Bab 18 Dokter

1514 Kata

Bukan Brian namanya jika dia menurut. Ketika mobil yang mereka tumpangi harunya belok, dia justru dengan sengaja tetap lurus. Pria itu menatap sang bos yang kini tengah memejamkan mata di kursi belakang dan inilah kesempatan yang bagus untuk menjalankan rencananya. "Tuan kita sudah sampai." Mobil CRV itu kini sudah memasuki sebuah gedung tinggi di mana seseorang yang bisa membuat mood tuannya membaik berada. Dia melihat ke arah belakang, lalu fokusnya ke arah tangan terluka milik sang CEO. Si sekretaris meringis karena luka itu belum juga diobati dan hanya dibebat asal dengan sapu tangan sekadarnya. “Apa sudah sampai?” tanya Arsyad. Dia membuka matanya, lalu melihat ke arah luar jendela dan menemukan sebuah tempat yang sama sekali tidak ingin dikunjungi. “Apa kamu mau mati, hah?” Brian

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN