Kara menambahkan garam, kecap, dan bumbu penyedap makanan ke dalam nasi goreng yang tengah dimasaknya. Pagi ini, berhubung Si Bibi sedang pulang kampung untuk menjenguk suaminya, Kara pun terpaksa menyiapkan sendiri sarapan untuknya dan Redy.
Kara meraih sendok di dekatnya lalu menyendok nasi goreng yang ada di wajan dan memakannya. Cewek itu mengunyahnya perlahan, mencoba merasakan rasa nasi goreng buatannya.
"Kurang asin," gumam Kara seraya mengambil wadah kecil berisi garam lalu menambahkannya lagi ke dalam wajan.
Setelah dirasa nasi goreng tersebut matang, Kara segera mematikan kompor lalu menghidangkan masakannya itu pada dua buah piring kaca. Ia menaruh piring tersebut di meja makan lalu beralih ke wastafel untuk mencuci tangan.
"Nasi goreng, ya?" ujar Redy yang tahu-tahu sudah duduk di kursi makan dengan seragam abu-abunya. Cowok itu mengelap sendok dengan tisu sebentar kemudian menyuapkan nasi gorengnya ke dalam mulut.
"Gimana? Enak 'kan?" Kara menarik kursi di sebrang Redy lalu menatap cowok itu tak sabar.
Setelah berhasil menelan makanannya, Redy tersenyum lebar. "Nih, mending lo coba sendiri," cetus cowok itu sambil mengulurkan tangannya untuk menyuapi Kara.
Kara sedikit merengut tapi tak urung tetap memakan nasi goreng yang telah disodorkan oleh Redy.
Satu detik...
Dua detik...
Tig--
"HUEEK!" Kara buru-buru mengambil gelas yang ada dalam jangkauannya lalu meminum airnya sampai habis. "Kok asin banget, sih?!" kata cewek itu sewot.
Redy cuma bisa geleng-geleng kepala sambil memutar bola matanya. Cowok itu meneguk minumannya dengan santai tanpa membalas perkataan Kara.
"Ini sih bukan nasi goreng! Tapi nasi garam!" gerutu Kara, memaki-maki hasil masakannya sendiri.
"Iya, bener. Siapa ya, yang masak?" sindir Redy.
Kara memberikan tatapan membunuhnya pada Redy. Namun cowok itu tetap tak acuh, berpura-pura enggak sadar. "Masakan gue biasanya enak kok." Kara berusaha membela diri.
Redy menghela napas. Kalau kayak gini sih, sama aja bohong. Posisi Si Bibi dalam hal masak-memasak memang sama sekali enggak bisa digantikan oleh Kara. Dan Redy sendiri baru sadar, walaupun Kara itu memang seorang cewek, tapi jiwanya tetaplah bukan jiwa seorang cewek.
Seolah baru teringat sesuatu, Redy tiba-tiba mencondongkan badannya ke depan lalu menatap Kara penuh selidik. "Sewaktu di rumah, lo suka bantu nyokap atau pembantu lo buat beres-beres rumah, nggak?"
"Enggak."
Redy menepuk jidatnya depresi. Bahu cowok itu terkulai lemas, membuat Kara sedikit bingung terhadap reaksi Redy yang mendadak aneh itu. Sejurus kemudian, Redy bangkit dari kursi dengan tangan yang membawa dua buah piring berisi nasi goreng buatan Kara tadi.
"Eh, nasi gorengnya mau di apain?" Kara ikut beranjak dari kursinya dan menghampiri Redy yang tengah berusaha menyalakan kompor.
"Kalau nasi goreng ini keasinan, berarti takaran kecapnya juga harus ditambah," ucap Redy sok tahu. Cowok itu menumpahkan semua isi nasi gorengnya ke dalam wajan lalu menambahkan kecap banyak-banyak.
Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Kara diam di sebelah Redy sambil terus mengamati pergerakan cowok itu yang sedang asik memasak nasi goreng.
Beberapa menit kemudian, nasi goreng buatan Redy telah siap. Cowok itu menghidangkan nasi goreng buatannya di piring tadi.
"Perasaan gue kok gak enak, ya," gumam Kara sambil menyendok nasi goreng buatan Redy dan memasukannya ke dalam mulut.
Sementara itu, di sebrang sana, Redy terus memandangi Kara lekat, menunggu komentar cewek itu dengan tak sabar.
"Gimana? Lebih enak dari yang tadi 'kan?"
Setelah menyesap minumannya, Kara berdeham dan berkata sok formal, "Lebih baik Saudara Redy coba sendiri."
