bekerja," jawabnya dengan satu tangan terangkat ke atas untuk memberikan sebuah penyemangat.
Hal yang paling membahagiakan bagi seorang fans adalah dukungan dari idolanya. Citra begitu bangga, senang, hingga tidak bisa berkata-kata lagi. Perempuan muda itu terus saja membungkuk beberapa kali kemudian setelahnya kembali ke tempat dia bekerja.
"Vivian? Benarkah itu kamu?" Sebuah sepatu pantofel mengkilap kini sudah berdiri tepat di depan kursi yang sedang diduduki oleh sang artis.
"Elo?" Vivian tanpa sadar memanggil pria itu dengan bahasa yang biasa digunakan kepada teman akrabnya. "Ckckck, ngapain situ ada di sini?" lanjutnya, sambil memalingkan wajah ke arah lain.
Entah kenapa moodnya tiba-tiba langsung buruk, tetapi sisi di dalam hati juga berkata bahwa pria tampan di sana sangat macho dan juga seksi.
Arsyad melambaikan tangannya di depan wajah Vivian, Mall lalu tersenyum jumawa. Senyum yang entah untuk kesekian kalinya ketika bertemu dengan wanita cantik di depannya. "Harusnya aku yang nanya itu ke kamu, Via. Kenapa kamu bisa ada di sini? Dan, hei. Apa mereka tidak menawarkan apa pun untukmu?"
Pria itu sedikit geram kala melihat wanita spesialnya sama sekali tidak mendapatkan perlakuan yang baik. Dia lalu menatap ke arah sang resepsionis dan memanggilnya.
Citra segera lari terbirit-b***t menuju ruang tunggu di mana ada bos, serta artis ternama. "Apa ada yang bisa saya bantu, Tuan?" Dia menunduk takut saat melihat sang CEO terlihat dalam suasana hati yang buruk.
"Apa yang kamu lakukan kepada tamuku? Kenapa tidak ada minuman, atau makanan apa pun di sini?" Arsyad setengah menahan geram saat berbicara kepada karyawannya. Dia menunjuk ke arah meja kaca yang kosong melompong tanpa adanya penghuni seperti air mineral, minuman berwarna, atau buah.
"M-maaf, Tu-an. Ta–"
"Ckckck, gak usah banyak alasan. Cepat bawakan minuman, atau makanan apa pun untuk tamuku!" perintahnya tak mau dibantah.
Citra pun langsung bergegas pergi menuju bagian belakang. Kantin adalah tujuannya. Sedang Vivian menatap Arsyad dan juga karyawan yang tadi mengaku sebagai fansnya dengan kening berkerut. "Apa kamu baru saja memarahi wanita itu?"
Arsyad yang sadar sudah mengacuhkan Vivian pun segera mengambil tempat duduk, tepat di samping kursi wanita tersebut. Dia memasang raut ramah yang jelas berbanding terbalik dengan apa yang baru saja diperlihatkan kepada sang bawahan. "Maaf, Via. Tadi kamu ngomong apa?"
Vivian menggeleng, masih dengan senyum anehnya. Dia lalu melihat ke arah sekitar kemudian menunjuk ke arah Arsyad seolah menanyakan status pria itu di sana.
"Ah, itu. Sebelumnya perkenalkan, nama saya Arsyad Wiguna. Pemilik dari perusahaan yang sedang kamu pijaki," ucap pria itu dengan senyum ramah.
Vivian melengos. Mengumpati diri sendiri karena sama sekali tidak tahu menahu akan siapa orang yang sedang mendekatinya. Wiguna, adalah sebuah nama besar di mana kekayaannya sudah tidak bisa terhitung lagi. Perusahaannya pun menyebar di segala penjuru kota hingga ke mancanegara.
"Via … hei, kok malah diem, sih? Apa ada yang salah?" Arsyad mengetuk meja kaca di depannya. Dia jelas melihat ada keterkejutan di wajah itu. Namun, tak begitu dianggapnya. "Oh, iya. Kamu belum jawab pertanyaan ku, loh."
"Pertanyaan yang mana?" Vivian bertanya sedikit ketus. Dia berusaha membentengi dirinya sendiri atas pesona pria di hadapannya. Terlalu riskan jika berlama-lama dengan orang tajir. Rasa trauma akan lelaki masihlah begitu membelenggunya.
"Bukankah kamu tadi sedang dinner bersama dengan Tuan Ryuki?"
Wajah itu mendongak kaget. "Kok, kamu bisa tahu?" Ups. Vivian langsung menutup mulutnya sendiri saat menyadari jika sudah membongkar rahasia yang sama sekali belum boleh diketahui oleh siapa pun.
Arsyad tersenyum. Dia duduk bersandar, sambil menyilangkan satu kakinya. Menatap penuh perhatian ke arah Vivian. "Aku hanya menebak saja. Tapi, siapa sangka justru kita bisa bertemu di sini," balasnya. "Tapi, itu gak penting sekarang. Yang jelas, apa kamu mau pulang bersamaku?"
"Gak. Terima kasih!" tolak Vivian cepat. Dia segera berdiri dan berniat untuk kabur. Namun, sebuah tangan kembali menahannya. "Lepas!" hardiknya galak.
"Aku gak menerima penolakan, Nona!" Seringainya tak mau dibantah. Dia lalu menarik pergelangan tangan Vivian, membawanya menuju mobil berada. Mengabaikan tatapan penasaran dari dua security dan satu resepsionisnya.
"Dasar pemaksa!" cibir Vivian kesal karena tidak bisa menolak tawaran itu.
"Tapi, kamu suka, 'kan?"