Kara menunduk, tak membalas tatapan wanita yang kini duduk di sebrangnya.
"Kapan orangtuamu bisa datang ke sekolah?" tanya penjaga TU tersebut sambil menatap Kara lekat.
Kara menelan ludah kering, masih dengan kepala tertunduk dalam. "Saya... saya belum tau..." ujar Kara pelan.
Mendengar ucapan Kara barusan, penjaga TU itu refleks mengembuskan napas panjang lalu sibuk memeriksa berkas-berkas di mejanya. "Surat undangan kemarin sudah kamu berikan?"
Kara terdiam. "Belum..." jawabnya kemudian.
Pergerakan tangan penjaga TU yang sedang menulis mendadak terhenti. Ia mendongak dan menatap Kara menyelidik. "Karina, apa semua surat undangan dari ibu sejak sebulan yang lalu sudah kamu berikan pada orangtuamu?"
Dan untuk yang kedua kalinya, Kara terdiam cukup lama sebelum akhirnya bersuara. "Belum, Bu."
"Kenapa? Semua surat itu hilang atau bagai--"
"Hilang," potong Kara cepat. "Saya selalu lupa buat ngasih surat-surat itu ke Papa."
"Jadi semuanya hilang sebelum kamu sempat berikan pada orangtuamu?"
Kara mengangguk.
Penjaga TU itu membuka laci mejanya lalu mengeluarkan secarik kertas undangan yang telah diketik rapih. Setelah menulis nama Kara di pojok kiri kertas, ia langsung memberikan surat tersebut kepada Kara.
"Ini. Pastikan orangtua kamu menerimanya. Bilang pada beliau untuk menghadiri rapat sumbangan orangtua tersebut."
"Iya, Bu," jawab Kara pelan. Ketika cewek itu hendak berbalik untuk keluar dari ruang TU, tiba-tiba saja suara wanita di belakangnya membuat Kara langsung mengurungkan niatnya.
"Karina?" panggil penjaga TU itu lagi.
Kara menoleh. "Ya?"
"Kamu belum bayar iuran sekolah selama dua bulan?"
Mendengar pertanyaan barusan, mau tak mau membuat lidah Kara mendadak terasa kelu. Ia mengembuskan napas kecil sebelum akhirnya memasang seulas senyum. "Iya, Bu."
"Kenapa? Kamu lupa lagi?"
Kara tak menjawab.
"Yasudah, jangan sampai lupa lagi, ya. Pulang sekolah cepat-cepat beritahu Papa atau Mama kamu untuk datang ke acara rapat orangtua besok sekaligus melunasi iuran sekolah."
Setelah mengangguk untuk yang kesekian kalinya, Kara pun pamit untuk kembali ke kelas. Tepat di lorong menuju ke lantai dua, Kara merogoh saku roknya, mengeluarkan surat yang tadi diberikan oleh penjaga TU lalu membuangnya ke tempat sampah, persis seperti yang ia lakukan pada surat-surat terdahulu.
• • •
Rian memerhatikan lekat padatnya ruas-ruas jalan raya dari balik jendela gedung kantornya. Tatapan pria paruh baya itu menerawang jauh, seperti ada berbagai hal yang kini berkecamuk dalam benaknya. Rambut sedikit beruban dan kantung mata yang besar, cukup membuat penampilan Rian terlihat lebih tua dari umurnya yang baru berkepala empat.
Rian membuang napas kasar lalu memutar kursinya menghadap ke meja. Sejurus kemudian, ia meraih sebuah frame foto yang ada di sudut meja lalu menatapnya sendu. Terdapat potret keluarga bahagia disana. Ada Kara, Reina, dan dirinya.
Rian melarikan jari-jarinya dan mengusap kaca frame foto tersebut. Perlahan, air mata mulai menggenang di pelupuk mata Rian. Ia berusaha keras mengatup bibirnya yang mulai bergetar. Tak ada yang bisa ia lakukan selain memendam semua rasa rindu yang selalu membuatnya sulit untuk bernapas.
"Dokter 'kan udah bilang, kamu jangan sampai kecapekan, enggak bagus buat jantung kamu. Kalau perlu, mulai sekarang kita bisa sewa pembantu buat beres-beres rumah," kata Rian sepulang dari kantor waktu itu. Ia membuka jas kemudian melonggarkan dasinya.
"Enggak usah, beres-beres rumah 'kan bukan pekerjaan yang berat," timpal Reina sambil berjalan menghampiri Rian untuk membantunya melepaskan dasi. "Lagipula, aku seneng kok, bisa beres-beres rumah sendiri. Karena nanti sewaktu kamu dan Kara pulang, kalian bisa merasa nyaman karena rumah udah rapi dan bersih. Dengan begitu, kalian berdua bakalan betah di rumah dan kita bisa punya waktu keluarga lebih banyak!"
Mengingat senyum dan tatapan lembut yang diberikan Reina saat itu, kontan membuat air mata Rian jatuh tanpa bisa dicegah. Ia mencengkram frame foto ditangannya erat dengan bahu bergerak naik-turun. Perasaan rindu dan kehilangan lagi-lagi berhasil membuat Rian tak berdaya. Selalu seperti ini.
"Kalau Papa mau, Papa boleh kok nikah lagi. Asal, Papa harus janji sama Kara kalau perasaan Papa sampai kapanpun cuma buat Mama. Aku ngerti kok, Papa pasti ngerasa kesepian karena enggak ada Mama di rumah. Dan aku gak mau ngeliat Papa ngerasa kesepian, apalagi sedih. Karena aku sendiri tau, gimana rasanya kesepian dan sedih."
Bahkan, seseorang yang biasanya selalu ada untuk menghibur dirinya, kini ikut pergi meninggalkannya. Sekarang ini, Rian benar-benar sendiri dan merasa kesepian.
Setiap pulang dari kantor, hanya suara gema dari ketukan sepatunyalah yang menyambut kedatangan Rian. Walaupun memang biasanya ia pulang saat Kara telah tertidur dan pergi sebelum Kara terbangun, tapi setidaknya itu jauh lebih baik daripada tak melihat wajah gadis itu sama sekali.
"Kalau seandainya aku pergi, kamu mau 'kan membesarkan Kara sendiri? Jaga dan rawat Kara baik-baik sampai dia tumbuh dewasa dan bisa jadi dokter. Aku pengen deh, liat Kara pakai jas dokter dan keliling meriksa pasien..."
Rian mempererat cengkramannya hingga buku-buku jarinya memutih. Ia gagal. Rian telah gagal menjalankan amanat terakhir dari almarhumah istrinya. Ia tidak bisa menjaga dan merawat Kara dengan balik. Justru sebaliknya, Rian malah membuat Kara pergi.
Pria itu sepenuhnya sadar bahwa semua ini kesalahannya. Ia terlalu sibuk dengan urusannya sendiri sampai-sampai melupakan Kara. Oleh sebab itu, sebisa mungkin Rian selalu meluangkan waktunya untuk memperhatikan putri kecilnya itu.
Namun entah mengapa, semuanya justru terasa salah. Ketika ia menyuruh Kara untuk keluar dari klub jurnalisnya, anak itu malah mengira bahwa Rian membatasi apa yang jadi hobinya. Padahal, Rian hanya tak tega membiarkan Kara terjaga semalaman suntuk di depan layar komputer hanya untuk mengetik sesuatu yang tak begitu penting.
Dan ketika Rian menyuruh Kara untuk berhenti basket karena tidak ingin anaknya itu jatuh sakit karena kecapekan, Kara justru marah dan menganggap Rian terlalu mengatur dan mengekangnya. Tak peduli sudah berapa kali Rian bilang bahwa ia takut Kara kecapekan, anak itu tetap bersikeras mengatakan bahwa ia baik-baik saja. Akhirnya, Rian pun terpaksa bilang bahwa basket Kara itu tidak berguna di universitas nanti.
Disaat Rian sedang sibuk dengan tangisnya, tiba-tiba saja pintu kantor berderit terbuka dan seorang wanita dengan cardigan hijau masuk sambil bersungut-sungut.
"Aku udah blokir ATM-nya Kara. Emang Kakak eng--"
Ucapan wanita itu langsung terputus seketika begitu melihat Rian sibuk menunduk sambil terisak. Entah mengapa, ia bisa merasakan apa yang jadi perasaan Kakaknya saat ini.
Setelah terdiam cukup lama, dengan langkah pelan, wanita itu--Micel--langsung berjalan menghampiri Rian lalu mengusap punggung Kakaknya lembut.
"Kalau Kakak pengen Kara pulang, mending Kakak bujuk dia baik-baik. Kara itu sama keras kepalanya kayak Kakak. Dia enggak mungkin pulang begitu aja cuma karena kartunya di blokir."
Karena Rian tak menjawab, Micel pun melanjutkan. "Kadang, beberapa orang selalu berharap mereka bisa memutar balik waktu supaya enggak melakukan suatu kesalahan. Tapi, karena kita udah cukup besar untuk berpikir dewasa, lebih baik berpikir bagaimana cara untuk memperbaiki kesalahan daripada berharap memutar waktu."
• • •
Kara menggertakan giginya membaca sederet tulisan yang tertera pada layar mesin ATM.
"Kenapa ATM gue diblokir?!" teriak Kara frustasi sambil menggebrak mesin ATM.
Semua ini pasti ulah Papa! Gara-gara pertengkaran hebat malam itu, Papa pasti marah lalu langsung memblokir ATM Kara dengan kejamnya. Kalau udah begini, gimana caranya Kara tetap hidup? Padahal, niat Kara menarik uangnya adalah untuk membayar iuran bulanan sekolah sekaligus membeli perlengkapan sehari-hari.
Tiba-tiba saja, sekelebat bayangan dirinya dengan wajah kumal dan baju lusuh melintas di benak Kara. Kara langsung bergidik ngeri memikirkan kemungkinan dia akan berubah menjadi anak jalanan cuma karena ATM-nya diblokir.
Nggak, enggak mungkin! Gue anak Papa sama Mama, bukan anak jalanan! Kara menjerit dalam hati sambil geleng-geleng kepala, berusaha menepis pikiran-pikiran aneh yang menghinggapi kepalanya.
Sepersekian detik berikutnya, Kara menghela napas pasrah sambil berjalan gontai meninggalkan antrean ATM, mempersilahkan wanita muda dengan blazer berwarna peach mengambil gilirannya.
Namun, belum sampai lima langkah cewek itu berjalan, Kara sudah kembali berbalik lalu berdiri di antrean ATM tadi. Untungnya, cuma ada Kara dan wanita dengan blazer peach barusan yang sedang mengantre. Jadi, Kara tidak perlu menunggu waktu lama untuk kembali mengambil gilirannya.
Setelah bermenit-menit menunggu, akhirnya wanita dengan blazer warna peach itu keluar dari ruang ATM. Ia sempat melemparkan tatapan aneh sekaligus bingung sewaktu melihat Kara malah kembali mengantre. Sementara itu, Kara cuma balas membuang mukanya tak acuh sambil berjalan santai memasuki pintu masuk ke ruang ATM.
"Mungkin tadi mesinnya lagi eror. Siapa tau sekarang bisa," gumam Kara penuh harap.
Baru saja ia akan memasukan kartunya ke dalam mesin, tiba-tiba saja Kara malah melihat kartu lain menyembul keluar dari lubang mesin ATM. Kaget, Kara pun buru-buru mengambil kartu tersebut lalu keluar dari ruang ATM untuk mengembalikan kartu yang tertinggal pada wanita dengan blazer peach tadi.
Sayangnya, Kara sama sekali tak melihat batang hidung wanita itu. Ia menoleh kesana-kemari, mencari-cari sosok wanita dengan rambut digulung rapi dan blazer serta rok span pendek berwarna peach. Namun nihil. Akhirnya, mau tak mau Kara pun terpaksa berkeliling mall untuk menemukan wanita itu dan mengembalikan kartu ATM-nya yang tertinggal.
Yah, siapa tau aja orangnya belum pulang, bukan?
Setelah berkeliling selama tiga menit, akhirnya Kara berhasil menemukan wanita itu sedang terduduk di sofa salah satu café. Kara cepat-cepat memasuki café tersebut lalu menghampiri meja yang sedang ditempati oleh wanita itu.
"Maaf, Tante, tadi kartu Tante ketinggalan."
• • •
"Kenapa lo enggak pernah bilang kalau sebenernya lo deket sama Kak Zio, Dan?"
Aldan melempar backpack-nya asal lalu menghempaskan tubuh ke kasur. Matanya menatap langit-langit kamar dengan tatapan menerawang.
"Lo sama Kak Zio itu ada apa, sih? Apa yang bikin lo sebegitu enggak sukanya sama Kak Zio? Dia punya salah apa?"
Aldan mengembuskan napas panjang lalu mengusap wajahnya letih. Entah kenapa, akhir-akhir ini ia jadi sering merasa lelah walaupun jadwal latihan futsalnya sudah sedikit dilonggarkan.
"Perasaan gue doang, atau memang ada sesuatu yang lo sembunyiin?"
Krieekk
Suara derit pintu tadi sukses membuat Aldan langsung bangkit dari rebahannya. Cowok itu terduduk tegak di kasur sambil menatap pergerakan ibunya yang sedang menaruh piring berisi puding di meja belajar.
"Ketuk dulu dong, Ma, kalau mau masuk," gerutu Aldan dengan wajah setengah kesal. "Kalau aku lagi telanjang atau apa, gimana? Mama mau liat?"
Mama Aldan cuma balas mendengus mendengar ucapan Aldan barusan. Sejurus kemudian, beliau memasukan sesendok puding ke dalam mulutnya. "Anak sendiri ini, apanya yang salah?"
Aldan mendecak. "Aku 'kan bukan anak SD lagi."
"Iya-iya, cerewet kamu," cibir Mama Aldan.
"Mama mau apa kesini?"
"Emang gak boleh ya ke kamar anak sendiri?"
"Mama mau nyuruh aku cobain puding buatan Mama? Mana sini?" Tanpa membiarkan Mamanya bersuara lebih dulu, Aldan langsung meraih piring berisi puding tersebut lalu memakannya. "Nggak enak, kurang manis," komentar Aldan kemudian.
"Ish, kamu ini! Itu bukan puding buatan Mama!" Mama Aldan memukul lengan Aldan cukup keras, kontan membuat anaknya itu sedikit meringis.
Sambil mengusap-ngusap lengannya, Aldan menaikkan sebelah alis. "Terus?"
"Itu dari Tante Della. Dia kesini mau nengok Redy, katanya kangen. Terus tadi dia sempet mampir buat ngasih puding ini."
Aldan nyaris tersedak mendengar ucapan Mamanya barusan. Cowok itu dengan segera menaruh piring berisi pudingnya lalu menampilkan wajah terkejut sekaligus panik. "Tante Della? Kesini?!"