Redy mencibir sekilas lalu mulai memakan nasi gorengnya. Namun, belum sampai dua detik, raut wajah cowok itu langsung berubah jadi aneh.
"Apa-apaan, nih? Kok manis banget? Ini sih bukan nasi goreng! Tapi nasi kecap!" maki Redy pada masakannya sendiri.
• • •
Tok Tok Tok
Mendengar suara pintu rumahnya di ketuk, Mama Aldan segera bergegas membukakan pintu. Wanita paruh baya itu tersenyum hangat pada seseorang di hadapannya.
"Papa Kara, ayo masuk," katanya ramah sembari membuka pintu lebar-lebar.
"Ya, terimakasih," balas Papa Kara seraya masuk ke dalam dan duduk di sofa setelah Mama Aldan mempersilahkannya.
"Mau minum apa, Pak?" tawar Mama Aldan.
Papa Kara menggeleng sopan. "Tidak usah, Bu. Saya cuma sebentar disini."
"Oh, iya, iya." Mama Aldan manggut-manggut lalu membetulkan posisi duduknya. "Masalah Kara ya, Pak?"
Papa Kara terkekeh kecil dan mengangguk. "Selama anak saya tinggal disini, apa dia tidak merepotkan?" tanya Papa Kara sedikit malu.
"Enggak, Pak. Kara anak yang baik. Dia sering bantuin saya bikin kue pesanan pelanggan," jawab Mama Aldan sambil tersenyum. "Tapi sayangnya, saat ini Kara ngekos, Pak. Dia bilang, udah terlalu banyak merepotkan Aldan."
Papa Kara mendengus. "Anak itu. Apa dia juga enggak merasa telah banyak merepotkan bapaknya," gerutu pria baruh baya itu pelan. Namun sejurus kemudian, Papa Kara kembali memasang senyum sopannya. "Kalau Kara mulai berulah, Ibu tidak perlu sungkan menelpon saya. Anak itu memang bandel, tidak pernah bisa menurut pada orangtua."
"Wajar, Pak, kalau anak bandel. Terkadang, enggak selamanya anak-anak harus menuruti apa yang jadi kemauan kita," kata Mama Aldan sembari tersenyum kecil. "Ada saatnya dimana kita yang menurut pada kemauan anak."
Papa Kara menghela napas berat. "Tapi, Ibu tahu sendiri 'kan? Anak jaman sekarang itu susah diatur! Sekalinya diberi kebebasan, mereka malah menyalahgunakan kepercayaan kita."
"Nah, oleh sebab itu, peran kita sebagai orangtua adalah menuntun anak untuk tetap di jalurnya," balas Mama Aldan sabar. "Kita memang memberikan kebebasan terhadap anak kita, tapi bukan berarti kita harus melepasnya dan membiarkan mereka menyusuri jalan pilihannya sendiri. Kita tetap bersama anak-anak kita dan menuntun mereka untuk menyusuri jalan yang telah mereka pilih."
Papa Kara langsung tertegun begitu mendengar penuturan dari Mama Aldan barusan. Kalau boleh jujur, hatinya merasa sedikit tersentuh terhadap apa yang Mama Aldan katakan. Apa yang dibilang wanita itu memang ada benarnya, tapi hati kecil Papa Kara tetap menolak dan mengatakan kalau keputusannya untuk mengekang Kara adalah keputusan yang terbaik.
"Tetapi, apa yang menjadi pilihan mereka belum tentu yang terbaik untuk mereka." Papa Kara mencoba membantah pernyataan wanita yang ada di hadapannya.
Sambil tersenyum lembut, Mama Aldan menjawab, "pilihan orangtua pun belum tentu pilihan yang terbaik untuk anak."
Papa Kara bungkam. Pria paruh baya itu bingung harus menjawab apa. Lagi-lagi, apa yang dikatakan Mama Aldan memang ada benarnya juga.
"Pak, kita harus bisa membedakan mana yang terbaik untuk kita dan mana yang terbaik untuk anak." Mama Aldan kembali bersuara. "Yang terbaik untuk kita, belum tentu yang terbaik untuk anak."
Dengan muka masamnya, Papa Kara menyahut, "Orangtua itu dimana-mana lebih berpengalaman ketimbang anak-anak. Mereka justrulah lebih tau mana yang baik dan mana yang tidak."
Belum sempat Mama Aldan membuka mulut untuk bicara, Papa Kara langsung memotongnya cepat dengan dehaman keras. "Sudah sore, sebaiknya saya pulang," katanya seraya bangkit dari sofa, mencoba mengakhiri perdebatan yang terjadi diantaranya dengan Mama Aldan.
