Kaila bersama teman-temannya berjalan menapaki lantai koridor kelas dua belas sambil sibuk mengobrol. Mereka semua heboh membicarakan gosip pada salah satu tayangan infotainment di televisi.
"Ck, apa dia enggak punya kerjaan lain selain ngedate bareng cowok cakep?"
"Liat aja, kalau sampai gue denger konfirmasi dari skandal mereka... bener-bener bakalan gue spam instagramnya!"
"She's disgusting! Dari dulu gue tau kalau dia b***h, tapi gue enggak nyangka kalau dia separah itu."
Kaila menghela napas jengah mendengar semua umpatan dan makian teman-temannya. Masalahnya, sejak bel masuk sampai bel pulang sekolah dibunyikan, mereka terus saja berkicau soal skandal antar selebritis yang baru-baru ini diberitakan di televisi.
Melihat wajah bosan yang dipasang Kaila, Aretha buru-buru mengalihkan pembicaraan. "Oya, Kai, lo ikut nonton bareng kita 'kan?"
Kaila tersenyum tak enak. "Gue enggak bisa. Sori, ya."
"Kenapa? Udah ada janji? Sama siapa?" Teman-teman Kaila mulai menyenggol-nyenggol bahu Kaila menggoda.
Kaila terkekeh. "Iya, gue janji sama orang bakalan traktir dia nonton hari ini."
"Pasti Redy," celetuk Gita tiba-tiba.
"Cieeeee!"
Kontan teman-teman Kaila yang lain berseru kompak, membuat ujung-ujung bibir Kaila refleks tertarik ke atas.
"Apaan sih? Gue 'kan cuma mau traktir dia sebagai ucapan terimakasih. Kalau bukan karena Redy, gue enggak tau nasib matematika gue gimana."
Aretha terkikik lalu menepuk bahu Kaila. "Iya, iya, terserah deh. Mau traktir atau ngedate pun enggak masalah. Yaudah, temuin Redy sana. Kita duluan, ya. Baik-baik bareng Redy!"
Gita dan Aretha langsung menyeret anak-anak lain untuk pergi, meninggalkan Kaila dengan senyum bodoh di wajahnya. Sejurus kemudian, dengan wajah berseri-seri, Kaila melangkahkan kakinya menuju kelas Redy.
Entah kenapa, Kaila merasa senang dan semangat saat ini. Apa karena efek ia akan jalan berdua dengan Redy? Padahal, kalau dilihat-lihat, dulu juga Kaila terlampau sering jalan berdua dengan Redy. Tapi kenapa kali ini rasanya berbeda?
Belum sampai sepuluh langkah, Kaila tiba-tiba menghentikan langkahnya. Ia baru teringat akan sesuatu.
"Besok gue traktir nonton, mau? Yah, itung-itung sebagai ucapan terimakasih karena lo udah ngajarin gue matematika."
"Oh, boleh-boleh. Jam berapa?"
"Pulang sekolah, gimana? Kita berangkat bareng."
"Pulang sekolah gue ada rapat fotografi. Kalau mau, lo pergi duluan aja, entar setelah rapat gue nyusul."
Mengingat hal barusan, Kaila refleks meringis lalu menepuk jidatnya. Kenapa dia bisa lupa? Tanpa berpikir dua kali, cewek itu langsung berbalik dan berjalan menuju parkiran.
• • •
Tok Tok Tok
"Kara?"
Redy mengetuk pintu kamar Kara tiga kali namun tak ada sahutan dari dalam. Dengan wajah kusut, Redy menoleh ke arah Si Bibi lalu menggeleng.
Mendapat isyarat gelengan kepala dari Redy, Si Bibi kontan meringis lalu kembali ke dapur. "Aduh, Den, Non Kara belum makan dari pagi. Sekarang aja udah lewat jam makan siang. Bibi takut dia kenapa-kenapa," ucap Si Bibi samar-samar dari dapur.
Redy mengembuskan napas kecil lalu melirik jam dinding sekilas. Pukul 2:45. Dengan sabar, cowok itu kembali mengayunkan tangannya untuk mengetuk pintu kamar Kara.
"Kara, buka pintunya dong? Kita makan dulu," bujuk Redy lembut.
Sayangnya, Kara tetap bergeming dan tak membukakan pintu. Redy mulai gerah. Cowok itu mendecak lalu memejamkan matanya satu detik, mencoba untuk sabar menghadapi sifat kekanak-kanakan Kara.
Redy paham, mungkin saat ini Kara sedang ingin sendiri karena kejadian tadi malam. Papa Kara terus menyeret Kara untuk pulang. Namun dengan sisa tenaga yang ada, Kara terus meronta dan berontak, mencoba melepaskan diri dari cekalan tangan Papanya.
Sampai akhirnya, ketika Kara mendapatkan peluang untuk kabur, Kara buru-buru berlari ke kamarnya dan mengunci diri disana. Alhasil, Redy dan Si Bibi lah yang harus membereskan Papa Kara. Mereka berdua berusaha keras membujuk Papa Kara untuk pulang dan datang lagi nanti.
Tapi masalahnya adalah, sampai sekarang Kara masih belum mau membukakan pintu, tak peduli sudah berapa kali Redy mengetuk pintu bercat cokelat itu sejak tadi pagi. Oleh sebab itu, Redy pun terpaksa bolos sekolah karena khawatir pada keadaan Kara.
"Apa susahnya buat buka pintu sih," gerutu Redy sambil merogoh ponsel dalam saku celana. Cowok itu melihat notif pesan tertera disana dan segera membukanya.
Kaila Rishane: Rapatnya udah selesai belum?
Dahi Redy refleks berkerut samar membaca pesan Kaila barusan. Rapat? Kenapa Kaila tiba-tiba membahas masalah rapat?
Baru saja Redy akan mengetik pesan balasan untuk Kaila, sesuatu seperti tiba-tiba mem-bel pikiran cowok itu. Anjrit! Janji gue bareng Kaila!
Panik, Redy pun buru-buru mendial nomor Kaila lalu menelponnya. Cowok itu berjalan mondar-mandir di depan kamar Kara sambil terus mengumpat, merutuki diri karena lupa dengan janjinya sendiri.
"Halo? Kaila?" Redy membuka suara lebih dulu setelah panggilannya terhubung dengan Kaila.
"Ya?"
"Umm, Kai..." Redy menggigit bibir bawahnya sambil meringis. "Mendadak gue gak bisa. Nontonnya lain waktu deh."
Terdengar hening cukup lama sebelum akhirnya Kaila menjawab. "Kenapa?"
"Gue harus nemenin Kara, jadi enggak bisa keluar. Hari ini aja gue terpaksa bolos," jawab Redy.
"Oh." Kaila bergumam. "Okay."
Redy meringis serba salah. "Sori, ya? Lain waktu deh kita nontonnya. Gue yang traktir."
Kaila tertawa kecil. "Enggak apa-apa. Santai aja. Anyway, Kara kenapa?"
"Dia lagi ada masalah, jadi dia butuh gue buat nemenin dia," kata Redy pede.
"Oh. Semoga masalahnya cepet selesai, ya."
"Thanks, Kai." Redy refleks tersenyum tulus. "Lo dimana? Enggak lagi nungguin gue rapat 'kan?" canda Redy kemudian.
Terdengar suara Kaila ikut tertawa disebrang sana. "Di jalan mau pulang..."
"Eh? Tumben langsung pulang. Enggak--"
Kata-kata Redy langsung terputus seketika sewaktu mendengar suara derit pintu terbuka. Cowok itu menoleh lalu menemukan Kara tengah berdiri di ambang pintu kamar, lengkap dengan rambut diikat acak-acakan dan kacamata hitam bertengger di hidungnya.
Sadar bahwa Redy sedang berdiri dengan tatapan tak biasa, Kara kontan cengengesan lalu mengusap perutnya.
"Laper."
• • •
"Oh. Semoga masalahnya cepet selesai, ya."
"Thanks, Kai," ucap Redy. "Lo dimana? Enggak lagi nungguin gue rapat 'kan?"
Kaila memaksakan tawanya. "Di jalan mau pulang..."
"Eh? Tumben langsung pulang. Enggak--"
Mendengar suara Redy terputus disebrang sana, Kaila langsung bersuara. "Kenapa, Re?"
"Oh, enggak. Biasanya lo jalan dulu bareng anak-anak sebelum pulang," kata Redy kemudian.
Kaila cuma balas terkekeh tanpa menjawab lebih lanjut ucapan Redy barusan.
"Yaudah, hati-hati di jalan, ya. Sekali lagi sori gue mendadak batalin acaranya."
"Enggak apa-apa."
"Gue tutup, ya?"
"Hmm."
Sambungan telepon telah terputus. Bersamaan dengan itu, perasaan Kaila mendadak terasa hampa.
Ia masih bergeming di tempat dengan posisi menghadap ke antrian orang-orang yang membeli tiket. Tangan kanannya yang memegang ponsel, masih ditempelkan di telinganya sementara tangan kirinya perlahan terkepal, membuat dua buah tiket di tangannya berubah menjadi sebuah remasan kertas.
Dengan gerakan cepat, Kaila membuang tiketnya ke tempat sampah lalu bergegas pergi meninggalkan teater.
• • •
Redy memerhatikan lekat cewek yang duduk di hadapannya. Dengan kacamata hitam dan rambut acak-acakan, Kara menyuapkan makanannya ke dalam mulut. Sesekali ia melirik Redy yang dari tadi terus memandanginya.
"Jangan liatin gue," ucap Kara ketus tanpa menatap Redy. Cewek itu sibuk mengaduk-ngaduk makanannya.
Tanpa menghiraukan ucapan Kara barusan, Redy malah semakin menatap Kara intens. "Kenapa?" tanyanya sok polos.
"Gue enggak suka kalau lagi makan diliatin," gerutu Kara, mendongak dan melihat Redy sekilas.
Redy tersenyum kecil. "Enggak suka diliatin atau nervous diliatin?"
Tangan Kara yang hendak menyuapkan makanannya ke dalam mulut mendadak terhenti. Cewek itu memberikan tatapan membunuhnya pada Redy. "Dua-duanya!" kata Kara jutek lalu melanjutkan makannya.
Redy terkekeh singkat tanpa membalas perkataan Kara lebih lanjut. Ia kembali memerhatikan Kara, namun tiba-tiba saja kerutan samar tampak pada dahi cowok itu. "Kenapa lo pake kacamata item?" tanyanya bingung.
"Style," jawab Kara cuek.
Redy memutar bola matanya. "Style lo jelek banget."
"Lo-nya aja yang enggak tau style," balas Kara.
"Lepas kacamatanya. Kayak tukang urut." Redy mendengus lalu mengulurkan tangannya untuk mengambil kacamata Kara, namun cewek itu buru-buru menghindar dengan cepat.
"Jangan!" pekik Kara keras. Ia memegangi kacamatanya ketakutan. "Jangan dibuka!"
Redy memberengut bingung lalu menarik kembali tangannya. "Kenapa?"
"Gue lagi jelek," ucap Kara memelas.
Redy mendecak lalu mengulurkan tangannya lagi. "Biasa juga lo jelek," katanya enteng.
"Gue malu..."
Mendengar suara lirih Kara barusan, Redy refleks menghentikan pergerakannya. Cowok itu menatap Kara dengan tatapan sulit di artikan.
"Gue malu kalau lo liat keadaan gue kayak begini," ujar Kara pelan. "Gue bener-bener malu..."
Redy mengembuskan napas kecil tanpa berkata apapun. Ia mengerti apa yang saat ini Kara rasakan. Kejadian tadi malam pasti cukup membuat cewek itu selalu terbayang-bayang.
"Kalau bukan karena laper, mungkin gue enggak akan keluar kamar hari ini," ucap Kara sambil tersenyum tipis. Sejurus kemudian, cewek itu kembali menunduk untuk makan.
Selama beberapa detik lamanya, ruang tamu hanya diisi dengan keheningan. Baik Kara ataupun Redy, keduanya sama-sama tak mengucapkan sepatah kata pun. Mereka berdua sibuk tenggelam dalam pikirannya masing-masing.
"Harusnya lo enggak usah liat kejadian tadi malem, itu 'kan privasi gue," kata Kara memecah keheningan. Cewek itu berusaha terlihat santai dikala dadanya kembali terasa sesak mengingat kejadian itu.
Karena Redy tak juga bersuara, Kara pun melanjutkan, "Kalau gue enggak pake kacamata ini, gue yakin lo pasti bakalan ngetawain gue."
Kedua alis Redy bertaut menjadi satu. Paham apa yang Redy suarakan lewat ekspresi barusan, Kara refleks tercengir lebar.
"Mata gue bengkak," ucap Kara lalu terkekeh.
Redy nampak sedikit terkejut, namun dengan cepat menormalkan wajahnya. Setelah berdeham beberapa kali, Redy akhirnya bicara. "Ada tempat yang pengen lo kunjungin?" tanyanya mengalihkan pembicaraan.
Kara meneguk air minumnya sebentar lalu berpikir. "Pantai?" cetus Kara kemudian. "Udah lama gue enggak ke sana. Terakhir kali gue ke pantai itu... sekitar tujuh tahun yang lalu. Pas gue kelas dua. Gue ke sana bareng nyokap plus bokap."
Redy tersenyum. "Yaudah, entar kita ke sana. Itung-itung refreshing."
Kara sempat tersenyum lebar sebelum akhirnya mencebikkan bibir. "Enggak bisa. Lo tau 'kan kalau tabungan gue itu terbatas untuk hal-hal penting," kata Kara muram. "Gue belum bayar kost-an dan iuran sekolah. Dua bulan pula; bulan kemarin sama bulan ini. Gimana mau ke pantai? Apalagi di pantai banyak benda yang kepengen gue beli," sambungnya sedih.
Redy meringis kecil. "Masalah bayar kost-an, lo enggak perlu bayar. Nyokap gue udah bayar semuanya kok."
Kara menoleh kaget. "Serius?"
Redy tersenyum lalu mengangguk. "Karena lo ada disini, harusnya kita patungan buat bayar kost-an. Tapi 'kan nyokap gue enggak tau kalau lo ada disini. Jadi, ya... dia bayar full."
Mendengar penjelasan Redy barusan, Kara kontan menatap Redy dengan mata berbinar. "Makasih banyak, Sepupu Aldan! Lo baik banget! Kalau bukan karena lo, mungkin saldo tabungan gue bakalan turun drastis, hiks." Kara pura-pura menyusut ingusnya mendramatisir. "Gue janji bakalan gantiin uang nyokap lo, kok! Tenang aja!"
Redy cuma balas terkekeh melihat tingkah berlebihan cewek di hadapannya. Tiba-tiba saja, mata cowok itu tertuju pada sebuah ponsel yang tergeletak di sebelah piring Kara. Tanpa sungkan, Redy langsung mengambil ponsel itu dan mengamati sekilas casing berwarna biru mudanya.
"Ini HP lo?" tanya Redy. Tangannya bergerak untuk mengotak-atik ponsel Kara.
Kara mengangguk singkat. "Jangan bajak atau buka yang macem-macem," ancam Kara lalu menyuapkan kembali makanannya ke dalam mulut.
Selama lima menit penuh, Redy asik melihat gallery ponsel Kara sambil terus mendengarkan cewek itu mengoceh, bercerita tentang kegiatannya sehari-hari. Sampai tiba-tiba saja, sebuah pop up pesan muncul di layar ponsel Kara. Mata Redy sukses terbelalak begitu melihat siapa pengirim pesan tersebut. Ezio Giovan.
Berhubung profile ponsel Kara saat itu adalah silent, Kara jadi tidak tahu bahwa ada pesan baru masuk ke ponselnya. Redy langsung memanfaatkan kesempatan itu untuk membuka pesan tersebut tanpa sepengetahuan si empunya ponsel terlebih dahulu. HP cewek gue ini, pikirnya enteng.
Ezio Giovan: Tadi kenapa enggak masuk sekolah, Kar?
Redy mendengus. Kepo amat, batin Redy setengah kesal. Sejurus kemudian, cowok itu mengetikkan balasan untuk Zio.
Karina Orine: Kepo
Karina Orine: Gara-gara lo gue gak masuk
Tidak sampai satu menit, balasan dari Zio masuk ke ponsel Kara.
Ezio Giovan: Gara-gara gue? Karena kemarin pulang kemaleman, bukan?
"Pake nanya lagi," gumam Redy, cukup keras untuk di dengar oleh Kara.
"Ish! Gue enggak nanya, gue lagi cerita!" seru Kara galak, mengira kalau gumaman barusan adalah respon Redy terhadap ocehannya.
"Eh? Apa?" Redy mengalihkan pandangannya dari ponsel lalu menatap Kara. "Iya-iya, ini gue dengerin ceritanya."
Kara mencibir. Setelah itu, ia kembali melanjutkan ceritanya sementara Redy sibuk membalas pesan dari Zio. Cowok itu sama sekali tak mendengarkan cerita Kara karena terlalu fokus dengan ponsel di tangannya.
Karina Orine: Iya, gue jadi sakit
Ezio Giovan: Sakit apa?
Membaca pesan barusan, Redy kontan tertawa sinis sambil geleng-geleng kepala. Banyak tanya amat sih, batinnya jengkel. Dengan emosi yang menggebu-gebu, Redy pun mengetik balasan untuk Zio.
Karina Orine: Flu babi!
Karina Orine: Jangan deket-deket gue
Karina Orine: Sakit gue makin parah
Karina Orine: Lo mau gue mati?
Setelah memencet tombol send, Redy langsung terkikik sendiri, puas dengan pesan balasan yang telah ia kirim. Kalau sudah begini, maka Zio pun tidak akan berani lagi mendekati Kara, begitu pikirnya.
Melihat Redy sibuk tertawa sendiri, Kara kontan memberengut bingung. Mendadak perasaannya jadi tak enak. Ia yakin kalau Redy sudah berbuat yang aneh-aneh.
"Lo ngapain HP gue?" todong Kara curiga.
Redy menghentikan tawanya dan gelagapan. "Gue gak ngapa-ngapain."
"Emang gue percaya?" kata Kara galak. Cewek itu mengulurkan tangannya sambil sedikit bergerutu. "Sini HP gue."
"Enggak." Redy menggeleng dan menyembunyikan benda berbentuk kotak itu ke belakang punggungnya.
Kara mendesis lalu bangkit dari duduknya. Ia menghampiri Redy, masih dengan tangan yang terulur dan gaya mengintimidasi. Mirip seperti preman yang melakukan pemalakan. "Sini HPnya," ulang Kara penuh penekanan.
Karena Redy tak kunjung menyerahkan ponsel tersebut, mau tak mau Kara pun langsung menerjang ke arah Redy. Cewek itu menarik paksa ponselnya dari tangan Redy, namun tenaga cowok itu jauh lebih kuat dari dugaan Kara. Alhasil, kini keduanya sedang bergulat di sofa ruang tamu, sibuk memperebutkan sebuah ponsel.
Berbagai serangan seperti cubitan, pukulan, jambakan, sampai kelitikan telah Kara lancarkan pada Redy. Namun sayangnya, cowok itu tetap bisa bertahan tanpa menyerah sedikitpun. Bahkan, keadaan Kara saat ini benar-benar berantakan. Ikat rambutnya terlepas, membuat rambut Kara terlihat semakin acak-acakan. Selain itu, kacamata hitam yang tadi bertengger manis di hidung Kara pun kini jatuh entah kemana.
Setelah sekian menit menghabiskan waktu untuk memperebutkan sebuah benda berbentuk kotak tersebut, akhirnya Kara bisa mendapatkan ponselnya kembali. Redy menyerah karena posisinya yang kini tak berdaya. Telungkup di sofa dengan Kara yang duduk di atas punggungnya.
Awalnya, Redy pikir Kara bakalan menyerah hanya dalam waktu beberapa detik. Tapi ternyata ia salah. Karena nyatanya, justru ia lah yang pertama kali menyerah. Dan Redy benar-benar merasa malu saat ini.
Setelah mendapatkan kembali ponselnya, Kara buru-buru membuka aplikasi terakhir yang dijalankan. Mulut Kara sukses menganga lebar begitu melihat sederet pesan yang Redy kirim untuk Zio. Terlebih lagi karena Zio tidak membalasnya dan hanya membaca pesan terakhir yang Redy kirimkan.
"HUEEE! Gue 'kan udah bilang jangan bajak! Kenapa lo pake bilang gue flu babi segala?! ARGHH--"
Brakkk!
Pintu depan mendadak terbuka, membuat Kara dan Redy serentak menoleh ke sumber suara. Disana, di ambang pintu, berdiri Aldan dengan baju seragam berantakan dan wajah terkejut.