"Gue nggak tahu, kalau elo bisa sebege itu. Entahlah, Vi. Gue bener-bener nggak ngerti sama jalan pikiran lo. Dia jelas udah nyakitin dan ninggalin lo cuma buat menuhin na_fsunya tentang masalah ranjang. Harusnya elo senang, bangga bisa lepas dari orang seperti Iqbal," kata Paul menggebu-gebu. Paul membuang napasnya. Dia menatap Vivian yang kini hanya bisa terdiam di sofa tanpa melawan, atau menyanggah ucapannya. "Jangan hanya karena cinta, lo jadi buta dan justru menerima dia lagi! Sadar, Vi. Iqbal bukan lelaki yang baik!" lanjutnya frustasi. "Gue nggak tahu sama apa yang ada dalam hati gue, Bang. Jujur, gue emang masih sayang sama Iqbal. Tapi, gue juga sakit hati sama apa yang telah dia lakukan sama gue." Vivian menatap Paul dengan mata berkaca-kaca. "Gue udah berusaha buat lupain di

