Chapter 09

2187 Kata
"Kara! PR kimia udah belum?" seru seorang cewek berambut ikal yang biasa dipanggil Momo. Kara berjengit kaget lalu mendengus. Cewek itu berjalan menuju tempat duduknya dan menaruh tas di meja. "Udah," balas Kara malas-malasan. Kebiasaan, nih. Baru juga dateng, udah di todong PR. "Woy! Master udah ngerjain PR kimia, coy!" teriak Farhan, Si Ketua Kelas, dengan toanya. Kontan segerombolan anak yang sedang mengerjakan PR di pojokan pun langsung menoleh dan menatap Kara dengan mata berbinar. Mereka semua berseru kompak, "Alhamdulillah!" Detik berikutnya, segorombolan itu langsung berlarian ke meja Kara dengan ganas. Mereka semua berlomba-lomba agar bisa mendapatkan tempat untuk mencotek yang nyaman. Bahkan, sampai ada beberapa anak yang berlari di atas meja saking enggak mau kecolongan tempat. "Kenap--Eh! Jangan tarik--Woy! Bukunya di tengah!" Kara ikutan heboh sendiri sambil menjitak satu per satu anak-anak yang asal menarik bukunya. "Sampe buku gue robek, pulang nanti bakal jalan pincang!" "Iyaaaa!" Semua anak menjawab kompak, kecuali Aldan. "Bawel banget ah, Nenek rombeng," celetuknya asal. Tanpa aba-aba terlebih dahulu, Kara langsung menendang Aldan yang saat itu tengah ikut menyontek PR berjamaah dengan posisi nungging. "Bangke," umpat cowok itu sembari mengelus-ngelus pantatnya yang tadi di tendang oleh Kara. Ia bangkit dari posisi nunggingnya dan melotot ke arah Kara. "Bilang dulu kek kalau mau nendang!" Kara mencibir. "Gue liat-liat kayaknya lo gak pernah absen nyontek PR gue, ya?" "Lo 'kan ta--ITU TEMPAT GUE!" Belum selesai cowok itu bicara, ia langsung berteriak sewaktu melihat orang lain merebut tempatnya. Aldan menghampiri Niko yang tengah telungkup lalu menarik kakinya menjauh. "Apaan lo nyolong tempat gue?!" "Siapa cepat, dia dapat!" "Pala lo cepat dapat! Minggir! Mau kaki lo ilang satu?!" Mengerjakan PR di waktu kepepet itu bisa merubah perilaku anak-anak secara drastis. Contohnya aja teman-teman sekelas Kara. Mereka semua berubah jadi ganas dan agresif, tak terkecuali Aldan. Sambil bersungut-sungut, Niko pun menyingkir dari tempatnya, meninggalkan Aldan yang kembali sibuk dengan buku kimianya. Kara mendengus lalu berteriak, "khusus buat Aldan jangan nyontek PR gue!" Mendengar teriakan Kara barusan, kontan seluruh anak pun langsung mendorong dan menggeser Aldan menjauh. Kara cuma bisa terkikik sendiri melihat Aldan mendadak panik karena dikeluarkan dari saf-nya. "Tuh, Dan, enyahlah dari sini." "Hayolo Aldan, nggak diizinin nyontek sama Master." "Minggir, Dan, minggir. Lo udah enggak termasuk barisan jamaah ini." Berbagai olokan yang keluar dari mulut anak-anak membuat Kara semakin tergelak. Cewek itu terbahak keras sambil memukul-mukul meja. Aldan sendiri cuma merengut kesal dan pergi dengan buku kimianya. "Kar, serius, Kar! Danger nih gue. Kimia pelajaran pertama. Tega amat," rengek Aldan sambil menyenggol-nyenggol bahu sahabatnya itu. "Kerjain sendiri!" ucap Kara disela tawanya. Cewek itu sama sekali enggak peduli dengan tampang memelas yang dipasang oleh Aldan. Aldan balas mendengus lalu cemberut. Namun detik berikutnya, seakan baru teringat sesuatu, wajah cowok itu mendadak jadi sumringah. "Lo izinin gue nyontek entar gue kasih tau sesuatu!" Kara menghentikan tawanya dan memasang wajah serius. "Sesuatu apa?" Aldan nyengir dengan alis naik-turun. "Tapi gue nyontek kimia lo, ya?" "Iya, iya!" Kara mengibaskan tangannya risih. "Apaan? Sesuatu apa?" "Kemarin siang, bokap lo dateng ke rumah gue. Dia nanyain lo," jawab Aldan. Kara terdiam. Butuh waktu cukup lama untuk cewek itu bisa mencerna apa yang dikatakan oleh Aldan. Papanya? Mencari dia? Antara setengah percaya dan tidak percaya, Kara memastikan, "nanyain gue?" Aldan mengangguk. "Iya. Lihat 'kan? Dia enggak sepenuhnya marah dan ngusir lo. Waktu itu, dia cuma kebawa emosi doang." Kara enggak menjawab. Terlalu banyak pikiran yang berkelebatan dalam otaknya. Kenapa Papa nanyain gue? Bukannya dia udah enggak peduli? Batin Kara. Melihat tak ada tanda-tanda Kara akan bicara lebih lanjut, Aldan pun memutuskan untuk bersuara. "Kar, gue nyontek, ya?" pintanya. Kara mengangguk kecil tanpa benar-benar menanggapi ucapan Aldan barusan. Setelah mendapatkan anggukan setuju dari Kara, Aldan cepat-cepat kembali ke barisannya untuk mengerjakan PRnya yang belum sempat selesai. Tepat sedetik setelah cowok itu terduduk nyaman di lantai bersama anak-anak yang lain, bel masuk kelas pun berbunyi. TEEETTTTT "Kampret." • • • Redy mengamati kotak merah di tangannya dengan gugup. Hari ini, cowok itu akan mengatakan semuanya pada Kaila. Permintaan maaf, penjelasan kenapa dia menjauh dari Kaila, alasannya memutuskan Kaila, serta pernyataan perasaannya pada Kaila. Kalau seandainya Kaila menolak untuk balikan dengan Redy, yang terpenting saat ini adalah cewek itu sudah tahu perasaan Redy yang sebenarnya. Atau minimal, mereka bisa kembali bersahabat seperti dulu. Dengan begitu, setelah semuanya beres, perlahan Redy akan mulai mendekati Kaila lagi. Dengan jantung yang berdegub cepat, Redy memasukan kembali kotak merah itu ke sakunya dan melangkah menuju rest area, tempat yang telah ia dan Kaila janjikan untuk bertemu. Sesampainya disana, tampak Kaila sedang terduduk di kursi panjang cokelat dekat pohon mangga. Redy mengatur napasnya sebentar lalu berjalan menghampiri Kaila. "Kaila! Sori ya lama," sapa Redy, berusaha terlihat sesantai mungkin. Kaila menoleh lalu bangkit. Cewek itu melipat kedua tangannya di depan d**a dan menatap Redy datar. "Udah biasa kok." Redy sempat terpaku dan menghentikan langkahnya sebentar. Namun sedetik kemudian, cowok itu berusaha memasang wajah normalnya dan tersenyum. "Lo enggak buru-buru 'kan?" tanya Redy setelah berhasil berdiri di hadapan Kaila. Kaila melirik arlojinya sekilas. "Nope." "Oke." Redy mengembuskan napas tertahannya dan berkata, "gue mau ngejelasin sesuatu." "Jelasin," pinta Kaila pendek. Setelah mati-matian mengatur degup jantungnya yang tak terkontrol, Redy pun bicara. "Alasan gue mutusin lo dua tahun yang lalu itu bukan karena gue bosen atau nggak sayang lo lagi. Gue terpaksa. Lo sendiri jelas tahu itu 'kan?" Kaila enggak menjawab. Cewek itu cuma menatap Redy dengan tatapan yang sulit diartikan. "Lo masih inget sahabat kita?" tanya Redy. Namun karena Kaila tak juga menjawab, cowok itu melanjutkan, "dia nyimpen perasaan terhadap lo, Kai. Dan gue... gue nggak mau ngebiarin sahabat kita terluka karena hubungan kita." Kaila tertawa sinis. "Jadi, lo lebih memilih gue yang terluka?" Mulut Redy yang sempat terbuka untuk melanjutkan penjelasannya, kini terkatup rapat karena pertanyaan Kaila barusan. "Alasan lo mutusin gue waktu itu adalah karena lo kepengen gue jadian sama dia 'kan? Gitu?" tanya Kaila lagi. "Lo ngerelain gue sama dia, Re? Itu maksudnya?" "Gue..." "Lo bahkan nggak sedikitpun merjuangin gue. Lo malah ngebiarin gue sama dia. Dan gue pikir, mungkin gue juga nggak perlu merjuangin lo. Semuanya cuma sia-sia." Kaila tertawa sumbang. Cewek itu menarik napas sebentar lalu melanjutkan, "lo tahu? Mungkin hubungan kita bisa berakhir. Tapi, gue enggak pernah mau persahabatan kita ikut berakhir. Setelah kita putus, gue mencoba untuk memperbaiki persahabatan kita. Gue selalu nyapa lo, ngajak lo ngobrol, ngajak lo ke kantin, dan ngedeketin lo lagi. Tapi apa? Lo malah ngejauh. Lo ngejauh seakan nggak mau kenal gue lagi." Redy bergeming mendengar semua penuturan dari Kaila. Semua kata-kata cewek itu sukses membuat jantungnya serasa mencelos. Untuk yang kesekian kalinya, lagi-lagi Redy kehilangan kata-kata. "Gue pikir, mungkin lo emang enggak mau lagi berhubungan sama gue, walaupun itu cuma sebatas sahabatan. Akhirnya, gue putusin buat berhenti. Gue berhenti buat ngejar-ngejar lo. Gue berhenti buat memperbaiki persahabatan kita. "Tapi tiba-tiba aja lo datang. Setelah sekian lama kita enggak pernah berhubungan lagi, tiba-tiba lo kembali. Lo datang lagi seakan mencoba untuk memperbaiki hubungan kita, Re. Lo ngebuat gue berharap lagi. Dan sekarang gue tanya, apa saat ini lo punya seseorang yang perasaannya harus lo jaga?" Kaila menatap Redy dengan tatapan menusuknya. "Kali aja lo mau ngejaga perasaan dia dan ngorbanin gue lagi," sambung Kaila sarkas sambil tertawa. "Kaila--" "Tapi tenang aja, Re. Lo tahu 'kan? Gue cukup pintar untuk enggak jatuh ke lubang yang sama. Jadi, usaha lo saat ini cuma sia-sia. Lagipula, bukannya gue udah bilang? Gue gak akan pernah bisa jatuh cinta pada orang yang sama. Gue gak bisa jatuh cinta sama lo untuk yang kedua kalinya," celoteh Kaila. "Dan satu hal lagi yang mesti lo tau, Redifa." Rahang Redy mengeras. Cowok itu mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ia menatap Kaila tajam dengan manik hitamnya yang semakin menggelap. "Perasaan itu enggak bisa dipaksa." Kaila menyunggingkan senyum manisnya. "Jadi, berhenti ngejar-ngejar gue. Berhenti berharap hubungan kita bakal kayak dulu lagi. Berhenti." Mendengar kata terakhir yang Kaila ucapkan, Redy refleks tersenyum hambar. Perasaan serta pikiran cowok itu mendadak kacau dan berantakan. Redy nggak pernah menyangka kalau Kaila sanggup memukulnya telak hanya dengan kata-kata yang diucapkannya. Sedikitpun, Redy tak mampu membalas perkataan Kaila. Otaknya menolak untuk memikirkan kata-kata yang tepat. Saat ini, Redy sangat ingin memukul sesuatu yang keras. Ia tidak peduli lagi dengan luka yang akan di dapatkannya. Karena sampai kapanpun, luka itu takkan pernah bisa sebanding dengan rasa sakit yang kini dirasakannya. Sejurus kemudian, Redy menyunggingkan seringai tipis dengan sebelah alis terangkat. Kalau memang ini yang diinginkan Kaila, maka Redy akan dengan senang hati meladeninya. "Lo pikir alasan gue ngejar-ngejar lo saat ini adalah karena gue berharap kita bakal balikan?" tanya Redy sambil tertawa keras. "Kaila, Kaila... Dari dulu enggak pernah berubah, ya?" Kaila mengerutkan keningnya bingung. "Gue cuma mau ngejelasin semuanya supaya enggak ada salah paham lagi. Tapi ternyata, lo udah tau yang sebenarnya," ucap Redy lirih. Cowok itu menelan bulat semua kata-kata yang telah disusunnya rapih untuk nanti di jelaskan pada Kaila. Setelah sempat hening beberapa detik, Redy kembali bersuara. "Kalau seandainya... gue punya orang yang perasaannya harus dijaga, gimana?" tanyanya pelan. Kaila terlihat sedikit terkejut, tapi dengan cepat menormalkan wajahnya. "Oh ya? Siapa dia? Lo nggak bakalan ngorbanin perasaan dia 'kan?" "Ng--" "Gue nggak mau kejadian gue menimpa dia. Lo harus baik-baik sama dia, Re. Lo harus jagain--" "Dia cewek gue," potong Redy cepat dengan tatapan dinginnya. "Tanpa harus lo kasih tau, gue udah pasti jagain dia." Kaila sempat mengerjapkan matanya sebentar lalu terkekeh. Cewek itu sedikit membuang pandangannya dari Redy. "Lo bisa ngenalin cewek lo ke gue, nggak? Oh, jangan! Lo harus ngenalin cewek lo itu ke gue sama dia. Gimana? Mau 'kan?" Redy menatap Kaila tak percaya. Apa cewek itu sama sekali enggak merasa cemburu sewaktu tahu kalau Redy punya pacar baru? Jadi, Kaila memang benar-benar nggak punya perasaan apa-apa lagi terhadap Redy? Mengetahui fakta satu itu, tubuh Redy jadi lemas seketika. "Lo masih anggap gue dan dia sahabat lo 'kan?" tanya Kaila sedikit ragu. Redy mengangguk pelan lalu menunduk. "Bagus! Lusa lo kenalin dia, ya?" Redy mengangguk lagi. Kaila tersenyum sumringah lalu menepuk pundak Redy. "Akhirnya kita bisa sahabatan lagi! Udah sore, nih. Gue balik dulu, ya? Dah!" Dengan langkah cepat, Kaila meninggalkan Redy yang masih bergeming di tempatnya. Sepeninggal Kaila, Redy langsung termenung memikirkan semua ucapannya beberapa menit yang lalu. Pacar? Bahkan Redy saja baru berharap untuk bisa mendapatkannya hari ini. Mengenalkan pacarnya pada Kaila? Justru Kaila lah yang seharusnya jadi pacar Redy agar Redy bisa mengenalkannya pada orang lain. Redy tertawa miris. Semua tak berjalan sesuai dengan harapannya. Sejurus kemudian, ia mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celananya. Semua rencana yang telah Redy susun rapih pun kini berantakan. Termasuk rencana menyatakan perasaan dan memberikan kalungnya pada Kaila. Redy mengamati kalung yang ada di tangannya dengan tatapan kosong. "Apa harus gue buang?" • • • Dengan malas, Kara berjalan gontai menuju pintu depan tempat kosannya yang tidak lain adalah kontrakan Redy. Ia melepas sepatunya asal-asalan lalu mengetuk pintu. "Sepupunya Aldan! Buka pintunya, dong!" seru Kara. Lima menit kemudian, Redy tak juga keluar untuk membukakan pintu. Kara mengernyit bingung lalu melihat jam di ponselnya. Pukul 6:45. Apa Redy belum pulang, ya? Batin Kara. Cewek itu kembali menggedor-gedor pintu namun tetap tak ada jawaban. "Kemana sih itu orang? Masa jam segini belum balik? Gue aja yang abis latihan basket, jam segini udah balik kok. Enggak ngerti rumah kosong apa?!" Kara terus menggerutu. Frustasi karena Redy tak juga keluar, Kara menarik handel pintu kasar dan pintu pun terbuka. Cewek itu melongo di tempat. Pintunya enggak dikunci? batinnya lagi. Cewek itu melangkah masuk ke dalam. Tampak seluruh ruangan gelap gulita. Kara menyisir sekitar untuk mencari keberadaan Redy. Bisa aja 'kan, cowok itu niat ngisengin Kara lagi? Namun nihil. Redy tak ada dimana-mana. Kara merengut heran. Kalau pintu rumah enggak dikunci, harusnya Redy ada disini! Tapi, kenapa nggak ada tanda-tanda kalau cowok itu ada di rumah? Apa Redy lagi keluar dan lupa mengunci pintu? Ck, ceroboh banget. Kara terus melangkahkan kakinya, mengecek satu per satu ruangan yang ada, namun Redy tetap tak berhasil ditemukan. Cewek itu mendesah frustasi. "Redy kemana sih?!" gerutu Kara. Dan tepat sedetik setelah Kara bergerutu, mata cewek itu tiba-tiba menangkap sosok seseorang yang sedang tidur di atas trampolin di halaman belakang. Kara bisa melihat keluar halaman belakang karena gorden yang biasa menutup jendela besar pembatas dapur dengan halaman belakang dibiarkan terbuka. Dengan cepat, Kara langsung melangkahkan kakinya lebar-lebar untuk menghampiri Redy. "Heh! Kenapa lo enggak nyalain lampu-lampu..." Kara langsung menurunkan suaranya begitu melihat keadaan Redy yang semrawut. Cowok itu tertidur di atas sebuah trampolin dengan kedua tangan yang dijadikan bantalan. Ia masih memakai baju seragam lengkap, namun sayangnya berantakan. Rambutnya acak-acakan dan wajahnya terlihat lelah. "Redy? Lo gak apa-apa?" tanya Kara pelan. Mendengar suara Kara di dekatnya, Redy refleks membuka matanya yang terpejam. Cowok itu melirik Kara sekilas lalu membuang napas keras. Matanya menatap langit malam dengan tatapan menerawang. "Lo lagi ada masalah? Cerita dong. Kemarin 'kan gue udah cerita," kata Kara sambil duduk di sisi trampolin. Redy bangun lalu terduduk. Cowok itu menoleh dan balas menatap Kara. Kara harus menahan diri untuk tidak bergidik ngeri sewaktu matanya bertemu pandang dengan mata Redy. Ia tahu jelas kalau keadaan cowok itu sedang tidak baik. Kara bisa melihat mata Redy yang berkilat-kilat sedih. "Dora?" panggilnya serak. "Hmm?" Redy tersenyum. "Lo mau 'kan jadi cewek gue?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN