Chapter 19

2077 Kata
Kara berkali-kali melirik Aldan dengan canggung. Cowok itu masih saja bergeming, tak mengucapkan sepatah katapun sejak beberapa menit kedatangannya tadi. Tak tahan dengan suasana yang menyesakkan itu, Kara pun memutuskan untuk membuka percakapan lebih dulu. "Kenapa lo tiba-tiba ke sini?" tanya Kara memecah keheningan. Aldan tak menjawab, refleks membuat Kara jadi semakin kikuk. Cewek itu bergerak-gerak tak nyaman, membuat trampolin yang tengah di dudukinya sedikit bergoncang. Sejurus kemudian, Kara berdeham dan bicara. "Btw, yang tadi it c*m--" "Gue tau," potong Aldan cepat. "Lo enggak perlu ngejelasin," jedanya. "Oh, oke..." Kara bergumam pelan. "Jadi, kenapa lo kesini? Kok tiba-tiba? Enggak pake ketuk pintu dulu pula." Aldan mendengus. "Rumah sepupu gue ini. Nyelonong masuk juga udah biasa." Kara mencibir. "Dasar enggak sopan." Tanpa memedulikan cibiran Kara barusan, Aldan bertanya, "Kenapa tadi lo gak masuk? Biasanya lo ngabarin gue dulu kalau mau izin atau sakit." "Itu..." Kara tertawa garing sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. Mampus! Bilang apa nih? Batin Kara panik. Kara benar-benar bingung harus berkata jujur atau tidak. Masalahnya, mulut Aldan itu kadang ember. Dan kalau memang Aldan nekat, cowok itu bisa saja mengadukan aksi bolos Kara ke guru piket. Nah, kalau udah begini, siapa lagi yang bakalan repot? "Itu apaan?" desak Aldan tak sabar. Melihat Kara mulai cengar-cengir enggak jelas, seringai lebar perlahan muncul di bibir Aldan. "Lo bolos, ya?" "Hehehe." Kara cengengesan. "Jangan bilang-bilang, ya? Lo ganteng, deh." Aldan menaikkan sebelah alisnya menggoda. "Jaminannya?" Kara sempat menggertakkan gigi sebentar sebelum akhirnya buru-buru tersenyum. Sabar, Kar, sabar. Orang sabar disayang pacar, batinnya berusaha tenang. "Apa aja, deh, terserah lo," kata Kara sok manis. "Hmm." Aldan tampak berpikir sejenak. "Tau, enggak? Gara-gara lo gak masuk, nilai ulhar Kimia gue jadi masuk UGD." Kara refleks melotot. "Kenapa jadi gue?!" "Kalau lo masuk, 'kan, gue bisa nyontek," ucap Aldan sewot. "Jadi, jaminannya adalah lo bantuin gue pas remidial," cetus Aldan kemudian. Cowok itu menampilkan senyum lebarnya dengan kedua alis naik turun. "Deal, enggak?" Kara menatap Aldan tak percaya. Dalam hati, ia terus merutuki diri karena bisa-bisanya mengajak Aldan bekerja sama. Cowok itu cuma bisa diajak kerja sama disituasi serius. Jadi, benar-benar salah besar kalau saat ini Kara membuat perjanjian dengan Aldan. "Kerjaan lo nyontek mulu," cibir Kara lagi. Bukannya Kara pelit atau apa, tapi menyontek dan bekerja sama pada pelajaran Kimia, Geografi, dan PKn itu hukumnya haram. Kalau kalian memang belum bosan hidup, lebih baik menggunakan cara capcipcup ketika waktu benar-benar kepepet. Aldan mendelik tak terima. "Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, PLH, sama Agama gue enggak nyontek ke elo kok." "Iya, nyontek ke orang lain." Aldan nyengir. "Kan cuma beberapa." Kara mendengus. "Tiga sekawan itu; Kimia, Geo, PKn, lo tau sendiri, 'kan, gimana killer-nya guru kita? Matanya bisa kemana-mana." "Nah!" Aldan menjentikkan jarinya bersemangat. "Kita pake kode-kodean, Kar." "Kode apa?" "Morse." Kara nyaris menabok Aldan kalau saja cowok itu tidak buru-buru menghindar sambil tertawa. Apa Aldan enggak bisa waras barang sedetikpun? Kenapa gue punya temen begini, Tuhan, batin Kara memelas. "Entar gue pikir-pikir dulu mau pake kode apa," ujar Aldan dengan sisa tawa yang ada. "Oh, ya, lo bolos kenapa, Kar?" Tepat sedetik setelah pertanyaan itu