Setelah pamit dan bersalaman dengan Ibu dari sahabat anaknya itu, Papa Kara langsung melangkahkan kakinya dengan cepat memasuki mobil.
Pria paruh baya itu menarik napas dalam-dalam dan terdiam sejenak dalam mobilnya. Semua yang dikatakan oleh Mama Aldan kembali berputar di otaknya bagai kaset rusak.
Bagaimanapun, penuturan panjang lebar Mama Aldan tentang bagaimana cara mendidik anak memang tidak salah. Namun sayangnya, sebagian dalam diri Papa Kara tetap menyangkal hal itu. Ia bersikeras kalau didikannya pada Kara adalah yang paling benar. Buktinya aja, saat ini, Papa Kara bisa sukses berkat didikan keras dari Ayahnya.
Oleh sebab itu, Papa Kara ingin menerapkan didikan dari Sang Ayah untuk Kara agar kelak putrinya itu bisa sukses seperti dirinya. Semua ini Papa Kara lakukan bukan semata-mata karena ia egois, tapi karena ia ingin yang terbaik untuk Kara, anak semata wayangnya.
Andai saja Kara tahu, kalau papanya langsung menangis setelah pertengkaran beberapa malam lalu. Papa Kara terlalu menyayangi Kara, itulah alasan kenapa ia marah besar begitu mendapati putrinya pulang larut malam. Selain itu, Papa Kara juga telah berjanji kepada istrinya sebelum meninggal untuk terus menjaga Kara sampai kelak ia menyusul istrinya nanti. Jadi, sebisa mungkin Papa Kara takan pernah membiarkan sesuatu terjadi pada Kara.
Apapun itu.
• • •
Redy menyapu pandangannya ke sekeliling. Tampak ada banyak orang berlalu lalang di sekitarnya. Mereka semua sedang membawa kantung belanja besar di kedua tangannya. Baik itu hari libur maupun hari kerja, mall memang tidak akan pernah sepi akan pengunjung.
Setelah berkeliling selama kurang lebih sepuluh menit, akhirnya Redy berhasil menemukan toko yang sedang dicarinya. Ia melangkah cepat memasuki pintu kaca toko tersebut dan tersenyum lebar.
"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" ucap salah seorang karyawan yang tengah berdiri di balik meja kaca berisikan perhiasan-perhiasan berkilau.
Redy mengangguk lalu menjawab, "saya mau ambil pesanan kalung atas nama Redifa Redaffani."
"Sebentar ya, saya ambilkan," kata karyawan itu lalu berlalu.
Redy cuma balas mengangguk singkat dan tersenyum kecil. Cowok itu sibuk mengamati berbagai perhiasan yang dipajang di dalam lemari kaca sembari menunggu karyawan tadi kembali. Redy mengira-ngira kalau harga perhiasan yang ada dalam lemari tersebut pasti enggak beda jauh dengan harga kalung pesanannya. Sama-sama mahal.
Beberapa menit kemudian, karyawan tadi datang dengan sebuah kotak kecil berwarna merah di tangannya. Ia menyerahkan kotak tersebut kepada Redy beserta dengan kwitansi pembayaran.
"Ini kalung pesanan Bapak, bisa dicek terlebih dahulu," kata karyawan itu ramah.
Redy pun membuka kotak tersebut. Terdapat sebuah kalung dengan bandul berbentuk tubuh kucing di dalamnya. Bandul kucing tersebut berkilau-kilau indah, membuat ujung-ujung bibir Redy refleks tertarik ke atas.
Setelah memastikan bahwa itu memang benar kalung pesanannya, Redy merogoh dompet dalam saku celananya lalu membayar kalung tersebut dan bergegas pulang.
Sepanjang perjalanan, Redy tak dapat menahan senyumnya yang mengembang. Kaila merupakan tipe cewek pecinta kucing, itulah sebabnya kenapa Redy memesan bandul berbentuk tubuh kucing sebagai pelengkap kalung tersebut. Dan ia sendiri yakin, kalau Kaila pasti menyukai kalung pemberiannya itu.
Redy mengeluarkan ponselnya dari saku celana lalu mengetik pesan untuk seseorang yang tak lain adalah Kaila.
Redy: Pulang sekolah besok jangan balik dulu ya
Tak lama kemudian, terdapat tanda R di samping pesan yang telah Redy kirim. Setelah beberapa menit menunggu dan tetap tak ada juga balasan dari Kaila, Redy pun memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku. Walaupun enggak ada balasan yang berarti, setidaknya Kaila sudah membaca pesan itu.