Bab 3. Putus

1128 Kata
"Kenapa gue harus berpura-pura seperti ini?" Vivian bergumam bosan saat harus duduk bersama dengan sang tunangan. Mereka sedang makan malam dan semua sudah diatur oleh Iqbal. Pria itu sendiri terlihat tidak terlalu mendengar gumaman calon istri karena terlalu sibuk dengan pikirannya. "Ekhem!" Iqbal berdeham, menyusun kalimat yang pas untuk berbicara dengan Vivian. Vivian sendiri hanya menatap Iqbal dengan pandangan aneh. Dia sedari tadi hanya mengaduk-aduk makanan, tanpa berniat memakannya. Entah kenapa, sekarang dia tak nafsu makan. Mungkin karena lelaki di depannya? Entahlah. "Vi, ada yang mau aku bicarakan," ucap Iqbal setelah sekian lama terdiam. "Silakan!" balas Vivi seadanya. Dia seolah tidak terganggu dengan tatapan lekat dari Iqbal. Wanita itu justru tetap damai memainkan steak di atas piringnya. "Kita putus!" Iqbal berkata dengan mata tertuju tepat ke dalam manik coklat Vivian. Wanita itu menyeringai. Akhirnya. "Oke," jawab Vivian begitu santai. Seolah-olah, memang kata-kata itu yang sudah ditunggu olehnya. Iqbal yang tadinya terlihat begitu gugup, kini justru dibuat terkejut. "Apa maksud dari perkataanmu?" Vivian menutup mulutnya yang tiba-tiba menguap lebar. Pertemuan ini begitu membosankan. Dia ingin sekali pergi dan kembali tidur di atas ranjang empuknya. Dia baru saja kelar syuting, tetapi harus menemui Iqbal. Jadilah dia yang capek sekarang. Pria itu menatap si kekasih dengan pandangan serius. "Kita putus, Vi!" ulangnya dengan penuh penekanan. "Iya. Terus? Bukannya tadi gue udah okein, ya? Emang lo gak denger?" tanya Vivian sinis. Iqbal semakin dibuat bingung dengan Vivian. "Lo? Gue?" Pria itu terlihat begitu kaget dengan gaya bahasa Vivi yang terlihat begitu berbeda. "Sejak kapan kamu menjadi tidak sopan seperti ini?" Senyum remeh langsung terukir jelas di bibir Vivian. "Ehm, sejak kapan, yah?" Iqbal jelas tidak suka dengan ekspresi Vivian yang begitu menyepelekannya. "Mungkin, sejak lo udah gak peduli lagi sama gue," sambung Vivian dingin. Kini, tidak ada lagi tatapan penuh damba, apalagi cinta. Semua itu sudah hilang satu bulan yang lalu, bersama dengan terbongkarnya rahasia Iqbal dan Sinta yang sedang ninu-ninu di Bali. Mengingat hal itu membuat Vivian mual. "Kamu baru saja berdecih kepadaku?" Iqbal menatap tidak percaya kepada wanita yang selama enam tahun ini bersama dengannya. "Apa kamu tahu jika itu tidak sopan?" Vivian mengedikkan bahu tidak peduli. "Vivi!" tegur Iqbal keras. "Why?" tanyanya malas. Iqbal mengepalkan kedua tangannya di atas meja. Matanya menatap tajam Vivian yang terlihat begitu berbeda. Dia curiga karena satu bulan ini wanita itu begitu cuek, bahkan sekadar untuk mengirim pesan saja sudah tidak pernah. "Apa kamu sudah tidak mencintaiku lagi?" Vivian tertawa hambar. "Serius lo nanya kayak gitu ke gue? Gak salah, tuh? Bukankah seharusnya gue yang nanya kayak gitu ke elo?" "Vivi! Aku gak suka dengan gaya bicaramu itu!" Iqbal semakin dibuat meradang dengan tingkah Vivian yang semakin menjadi-jadi. "Aku ini adalah calon suami kamu!" "What? Calon suami?" Vivian kali ini tertawa begitu keras. Beruntung, ruangan yang disewa oleh Iqbal adalah private room. Jadi, dia tidak takut, kalau ada orang lain yang melihat mereka. "Sumpah, ya! Asli, jijik banget gue dengernya." "Vivi!" sentak Iqbal. "Apa? Lo mau nampar gue?" Vivian menatap nyalang ke arah Iqbal yang kini tengah berdiri di hadapannya sambil mengangkat satu tangan ke udara. "Tampar aja gue!" Disodorkan pipinya sengaja ke depan. "s**t!" Iqbal mengepalkan tangannya di udara. Dia pun akhirnya melengo ke arah lain. Niat hati ingin menggertak sang calon istri karena telah berubah. Nyatanya, justru dia yanh dibuat semakin naik darah. "Kenapa gak jadi? Apa lo takut jika media sampai mencium kelakuan b***t lo itu? Hah!" Vivian menyeringai, apalagi saat melihat Iqbal yang kini tengah kebingungan menatap dirinya. "Apa maksud kamu?" Iqbal langsung duduk kembali, tetapi matanya begitu awas melihat ke arah sang calon istri. Vivian justru begitu santai. Duduk bersandar sambil menyilangkan satu kakinya. Tatapan intimidasi dari Iqbal pun diabaikan olehnya. "Apa lo ingat kejadian satu bulan yang lalu?" Kening Iqbal mengernyit samar. "Maksud kamu?" tanya pria itu tidak paham "Ah, sebentar. Gue hampir lupa, kalau punya sesuatu buat lo." Vivian dengan tenang mengutak-ngatik ponselnya, lalu mengirimkan pesan kepada Iqbal. "Buka, gih!" Iqbal melihat pesan yang dikirimkan Vivian untuknya. Dia sendiri masih belum mengerti maksud dan tujuan sang tunangan mengirimkan sebuah video padanya. "Apa ini? Dan kenapa kamu justru ngirimin video ke aku?" "Buka saja! Nanti, lo juga bakalan tahu sendiri, kok." Iqbal lalu mencoba membuka video itu dan pertama hal yang telinganya dengar adalah suara desahan. Selanjutnya, pria itu langsung melempar ponsel ke atas meja. "Apa-apaan ini? Kenapa kamu mengirim video itu kepadaku?" "Gak ada apa-apa. Hanya ingin membantumu supaya bisa lepas dari tanggung jawab jika nanti ditanya oleh orang tua kita. Tentang alasan batalnya pertunangan kita!" Vivian sengaja menekankan kalimat akhir yang diucapkan. "Hentikan omong kosongmu itu, Vi!" Muak. Ekspresi itu tergambar jelas di wajah Iqbal saat mendengar pengelakan Vivi tentang alasan dibalik kecuekan si kekasih. "Gue gak pernah bicara omong kosong, Bal!" ujarnya penuh percaya diri. "Bukankah seharusnya lo yang jelasin video itu ke gue!" "Apa maksud kamu? Video apa?" Iqbal memang tidak melihat siapa aktor dan aktris dari video tersebut. Jadi, wajar saja dia tidak mengerti maksud ucapan Vivian. "Bukannya lo selama ini ada main sama sekretaris lo itu di belakang gue?" Skakmat. Wajah Iqbal langsung berubah pucat. Namun, dia segera mengelak. "Aku sama dia itu gak ada hubungan apa-apa, Vi. Kamu gak usah mengalihkan pembicaraan kita, deh. Aku tau, kamu pasti sedang mencari-cari alasan agar dirimu bisa lari dari semua kesalahanmu, 'kan?" Vivian membuang wajahnya kesal sambil mengepalkan tangan di bawah meja. Dia menggeleng tidak percaya jika Iqbal begitu keras kepala menyanggah semua tuduhannya. Dan sekarang, pria itu justru memojokkannya. "Tidak ada hubungan apa-apa?" Vivian menyeringai sinis. "Lalu, jika di antara kalian memang tidak ada hubungan apa-apa, kenapa harus sampai check in di hotel yang sama? Dan, bukankah dua orang yang ada di video itu adalah kalian?" "Kami sedang ada kerjaan, Vi!" Iqbal masih mencoba mengelak, tapi segera dibalas dengan dengkusan keras Vivian. "Lagian, ma--na mungkin aku sama dia begituan. Gak usah ngaco, deh!" "Terus aja ngelak!" Senyum yang diperlihatkan oleh Vivian begitu mengejek. Vivian berdiri dan mengambil ponsel Iqbal yang ada di lantai, kemudian menyalakan kembali video itu. "Kerjaan apa yang mengharuskan seorang bos mendesah, bahkan sampai dengkul si sekretaris bergetar? Katakan, b*****t! Kerjaan apa itu?" Iqbal menggeleng panik. "I--tu Sinta yang jebak aku, Vi! Sumpah!" "Hentikan, Mas! Untuk terakhir kalinya, terima kasih atas enam tahun yang telah kau berikan untukku. Jujur, aku kecewa," jedanya untuk menelan keras, "dan sampai kapanpun yang namanya perselingkuhan ... itu tidak akan pernah bisa dibenarkan." "Vi, tolong dengerin penjelasanku dulu!" "Lepas! Jangan pernah sentuh gue lagi!" Mata Vivian menatap jijik dan penuh benci ke arah Iqbal. "Kita putus! Dan jangan lupa, bereskan semua kekacauan ini sendiri! Gue mau lo yang menjelaskan semuanya sama orang tua kita!" Sebelum pergi, Vivian mengambil gelas yang berisi setengah jus strawberry miliknya, lalu menumpahkan tepat di atas kepala Iqbal. "Mati aja lo sana ke laut!" tambah Vivian dengan senyum jijik.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN