“Lo yakin gak mau gue temenin?” tanya Paul saat sang artis sudah turun dari mobil.
Vivian menggeleng. “Hm. Lagian gue yakin, pacar lo yang entah yang ke berapa itu udah gak sabar nungguin di dalam kamar,” celetuknya begitu santai.
Paul tersenyum menyeringai. “Kalau gitu, gue duluan. Nanti pulangnya naik taksi aja!”
Vivian hanya mengangguk di balik masker. Rada ribet, sih, memang. Akan tetapi, ini semua demi kebaikan bersama. Vivian lalu menatap penuh penilaian akan bangunan yang menjulang tinggi di depannya. "Ya, lumayanlah," pujinya tulus.
Tempat yang terkenal mewah dan diperuntukan hanya untuk kaum berduit ini memang seringkali didatangi oleh para bos. Jadi, Vivian memberi nilai tinggi akan keputusan sahabat baiknya–Andrew– ketika mengambil dua lantai sekaligus untuk digunakan sebagai bar.
Setelah kandasnya hubungan Vivian dan Iqbal beberapa minggu yang lalu, wanita berusia 28 tahun itu memang lebih sering mengurung diri di dalam rumah. Pihak keluarga tentu saja kecewa, bahkan ayah Iqbal langsung memberikan pukulan ke anaknya karena sudah mencoreng nama baik keluarga.
Orang tua Vivian benar-benar kecewa kepada Iqbal. Akan tetapi, setelah melihat anaknya yang hanya diam dan tidak bereaksi apa pun, membuat mereka iba.
Nichole–ibu Vivian– jelas tahu jika Iqbal adalah kekasih satu-satunya sang anak. Jadi, dia tahu sekecewa apa Vivian pada Iqbal. Dia sangat mengutuk keras kelakuan calon menantunya. Jika waktu boleh diputar, dia tidak ingin anaknya berhubungan dengan lelaki tersebut.
Kata Baskara malam itu, “lebih baik ketahuan sekarang, daripada nanti setelah anak saya menikah dengan kamu. Karena apa?" jedanya, "jika saat itu terjadi, bukan hanya ayahmu yang menghajarmu, Nak Iqbal. Tapi, saya sebagai seorang ayah yang membesarkan Vivian sedari kecil, tidak akan segan untuk membuat perhitungan denganmu!”
Perkataan Baskara itu adalah bentuk kekecewaannya terhadap sang calon mantu. Selama ini, dia sudah percaya hingga menyerahkan Vivian agar bisa dibimbing oleh Iqbal. Kenyataannya, dia salah besar. Iqbal justru bermain api di belakang anaknya.
"Sungguh tega dirimu, Nak. Kamu jahat! Kamu benar-benar tidak bisa dimaafkan," ujar Nichole menambahi.
Ketika dirinya sedang sibuk melamun, tiba-tiba terdengar suara seseorang menyapa Vivian.
"Selamat datang Nona Vivi!"
"Oh, iya." Vivian terlihat linglung sambil menundukkan kepala sedikit. "Eh, apa kalian bisa mengantar saya ke atas?" pintanya tanpa mau ambil pusing.
"Silakan, Nona!"
Vivian pun mengikuti langkah penjaga tersebut yang menuntunnya ke lantai di mana bar itu berada. Kini, wanita itu berada di dalam kotak besi bersama beberapa orang, tentunya dengan tujuan yang berbeda, mungkin.
"Bos." Suara dari arah samping Vivian terdengar.
Vivian melirik dari balik mata lentiknya dan menemukan seorang pria muda, berkemeja sedikit kusut tengah menatapnya balik. Wanita itu pun langsung menunduk dan menaikkan maskernya.
"Hm." Pria yang berdiri di samping Vivian kemudian menanggapi walau hanya dengan deheman.
Vivian sendiri memilih untuk melihat kuku jarinya yang baru saja selesai perawatan.
"Tempatnya keren banget." Bisikan itu ternyata masih terdengar hingga telinga Vivian yang kemudian tersenyum di balik masker.
"Kirain itu orang sadar, kalau da seorang Vivian Wheeler di sini," gumamnya lega. Dia pun mencoba mengabaikan pembicaraan dari orang-orang di sekitar dan fokus dengan ponselnya.
Sementara itu, Vivian tidak menyadari jika pria di belakangnya sedang memperhatikan. Dia adalah Arsyad. Dia seolah tahu jika wanita di depannya adalah seorang Vivian Wheeler.