terlontar, wajah Kara berubah jadi muram. Cewek itu tersenyum kecut dengan mata menerawang. "Tadi malem gue berantem lagi sama bokap. Dia tiba-tiba datang kesini dan nyeret gue buat pulang," jelas Kara sambil tertawa sumbang. Aldan menatap Kara dengan tatapan sulit diartikan. "Terus? Kenapa lo enggak balik?" Kara tersenyum tipis dan menggeleng. "Gue enggak akan balik sebelum dia minta maaf dan ngebiarin gue tetep basket," tandas Kara. Sejurus kemudian, cewek itu tiba-tiba menunjukkan pergelangan tangan kanannya yang sedikit merah pada Aldan. "Liat, deh, tangan gue sampe merah gara-gara ditarik-tarik terus sama bokap. Jahat, ya?" kata Kara sambil terkekeh singkat. Aldan melirik sekilas tangan Kara lalu membuang napas kecil. "Harusnya lo balik." "Apa?" "Harusnya lo balik," ulang Aldan dengan tatapan lurus-lurus ke depan. "Mau sampai kapan lo disini?" Kara terdiam. Entah kenapa, pertanyaan Aldan barusan tak pernah sekalipun melintas di benak Kara. Aldan benar. Mau sampai kapan ia disini? Mau sampai kapan ia merepotkan Redy dan Si Bibi? Terdapat hening cukup lama sebelum akhirnya Aldan kembali bicara. "Udah hampir dua bulan lo tinggal bareng Redy," ujarnya datar. "Harusnya lo balik." • • • "Bakso dua, Bu! Biasa, ya!" pesan Redy pada si Ibu Kantin. Ibu Kantin manggut-manggut mengerti lalu buru-buru membuatkan pesanan Redy barusan. "Lo cabut pelajaran, bukan, Re?" tanya seorang cowok bertopi snapback yang kini duduk di sebrang Redy. Ia asik menggigiti sedotan air mineral yang ada di tangannya. Redy mengecek ponselnya sekilas lalu menggeleng. "Jam kosong," jawab Redy singkat. Cowok bertopi snapback yang biasa dipanggil Yudha itu tiba-tiba terkekeh geli. "Gue diusir dari kelas," ujarnya santai. "Kenapa? Telat masuk?" tebak Redy. Yudha menggeleng. "Belum ngerjain PR," katanya enteng. Redy tertawa kecil. "Langganan." "Yoi." Yudha ikut tertawa lalu menoleh ke belakang, mencari-cari sosok seseorang di pintu masuk kantin. "Albert sama Disa mana? Katanya mau cabut ke kantin." Mendengar gumaman Yudha barusan, Redy kontan mengedarkan pandangannya untuk ikut mencari sosok Albert dan Disa. Begitu dua orang cowok dengan wajah familiar tertangkap oleh indera penglihatan Redy, ia langsung mengedikkan dagunya ke arah cowok-cowok itu. "Tuh, itu mereka, bukan?" tanya Redy. Yudha mengikuti arah pandang Redy lalu manggut-manggut. "Oh, iya, itu mereka," gumamnya. "Disa! Albert! Disini!" Yudha berseru keras sambil melambaikan tangan. Merasa terpanggil, kedua cowok itu pun menoleh. Salah satu cowok dengan varsity warna hijau mengangkat tangannya, mengisyaratkan agar Redy dan Yudha menunggu sebentar. Beberapa detik kemudian, Albert dan Disa menerima gelas plastik berisi minuman yang disodorkan oleh penjual minuman lalu membayarnya. Mereka berdua sempat berdebat sebentar tentang uang kembalian sebelum akhirnya berjalan menghampiri meja Redy dan Yudha. Albert--cowok bervarsity hijau itu--mengambil tempat duduk di sebelah Redy dan bertanya, "Lo juga cabut?" "Jam kosong," jawab Redy pendek. "Guru Kesenian lagi dinas diluar, jadi cuma ada tugas." "Oh." Albert manggut-manggut mengerti. Sejurus kemudian, cowok itu mengacungkan jari telunjuknya dan berseru. "Bakso satu, Bu," pesan Albert santai. "Re, kemarin lo nonton, ya?" tanya Disa memulai topik. Ia melihat Redy sekilas lalu menyesap minumannya. Redy merengut bingung. "Emang kenapa?" "Enggak." Disa mengangkat bahunya cuek. "Gue liat cewek lo di XXI kemarin. Katanya kalian nonton." Dahi Redy langsung berlipat dalam. Kara 'kan seharian di rumah, kapan dia keluar? Batin Redy bingung. "Gue sama cewek gue enggak nonton. Lo salah liat kali," sergah Redy. Disa mendecak. "Gue beneran liat cewek lo, kok, si K. Orang dia sempet nyapa gue." "Hah?" Redy jadi semakin bingung. Sejak kapan Kara kenal sama Disa? Melihat Redy tampak ling-lung sendiri, Yudha pun langsung angkat bicara. "Kemarin lo liat Kaila, Dis?" tanyanya menyelidik. Disa mengangguk yakin. "Iya, dia jelas bilang mau nonton sama Red--" "Oh!" Redy tiba-tiba berseru keras sambil menggebrak meja kantin, memotong ucapan Disa yang belum sempat selesai. "Lo ngomongin Kaila?" tanya Redy kemudian, seakan semua puzzle di kepalanya telah tersusun menjadi satu bagian yang utuh. Disa mendecih, tak habis pikir kenapa otak Redy baru berfungsi sekarang. "Iyalah, K-nya elo siapa lagi?" "Habis tadi lo bilangnya cewek gue," kata Redy sambil tertawa. Albert melirik Yudha penuh arti lalu terkekeh. "Dari dulu juga 'kan lo nganggepnya Kaila cewek lo, padahal kalian berdua gak punya status apa-apa," ujar Albert. "Iya, Re. Kok lo tiba-tiba bingung sendiri sih? Lo punya K lain, ya?" cecar Yudha dengan sebelah alis terangkat. "Enggak, cewek gue yang sekarang juga namanya dari K. Jadi gue bingung," jawab Redy kalem. "Oh." Yudha manggut-manggut mengerti. "Jadi, si K apa kabar?" "K yang mana?" "Tergantung." Yudha mengangkat bahunya santai sambil menyeringai lebar. "Yang pertama kali muncul di kepala lo pas gue nyebut si K siapa? Cewek lo yang sekarang... atau Kaila?" • • • Aldan melotot lalu menyentak tangan Kara kasar. "Pergi sendiri apa susahnya, sih?" bentak Aldan kesal. Masalahnya, sejak bel jam istirahat dibunyikan beberapa menit yang lalu, Kara terus saja merengek agar Aldan menemaninya ke kelas Zio. Tak peduli sudah berapa kali Aldan mengomel dan menepis tangan Kara, cewek itu tetap saja menarik-narik tangan Aldan tanpa henti. "Ayo, dong. Gue 'kan udah bantuin remidial Kimia lo, Dan," bujuk Kara sambil memasang puppy eyes. Aldan tak menggubris perkataan Kara dan melangkah cuek melewati cewek itu. "Ajak orang lain 'kan bisa. Gue mau ke anak-anak dulu, balik sekolah ada futsal." Kara buru-buru menahan langkah Aldan dengan menarik tangan cowok itu. "Ih Aldan... Cuma sebentar kok! Lima menit deh, lima menit!" "Gu--" "Tiga menit!" Kara mengacungkan jarinya membentuk angka tiga. "Plis?" Tak tega sekaligus tak tahan mendengar rengekan Kara, Aldan pun akhirnya luluh. Cowok itu mengacak-acak rambutnya frustasi dengan tampang kusut. "Yaudah, dua menit setengah." Kara memasang cengiran lebarnya lalu dengan cepat menyeret Aldan menuju koridor kelas dua belas. "Entar gue traktir sepuas lo, deh!" kata Kara ceria. Aldan cuma balas mendengus dan pasrah ditarik-tarik oleh Kara. Tak lama kemudian, Aldan dan Kara akhirnya sampai di depan sebuah kelas bertuliskan XII IPS-C. Melihat kehadiran mereka, beberapa senior ada yang langsung memberikan tatapan sinis sekaligus bingung pada keduanya, membuat nyali Kara mendadak ciut. "Dan, lo yang bilang, dong. Tanyaian, ada Kak Zio gak," bisik Kara sambil menyikut pelan perut Aldan. Aldan mendelik. "Lo nyuruh gue?" "Habis mereka ngeliatin kita," ujar Kara sembari meringis kecil. "Biarinlah, mereka 'kan punya mata," kata Aldan sewot. "Cepetan, sana, udah lima menit." Kara bersungut-sungut sebal melihat tingkah sewot cowok disebelahnya. Kebiasaan banget. Mood Aldan itu kadang kayak jadwal haid anak cewek. Enggak teratur. "Misi, Kak." Kara melongok ke dalam kelas dengan suara mencicit. Sementara itu, Aldan justru asik sendiri mengamati lapangan sambil bersandar pada dinding, sama sekali tak peduli dengan urusan Kara dan Zio. "Kenapa?" tanya salah seorang senior cowok yang kebetulan akan keluar kelas. "Ada Kak Zio, enggak, Kak?" tanya Kara sopan. Senior cowok itu menoleh ke belakang sekilas dan berseru. "Yo, ada yang nyari nih!" ucapnya toa. "Tuh, ada. Masuk aja," kata senior cowok itu kemudian. "Oh, iya, Kak! Makasih ya, Kak," ujar Kara sambil tersenyum lebar. Senior cowok itu cuma balas mengangguk kecil dan berlalu pergi. Beberapa detik kemudian, Zio muncul sambil tersenyum manis pada Kara. "Eh, Kara. Ada apa?" tanya Zio ramah. Mau tak mau, ujung-ujung bibir Kara pun refleks tertarik ke atas. "Enggak, Kak. Aku cuma mau minta maaf kalau LINE aku yang kemarin enggak sopan. Itu dibajak Redy. Tadinya aku mau langsung minta maaf saat itu juga, tapi ternyata Redy nge-remove kakak dan aku gak tau ID kakak buat nge-add lagi," kata Kara panjang lebar. Mendengar penjelasan Kara barusan, Zio malah tertawa geli sambil mengibaskan tangannya tak acuh. "Gue tau, kok. Makanya LINE terakhir dari dia enggak gue bales. Santai aja, Kar, enggak apa-apa." Kara terkekeh tak enak. "Iya, Kak. Sekali lagi maaf, ya?" "Iya, Karaaa." Zio tersenyum lembut. "Enggak apa-apa." Melihat Zio memberikan senyum lembut padanya, pipi Kara kontan bersemu merah. Ia sedikit menunduk sambil menggigit bibir bawahnya gemas. Kak Zio! I love you, Kak Zioooo! Perasaan Kara saat ini benar-benar tidak terdefinisi. Bahagia, senang, haru, girang, semuanya bercampur menjadi satu. Semua itu benar-benar membuat Kara ingin berteriak sekencang-kencangnya. Karena tak mungkin terus berlama-lama di hadapan Zio dengan tampang bodohnya, Kara pun memutuskan untuk pamit. "Yaudah deh, Kak. Aku ke kelas dulu, ya." "Oh, iya, oke." Zio manggut-manggut, masih dengan senyum manis yang tercetak sempurna dibibirnya. Sepersekian detik berikutnya, pandangan Zio tiba-tiba beralih pada Aldan yang merapat ke dinding. Dahi cowok itu refleks berkerut samar begitu melihat Aldan berusaha membuang muka. "Loh? Aldan?" Mendengar nama Aldan disebut, Kara kontan meringis kecil. Ia baru ingat kalau tadi ia datang ke kelas Zio bersama cowok itu. Baru saja Kara akan angkat suara untuk memperkenalkan Aldan pada Zio, tanpa disangka-sangka Zio malah menyapa Aldan lebih dulu. "Apa kabar, Dan? Gue kira siapa," kata Zio akrab. Kara tampak terkejut mendengar sapaan santai yang dilontarkan Zio barusan. Kak Zio kenal Aldan? Batin Kara setengah kaget. Cewek itu menoleh cepat lalu memberikan tatapan bertanyanya pada Aldan. Namun, bukannya memberikan penjelasan pada Kara ataupun membalas sapaan Zio, Aldan justru mendengus sambil melirik sekilas jam tangannya. "Delapan menit," ujar Aldan singkat, berusaha mengingatkan Kara bahwa waktunya telah habis. Kara tak menjawab. Cewek itu masih terpaku di tempat, menatap bingung ke arah Aldan dan Zio bergantian. Aldan sempat bersitatap dengan Zio selama beberapa saat sebelum akhirnya berlalu tanpa mengucapkan sepatah katapun. Kara jelas sadar, ada sesuatu yang aneh dari bola mata hitam Aldan sewaktu menatap Zio. Bahkan, sewaktu Zio menyapanya pun, sikap Aldan mendadak berubah 180 derajat. "Kakak... kenal Aldan?" tanya Kara, beberapa detik setelah kepergian Aldan. Zio mengangguk sambil tersenyum kecil. "Gue pernah beberapa kali nongkrong bareng Aldan sama Redy waktu SMP." Kara menatap Zio tak percaya. "Jadi kalian berdua itu deket? Dan Aldan kenal kakak itu bukan cuma sekedar denger dari ceritanya Redy doang?" Dengan tampang sedikit bingung, Zio pun mengangguk.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN