Arsyad masih diam, memandang wajah Vivian yang begitu dekat dengan dirinya. Aroma vanilla kembali menyapa indera penciumannya. Sungguh membuat candu hingga tidak rela jika suatu saat nanti dia tidak bisa lagi menghirup aroma tersebut di dalam hidupnya. Vivian sendiri juga tengah sibuk meneliti setiap inci wajah pria di bawahnya. Mata itu begitu indah hingga membuat betah berlama-lama memandanginya. Hidung mancung, kedua alis yang begitu tebal, serta bibir pria itu mampu membuat siapa pun ingin sekali menciumnya. Tunggu dulu! Aroma apa ini? Kenapa gue ngerasa gak asing, ya? Vivian terus mengendus wangi di sekitarnya hingga membuat lesung pipi pria di bawahnya kembali muncul. “Eh!" Sadar jika dirinya terlalu nyaman berada di atas tubuh itu, dia pun segera bangun dengan canggung. “Apa waja