Akan tetapi, dirinya lebih memilih acuh dan fokus pada tujuannya datang ke tempat itu. Lagipula, Arsyad tidak mau membuat lift ini berubah heboh karena mengetahui ada artis terkenal bersama mereka.
"Ayo!" ajak Arsyad pada Brian.
Lift berhenti tepat di tempat di mana dia akan mengadakan pertemuan dengan klien. Namun, langkahnya tertahan karena ada orang yang masuk dengan bawaan begitu banyak. "Loh-loh, kok?" Pria itu pun akhirnya mundur lagi.
"Auw!" Vivian mengaduh kesakitan saat tubuhnya tiba-tiba terdorong ke samping hingga membuat kepalanya terbentur dinding lift.
"Maaf, Mbak. Mbaknya gak apa-apa, kan?" tanya si pemilik barang pada Vivian.
"Yaish! Kok, gue malah kejebak di sini, sih?" Arsyad menggeram kesal karena rapat yang harus dilakukan cukup penting. "Bagaimana ini?" Ketika dia sedang paniknya, aroma vanilla yang sempat membuatnya candu kini terhirup oleh indera penciumannya.
"Eh?" Arsyad langsung menggeleng dan mencoba kembali fokus dengan sekitar. "Hati-hati, Mas!" tegurnya pada orang yang sudah membuat mereka terjebak dalam lift.
Vivian langsung menoleh ke arah pria disampingnya. Dia terkejut lantaran ada yang menegur si pelaku pendorongan, padahal ia tadi sudah siap mendamprat habis orang itu. Matanya menyipit ketika menyadari tampang pria tersebut.
"Ganteng juga ini cowok, wangi lagi. Eh, kok gue ngerasa familiar, yah?" batin Vivian.
Tiba-tiba, bayangan akan kejadian malam di mana dia bersama dengan seorang lelaki tengah bersenggama berputar dalam ingatannya. "Loh, ingatan sapa ini? Kok, gue?" Refleks, tangan Vivian mencengkeram kemeja Arsyad yang hendak pergi meninggalkannya.
Arsyad menoleh, meminta penjelasan akan tangan Vivian yang mencoba menghentikan langkahnya. "Ada apa, Nona?" tanyanya bersikap seolah mereka asing.
"Eung, itu ...."
Vivian menggigit bibir bagian bawahnya di balik masker. Terlihat sekali jika dirinya kini tengah dirundung kebingungan. Ingin bertanya, tetapi takut dikira sok kenal dan sok dekat. Tidak mungkin seorang artis papan atas seperti dirinya melakukan tindakan bodoh dengan orang asing. Yang ada nanti popularitasnya hancur.
Arsyad masih menunggu, tetapi karena lift harus kembali beroperasi membuat dia kembali tertahan di dalam bersama dengan yang lain. "Ckckck, ini orang sebenarnya maunya apa, sih? Masa iya gue yang harus ngomong dan nyapa duluan. Nanti, yang ada gue dikira gila karena sok kenal," batinnya.
"Nona?" Lagi, Arsyad memanggil wanita itu. "Mau sampai kapan Anda memegangi baju saya?"
Vivian masih diam.
"Kalau sampai dalam hitungan ketiga Anda–"
"Apa kita saling mengenal?" Mata jernih milik Vivian kini menatap penuh rasa ingin tahu kepada Arsyad.
Arsyad melirik ke arah sekitar, kosong, dan hanya ada mereka berdua. Satu sudut bibirnya menyeringai, lalu pandangannya turun ke arah masker hitam yang menutupi sebagian wajah cantik Vivian.
Bohong jika dirinya tidak rindu pada Vivian. Dia bahkan sudah seperti orang gila yang terus memimpikan sosok sang artis. Sejak keperjakaannya diambil oleh wanita di hadapan, tidak ada hari selain memikirkannya. Namun, dia tidak ingin membuat anak orang takut atas dirinya.
Apalagi, status Vivian adalah tunangan seseorang. Jadi, perasaan yang dimiliki segera dikubur sedalam-dalamnya. Namun, hari ini pria itu tidak bisa menahannya lagi. Rasa rindunya sudah di ujung tanduk hingga membuatnya terus memojokkan Vivian.
"Apa kau lupa padaku? Hum!"
"Jadi, kuta saling mengenal?" Vivian tidak mengalihkan pandangannya.
"Jika aku bilang aku ini adalah pasangan one night stand malam itu, apa kamu akan percaya?"
"Apa?"
Mata Vivian seketika menutup ketika bibir Arsyad menciumnya. Bukan di bibir, melainkan maskernya.
"Night, Via!" bisik Arsyad di telinga si wanita.