"Lo mau 'kan jadi cewek gue?"
Kara langsung terpaku begitu mendengar kata-kata yang terlontar dari mulut Redy. Detik berikutnya...
PLAK!
Kara menampar pipi Redy keras.
"Sakit! Kok gue ditabok lagi sih?!" Redy melotot sembari mengusap-ngusap pipinya yang merah.
Kara mengernyit bingung lalu menggaruk hidungnya. "Ternyata beneran Redy."
"Beneran Redy apanya?! Ada bekas tangan lo di pipi gue!" Redy terus mengomel sementara Kara masih menatapnya dengan tatapan bertanya.
Sejurus kemudian, Kara tiba-tiba mengulurkan kedua tangannya lalu menarik pipi Redy kencang. Redy sendiri refleks membelalak lalu menepis tangan Kara kasar.
"Apa sih?" desisnya tajam.
Kara tersenyum lalu mengangguk-anggukan kepalanya. "Enggak salah lagi. Ini beneran Redy."
"Gue emang Redy!" Redy berteriak frustasi lalu menjambak rambutnya. Cowok itu benar-benar enggak habis pikir. Apa sih yang saat ini ada dalam pikiran Kara? Kenapa cewek itu sama sekali enggak pernah bisa untuk enggak bikin Redy naik darah?
Masih dengan muka polosnya, Kara mengacungkan jari telunjuknya tepat di depan wajah Redy. "Ini apa?"
Redy mengernyit bingung tapi tak urung tetap menjawab. "Satu."
"Ini?" Kara ikut mengacungkan jari tengahnya di samping jari telunjuk.
"Dua."
Kali ini, Kara membuka telapak tangannya lalu mengangkatnya tinggi. "Kalau ini?"
Redy tertawa mendengus. "Lima."
PLETAK!
"Aduh!" Redy mengusap kepalanya yang barusan di jitak oleh Kara lalu melotot. "Apa lagi sih?"
Kara cemberut. "Tadi itu artinya dadah, bukan lima."
Redy menatap Kara tak percaya. Tadi di tabok, terus di cubit, sekarang di jitak. Maunya Kara apa sih?! Parahnya lagi, cewek itu sama sekali enggak keliatan merasa bersalah! Kara masih asik duduk di hadapan Redy dengan wajah innocent-nya.
"Lo sakit," gumam Kara setelah memegang dahi Redy sekilas.
"Gue enggak sakit," katanya dingin. "Jawaban lo apa, Kar?"
"Jawaban apa?" Kara mengedip bingung.
"Lo mau jadi cewek gue, enggak?"
"Oh yang itu..." Kara bergumam kecil lalu menggeleng. "Enggak."
Redy langsung membanting dirinya ke atas trampolin dengan depresi. "Ini baru sakit. Sehari ditolak dua kali!"
"Bersyukur dong! Daripada ditolak setiap hari?" Kara mendengus dan mendelik ke arah Redy. Tampak cowok itu sedang guling-guling di atas trampolin sambil terus merengek meminta Kara menerimanya.
Kara bangkit dari sisi trampolin lalu melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam rumah. Mungkin Redy lagi masuk angin, makanya jadi ngomong ngawur, batin Kara. Namun, belum lima langkah cewek itu berjalan, Redy sudah kembali berteriak. Memaksa Kara menghentikan langkahnya dan menoleh.
"Dora, jadi cewek gue, Dora!"
Kara balas berteriak. "Enggak!"
"Dilarang bilang enggak!"
"Gue gak mau!"
"Harus mau!"
Kara mendesis lalu melempar sandalnya tepat ke arah Redy. "Sana pacaran sama sandal!"
Maksud Redy apaan sih?! Waktu itu 'kan Redy pernah cerita kalau cowok itu belum bisa move on dari mantannya. Tapi kenapa sekarang malah nembak Kara? Siapa sih yang enggak bakalan nolak? Pakai acara maksa lagi!
"Enggak mau sama sandal!" Redy masih merengek dan sibuk guling-guling di trampolinnya.
Kara memutar bola mata jengah. Dasar bocah! umpatnya. "Perasaan itu enggak bisa dipaksa!"
Sedetik setelah ucapan itu terlontar, Redy langsung terdiam. Ia tiba-tiba ingat akan perkataan Kaila padanya tadi sore.
Dan satu hal lagi yang mesti lo tau, Redifa. Perasaan itu enggak bisa dipaksa.
Redy refleks tersenyum tipis. Baik Kaila ataupun Kara, keduanya sama-sama mengatakan hal yang persis pada cowok itu.
"Lagian aneh-aneh aja sih. Lo 'kan masih suka sama mantan lo itu. Terus kenapa malah nembak gue?" Suara Kara barusan berhasil menyentakkan Redy dari lamunannya.
Cowok itu mengambil posisi duduk lalu berdeham. Ia menatap Kara penuh harap. "Lo pernah bilang bakalan bantuin gue 'kan? Apapun itu?" Melihat anggukkan ragu dari Kara, Redy pun melanjutkan. "Gue... butuh bantuan lo."
"Bantuan?" Kara mengangkat sebelah alis.
Redy mengangguk. "Hmm."
"Bantuan apa?"
"Jadi cewek gue," kata Redy serius. "Jadi cewek gue, Kar."
Kara menggeleng tak mengerti. "Tapi... kenapa gue harus jadi cewek lo?"
"Gue pengen bikin Kaila cemburu. Dengan begitu, dia bakalan balik ke gue dengan sendirinya," kata Redy lirih.
Kara mendengus. "Dasar bego. Kalau gitu caranya, dia bakalan semakin menjauh, Redy. Begitu tau kalau lo udah punya cewek, dia nggak mungkin berani lagi deket-deket lo. Yang ada, entar dia dianggap perusak hubungan orang."
Redy menggeleng. "Justru kalau gue nggak punya cewek, dia bakalan ngejauh, Kar. Saat ini, Kaila udah tau kalau gue niat buat ngedeketin dia lagi. Dan dia nyuruh gue buat berhenti atau dia yang bakalan ngejauh. Gue nggak mau dia ngejauh, Kar. Gue nggak mau kehilangan dia lagi..."
"Terus? Kalau lo udah punya cewek, dia bakalan ngedeket? Gitu?"
Redy mengangguk. "Kalau gue punya cewek, Kaila enggak akan ngejauh. Karena yang dia tau 'kan, gue suka sama cewek gue sendiri. Dengan begitu, gue jadi gampang buat ngedapetin dia lagi."
Kara merasa sedikit tersentuh terhadap apa yang dikatakan oleh Redy. Pasalnya, ia bisa ikut merasakan kalau Redy benar-benar menyayangi cewek yang bernama Kaila.
Ternyata, dibalik sifat jutek dan sinis yang dimiliki oleh Redy, cowok itu menyimpan perasaan yang dalam terhadap seseorang. Dan dia ingin terus memperjuangkan perasaannya itu, tak peduli sekuat apapun si cewek bernama Kaila itu menolak dan menghindarinya.
"Kar? Lo mau bantuin gue 'kan?" tanya Redy kemudian. Matanya sarat akan permohonan.
Kara menghela napas lalu kembali berjalan menghampiri Redy. Cewek itu terduduk lagi di sisi trampolin sambil mencebikkan bibir. "Kalau gue jadi pacar lo, berarti gue enggak bisa pacaran sama cowok yang gue suka dong?"
Redy mengibaskan tangannya tak acuh. "Lo selingkuh aja. Gue bakalan pura-pura enggak tau kok."
Kara mencibir. Detik berikutnya, cewek itu tiba-tiba mengembuskan napas kecil. Harapannya untuk bisa pacaran dengan Zio kandas sudah. Mungkin memang sampai kapanpun, Zio tidak akan pernah ditakdirkan untuk Kara. Mendadak, Kara jadi sedih sendiri.
"Dora? Kok jadi sedih? Lo gak mau, ya?"
Kara menggeleng cepat. "Terus gue dapat apa?"
"Hah?" Redy mengernyit bingung. "Maksudnya?"
Kara nyengir. "Kalau gue jadi cewek lo 'kan, yang untung cuma lo doang. Terus, untung buat guenya apa? Kita harus simbiosis mutualisme!"
Redy memutar bola matanya. Dia baru ingat. Bukan Kara namanya kalau enggak meminta imbalan. "Yaudah. Gue beliin lo banyak makanan deh."
Kara menggeleng dengan muka tengilnya. "Kurang."
"Lima snack plus lima biskuit?"
"Kurang."
"Lima snack, lima biskuit, lima yoghurt, lima es krim?"
"Kurang."
Redy mendengus. "Gue bayarin uang makan lo selama sebulan."
Kara tersenyum sumringah. "Itu baru bisa!" katanya ceria. "Tapi... jangan satu bulan dong?"
Redy mendelik galak. "Dua bulan deh."
Kara menggeleng. "Kurang."
"Tiga bulan."
"Kurang."
"Lima bulan."
"Kur--"
"Seumur hidup!"
"DEAL!" Kara langsung meraih tangan Redy lalu menjabatnya sambil tertawa senang.
Redy memejamkan matanya dua detik lalu membuang napas kecil. Kalau urusannya sama Kara, cowok itu harus benar-benar extra sabar.
"Oke. Mulai sekarang, lo jadi cewek gue." Redy tersenyum lebar lalu merangkul pundak Kara akrab.
"Eeh, sebentar!" Kara cepat-cepat melepaskan rangkulan Redy lalu menatapnya penuh selidik. "Sampai kapan gue harus jadi cewek lo?"
Redy mengangkat bahunya cuek. "Sampai gue bisa dapetin Kaila lagi. Kenapa?"
Kara ber-oh kecil lalu manggut-manggut. Namun detik berikutnya, cewek itu tiba-tiba menggeleng panik. "Kalau kita pacaran, berarti kita harus ngelakuin adegan kayak orang pacaran dong?"
"Adegan apa?" Redy menahan senyum sambil menaikan sebelah alisnya menggoda.
Kara meringis ngeri lalu menatap Redy horror. "Pegangan tangan, pelukan, makan suap-suapan, pake stiker kiss sama love di LINE, manggil sesama dengan sebutan Sayang..."
"Enggaklah!" Redy refleks tertawa geli lalu menoyor kepala Kara. "Cara pacaran orang 'kan beda-beda. Kita enggak mesti keliatan mesra kok."
Kara menghela napas lega sembari mengusap-ngusap dadanya. "Syukur... syukur..."
"Tapi, kalau lo pengen kayak gitu sih, gue ayo-ayo aja." Redy mengerling nakal ke arah Kara yang langsung dihadiahi jitakan oleh cewek itu.
"Jangan berani-berani ya!" ancam Kara galak. "Kalau sampe nekat, di dapur ada pisau tajem loh."
Redy tertawa renyah lalu lompat dari trampolinnya. "Sebentar, Kar," katanya cepat sambil berlari kecil ke dalam rumah. Kara cuma bisa memandangi punggung Redy yang menjauh dengan kerutan sama di dahi.
Beberapa detik kemudian, Redy kembali dengan sesuatu yang ia sembunyikan di balik punggungnya. Cowok itu mengenyakkan tubuh di trampolin lagi, tepat di hadapan Kara.
"Dari dulu, gue selalu nembak cewek pake hal yang romantis, biar berkesan dan susah dilupain. Jadi..." Redy menunjukan kotak merah yang tadi disembunyikannya lalu mengeluarkan sebuah kalung dari dalam kotak tersebut. "Kara, yang saat ini gue punya cuma hati gue dan kalung ini. Tapi, apa lo bersedia buat menerima dan menjaga kalung beserta hati gue dengan utuh?"
Kara mendengus geli. "Romantis dari mana? Yang ada gue malah jijik!"
Redy berdecak. "Udah, cepet! Terima atau enggak, nih?"
"Terima enggak, ya?" Kara tersenyum dan memainkan alisnya menggoda. "Ah, gue males..."
"Jangan nolak!"
"...males bilang enggak." Kara melanjutkan sambil tertawa begitu melihat wajah Redy berubah jadi panik.
Mendengar perkataan yang diucapkan selanjutnya oleh Kara, Redy kontan mengembuskan napas lega lalu tersenyum. "Sini, biar gue pakein kalungnya."
Kara memutar tubuhnya lalu tersenyum geli. Cewek itu membiarkan Redy memakaikan kalung berbandul kucing tersebut di lehernya.
"Mulai detik ini, lo resmi jadi cewek gue."
• • •
"Kar, nomor dua isinya apa? Caranya gimana?"
Aldan menyenggol lengan cewek di sebelahnya sambil berbisik. Kontan Kara pun langsung mendelik dan balas menyenggol Aldan keras.
"Mana gue tau? Lo 'kan tau sendiri gue paling enggak bisa matematika!"
Aldan mendengus dan menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Nasib bego itung-itungan."
"Makanya belajar!" ujar Kara galak.
"Udah, tapi tetep aja enggak bisa. Kemampuan gue emang bukan di akademik," keluh Aldan.
Saat ini, Bu Diyah sedang mengadakan ulangan matematika dadakan. Emang udah jadi kebiasaan di sekolah ini kalau sebagian gurunya memang selalu mengadakan ulangan dadakan. Alasannya sih simple. Ingin mengetes apakah si anak terbiasa belajar atau cuma belajar disaat ulangan.
Alhasil, seperti inilah hasilnya. Ada beberapa anak yang bisa mengerjakan dengan tenang, tapi sebagian lagi tidak. Mereka semua keliatan depresi sendiri. Ada yang sibuk gigit-gigit pensil, menghitung jumlah kancing, kunyem-kunyem dengan ekspresi kosong, sampai yang terus-terusan menengadah untuk meminta bantuan dari Tuhan pun ada.
Kara mendengus. "Gue juga kebetulan enggak belajar tadi malem," gerutunya.
Aldan menaikkan sebelah alis. "Tumben. Kenapa?"
Kara menggeleng dan mulai senyum-senyum enggak jelas, membuat Aldan refleks mengerutkan dahinya bingung.
"Kenapa sih?"
"Hmm... Dan, percaya enggak kalau gue bilang gue udah pacaran?"
Sebenarnya, Kara enggak benar-benar senang dengan statusnya itu. Ia cuma mau menggoda Aldan karena cowok itu terlampau sering mengolok-olok Kara dalam nasib percintaan.
"Pfft..." Aldan menahan tawa gelinya. "Enggaklah! Mana mungkin gue percaya?"
Kara mendesis. "Kemarin malem gue baru ditembak tau!"
Mendengar ucapan Kara barusan, Aldan semakin mengatupkan bibir rapat-rapat. Cowok itu benar-benar harus menahan tawanya agar tak menyembur keluar.
"Aldan! Matematika kamu udah selesai? Sini kumpulkan! Jangan cengar-cengir enggak jelas kamu!" bentak Bu Diyah begitu melihat Aldan sedang sibuk nyengir untuk menahan tawanya.
"Iya, Bu, maaf," jawab Aldan pelan, namun cowok itu masih sibuk terkikik. "Iya deh, gue percaya. Siapa, Kar? Siapa yang nembak lo?" bisiknya kemudian.
Kara memutar bola matanya lalu kembali mengerjakan soal. "Sepupu lo."
Aldan semakin cekikikan. "Bego banget tuh co--APA?!"
• • •
Sebelah alis Redy perlahan tertarik ke atas. Cowok itu menatap bingung ke arah Aldan yang tengah berdiri di depan pintu kontrakannya.
"Kara mana?" tanya Redy memecah keheningan karena Aldan tak juga bersuara.
"Latihan basket," jawab Aldan cuek sambil nyelonong masuk ke dalam. Redy mengikutinya dari belakang.
"Tumben kesini," kata Redy seraya mengenyakkan tubuhnya di sofa ruang TV.
Aldan mengambil gelas lalu mengisinya dengan air. "PS, yuk!"
Redy menoleh dan merengut. "Gue bosen kalah mulu."
"Gue juga bosen menang mulu," timpal Aldan lalu meneguk airnya sampai habis.
Melihat gelagat aneh Aldan, Redy kontan menghela napasnya. Ia sudah hapal betul semua tingkah dan polah sepupunya itu. Dan saat ini, Redy yakin kalau niat Aldan mengunjunginya bukan untuk tanding PS. Tapi, untuk mencari tahu sesuatu.
"Lo mau nanya apa?" ucap Redy to the point. Matanya menatap Aldan jengah.
Aldan diam sebentar. "Lo jadian sama Kara?"
Redy nampak sedikit terkejut. Dora cerita ke Aldan? Batinnya. Agak ragu, Redy pun mengangguk. "Hmm."
"Kenapa Kara?" tanya Aldan. "Kenapa mesti Kara?"
Redy mengernyit bingung. "Maksudnya?"
"Gue tahu jelas tipe cewek kesukaan lo, Re. Dan Kara nggak termasuk kriteria lo sama sekali." Aldan tertawa garing.
"Pengecualian buat dia," tandas Redy. "Gue suka dia apa adanya."
Aldan terdiam sambil menatap Redy lama. Ada banyak emosi yang tampak pada wajah cowok itu, namun sulit untuk dibaca. "Gue pernah bilang 'kan? Gue enggak bakalan segan ngerontokin gigi lo kalau lo sampe berani nyentuh dia?"
Redy mengangguk.
"Itupun berlaku kalau lo mainin dia," kata Aldan tajam. Ia menatap Redy dingin. "Kara sahabat gue, Re. Gue sayang dia. Gue enggak mau lo nyakitin dia, apalagi sampe bikin dia nangis."
Redy mendengus lalu membuang pandangannya dari Aldan. Ia tahu jelas kalau saat ini sepupunya itu sedang serius dan tidak main-main dengan ucapannya. Sewaktu kecil, Aldan pernah mengancam akan mematahkan hidung anak tetangga sebelah kalau sampai anak itu berani mencuri mainan Redy. Dan benar saja, Aldan langsung menonjok wajah anak itu hingga mimisan.
Perbedaan sifat diantara Redy dan Aldan hanya dipisahkan oleh sebuah dinding tipis. Aldan lebih emosional dan kasar, sedangkan Redy lebih tenang dan mampu mengendalikan diri.
"Tapi gue percaya sama lo kok, Re." Sejurus kemudian, Aldan tersenyum lalu menghampiri Redy dan menepuk pundak cowok itu. "Gue percaya kalau lo enggak akan mainin Kara."
Redy tertegun sebentar lalu balas tersenyum tipis. "Tenang aja."
Dari dulu, Aldan selalu ada di pihak Redy, apapun itu kondisinya. Namun untuk saat ini, sepertinya Aldan akan ada di pihak sebaliknya kalau urusan tersebut menyangkut tentang Kara.
"Oh ya, lo udah bisa move on dari Si Kaila itu?" tanya Aldan mencari topik. Cowok itu mengenyakkan tubuh dengan santai di sebelah Redy.
Redy mengangkat bahunya acuh tak acuh. "Gitu lah. Besok malem, gue mau ngenalin Kara ke mereka."
Aldan membelalak kaget. "Ke siapa?"
"Ke Kaila sama--"
"Jangan!" potong Aldan cepat. Cowok itu menggeleng kuat. "Maksud gue, lebih baik lo enggak ngenalin Kara ke mereka."
Redy memberengut. "Kenapa?"
Aldan menggaruk kepalanya yang tak gatal, merasa bingung sendiri. "Enggak apa-apa sih. Cuma... jangan aja."
"Santai. Lo takut kejadian gue terulang lagi?" Redy tertawa.
"Bukan," sergah Aldan. "Mending enggak usah lah, Re."
Redy mendengus geli. "Lo enggak hapal gue ya? Semakin lo larang, gue malah semakin menjadi."