Chapter 17

1669 Kata
Redy terus saja mondar-mandir di dalam rumahnya. Ia uring-uringan sendiri menunggu kepulangan Kara. Masalahnya, jam telah menunjukkan pukul 9 tepat namun Kara tak kunjung datang. Padahal, cowok itu telah berkali-kali mengirimi Kara pesan. Tapi sayangnya, Kara sama sekali tak menghiraukan pesan-pesan tersebut. Dengan kesal, Redy mengeluarkan ponselnya dari saku celana. Tak ada notification yang masuk. Sambil bersungut-sungut, Redy kembali mengetik pesan untuk Kara. Rediffa R. : Gue sekarat, Kar! Lo harus cepet balik! Setelah menekan tombol kirim, Redy kembali memasukan ponselnya ke dalam saku celana lalu mengembuskan napas panjang. Semoga aja Kara bakalan langsung pulang setelah membaca pesan barusan. Bermenit-menit lamanya Redy habiskan dengan menonton TV sambil memakan snack yang tersedia di dalam kulkas. Setiap sepuluh menit sekali, cowok itu menyempatkan diri untuk melirik ke arah pintu dengan gusar. Dora kemana sih? Batin Redy setengah jengkel. Seolah Tuhan mengerti kekhawatirannya, tiba-tiba saja terdengar suara ketukan pintu. Dengan cepat, Redy melesat pergi ke ruang tamu lalu membuka pintu dengan tak sabar. Kalau ternyata yang ada dibalik pintu itu adalah Kara, mungkin Redy bakalan menceramahi cewek itu habis-habisan. Tapi ternyata, yang ada dihadapannya kini adalah seorang pria paruh baya berpakaian formal dengan kantung mata besar di kelopak matanya. Redy bisa langsung menyimpulkan kalau pria itu habis pulang dari kantor. "Apa saya bisa bertemu Kara?" tanya pria paruh baya itu dengan suara berat. Redy memiringkan kepalanya sambil sedikit mengernyit. "Bapak siapa?" "Saya Papanya Kara," jawab pria itu sambil terkekeh kecil. "Saya tahu alamat ini dari Ibu temannya Kara-Aldan. Dia bilang, saat ini Kara mengekos di rumah sepupu Aldan." "Oh." Redy manggut-manggut mengerti. "Iya, saya sepupunya Aldan, Om. Karanya lagi keluar. Masuk aja, Om, duduk di dalam sambil nunggu Kara," kata Redy sopan sembari membuka pintu lebar-lebar. Namun, bukannya masuk, Papa Kara justru bergeming dengan rahang mengeras. Tubuhnya tiba-tiba menegang. Ia menatap Redy tak percaya. "Jadi sepupunya Aldan itu laki-laki? Bukan perempuan?" Mampus, salah paham nih, rutuk Redy dalam hati. Cowok itu mengusap tengkuknya canggung sambil memaksakan senyum. "Iya, Om. Saya cowok, bukan cewek. Tapi, saya sama Kar-" "Pergi kemana Kara?" potong Papa Kara cepat tanpa membiarkan Redy menyelesaikan kalimatnya lebih dulu. Redy sempat gelagapan sebelum akhirnya menjawab, "Ke toko buku, Om." "Malam-malam begini?" Redy menelan ludah keringnya lalu mengangguk. Sadar bahwa wajah Papa Kara terlihat semakin kaku, Redy buru-buru menambahkan. "Tadi... Kara lagi ngerjain tugas sekolahnya, Om. Dan tiba-tiba aja... Kara butuh buku referensi tambahan buat tugasnya itu. Jadi dia mendadak banget ke toko bukunya," dusta Redy. "Dia kesana sendirian?" tanya Papa Kara menyelidik. Glek. Redy kembali menelan ludahnya. Ia memutar otak untuk mencari kebohongan yang tepat yang bisa ia berikan pada Papa Kara agar pria itu tidak terlalu marah pada Kara. Redy sangat yakin, Kara akan mendapatkan masalah besar kalau sampai Papanya tahu ia pergi malam-malam bersama cowok. "Kara pergi bareng temannya, Om. Kebetulan juga temannya itu lagi butuh buku tambahan," dusta Redy lagi, sengaja tak menyebutkan bahwa teman yang ia maksud adalah cowok agar Papa Kara tak terpancing emosi karenanya. Tanpa memberikan respon yang berarti, Papa Kara menatap Redy dengan wajah datar. "Ya sudah, saya akan menunggu Kara di dalam." Mengerti apa maksud Papa Kara, Redy segera mempersilakan pria paruh baya itu masuk dan duduk di sofa. Setelah berbasa-basi sebentar, Redy pun memutuskan untuk pergi ke dapur mengambilkan minum. Ia terus mengumpat dalam hati, merutuki Kara yang sampai sekarang belum juga pulang. Anjrit, itu cewek kemana sih? Tanpa sepengetahuan Redy, Kara sudah sampai di rumah dan sedang melepas sepatunya. Kerutan-kerutan samar mulai tampak pada dahi Kara begitu ia mendapati pintu depan terbuka lebar. Dengan santai, cewek itu melangkah masuk ke dalam. Namun tiba-tiba saja, tatapan dingin dan tajam yang dilemparkan oleh seorang pria paruh baya di ruang tamu membuat genggaman Kara pada kantung belanjanya melonggar dan akhirnya terlepas. Kantung belanja tersebut jatuh ke lantai, menyebabkan beberapa buku berserakan disana. "Papa..." Kara nyaris berbisik lirih. Ia memandangi Papanya tak percaya. Kenapa Papa ada disini?! Jerit Kara tertahan. Melihat anak perempuannya itu muncul, Papa Kara langsung bangkit dari sofa dan menatap Kara marah. "Darimana kamu?" tanyanya dalam dan menuntut. Alih-alih menjawab, Kara malah balas menatap Papanya menantang. Walau kini jantungnya tengah berdebar cepat dan tubuhnya sudah berkeringat dingin, Kara tidak akan menunjukan rasa takutnya itu di depan Papa. Kara cuma ingin Papanya tahu bahwa ia telah cukup dewasa untuk tidak diatur-atur dan bisa memilih jalannya sendiri. Cuma itu. Tapi, kenapa rasanya sangat sulit? Kenapa Papanya itu enggak pernah bisa mengerti? "Jawab Papa, Kara!" bentak Papa Kara dengan suara tinggi. Ia mulai emosi begitu melihat anak perempuannya hanya bergeming dengan wajah datar. "Kamu darimana?!" "Ngapain Papa kesini?" Kara malah balik bertanya dengan tenang. "Aku gak pernah minta Papa buat datang kesini. Kenapa Papa ada disini?" Seolah tak menghiraukan ucapan putrinya barusan, Papa Kara berseru, "Kamu tahu sekarang jam berapa? Sudah berapa kali Papa bilang, jangan pernah keluyuran malam-malam!" Kara memberengut. "Ini 'kan bukan rumah Papa. Aku gak perlu nurutin apa yang Papa bilang." "Kamu!" Napas Papa Kara mulai menderu. Pria itu menunjuk Kara tepat di wajah. "Pergi dari rumah bukannya introspeksi, malah semakin kurang ajar!" Kara sebisa mungkin menahan kakinya yang mulai bergetar. Ia terus meyakinkan diri bahwa ia bisa dan cukup kuat untuk menghadapi Papanya sendiri. "Pa, aku cuma peng--" "Sia-sia selama ini saya membesarkan kamu! Kamu pikir untuk apa saya repot-repot menyekolahkan kamu? Untuk mendapatkan anak dengan sikap semrawut? Bikin malu saja!" Tanpa sadar, selain Kara dan Papanya yang ada di ruang tamu, ada satu orang lagi yang saat ini sedang berdiri tak jauh dari mereka berdua. Redy terus memerhatikan Kara dan Papanya secara bergantian. Ia mematung dengan pikiran kosong. Redy bingung harus melakukan apa selain memerhatikan keduanya dengan wajah bodoh. "Melawan orangtua, tidak pernah bisa diatur, selalu keluyuran malam-malam, memberontak... Apa itu yang selama ini kamu pelajari di sekolah?!" Mata Kara sukses terasa panas mendengarnya dan perlahan mulai mengabur. Cewek itu menggigit bibir bawahnya kuat-kuat seiring dengan rasa nyeri dan sesak mulai menggerogoti dadanya. Dalam hati, Kara terus merapalkan kalimat bahwa semuanya akan baik-baik saja. Lebih tepatnya, bahwa ia akan baik-baik saja. "Ya! Itu yang selama ini Kara dapet dari sekolah! Kalau tau bakalan begini akhirnya, Papa mending gak usah sekolahin aku! Papa gak perlu repot-repot bayar uang sekolah dan gak perlu repot-repot ngurusin semua perlengkapan aku! Aku cuma anak yang bisanya nyusahin dan bikin malu orangtua! Lebih baik aku juga gak usah lahir, kan, Pa?!" Kara kehilangan kontrol atas dirinya. Cewek itu menangis kencang sambil berteriak-teriak dengan suara parau. Seluruh tubuhnya bergetar hebat. Wajah dan kedua matanya pun memerah. Saat ini, perasaan Kara benar-benar hancur. Hatinya terasa perih mendengar kalau ternyata dirinya seburuk itu di mata Papanya sendiri. Mungkin, secuil kebaikan yang pernah dilakukan Kara tidak berarti apa-apa bagi Papanya. Semuanya terlalu gelap dan tertutupi oleh semua keburukan. Dan pada akhirnya, semua pengorbanan Kara untuk Papanya selama ini hanyalah sia-sia. Sama sia-sianya seperti usaha Papa Kara untuk membesarkan Kara. Mengingat itu semua, tangis Kara malah semakin pecah. Berbagai hal telah Kara lakukan demi mendapat nilai sempurna; begadang untuk mengerjakan soal, menghabiskan jam makan siang di perpus, izin ekskul untuk belajar kelompok, serta les dibanyak tempat sampai larut malam. Semua itu Kara lakukan semata-mata karena ia ingin Papanya senang. Ia ingat betul ucapan Papanya beberapa tahun lalu. "Kara harus sering belajar, supaya semua nilainya bagus dan bisa jadi anak pintar. Kalau Kara pintar, Kara bisa jadi dokter!" Sebisa mungkin, Kara terus mempertahankan nilai-nilainya agar tidak turun. Apalagi semenjak kematian Mama, Papa mulai berubah jadi murung. Dan karena hal itulah, Kara semakin giat belajar agar bisa menjadi dokter seperti apa yang Papanya bilang waktu itu. Walaupun menjadi dokter bukanlah impian Kara, tapi Kara rela kalau harus berprofesi itu kelak. Yang terpenting, Papanya bisa bahagia. Selain itu, demi membuat Papa kembali tersenyum, Kara juga keluar dari klub jurnalisnya atas permintaan Papa sendiri. Seolah belum cukup, Papa juga menyuruh Kara untuk berhenti menulis yang merupakan hobi Kara sejak kecil. Dan dengan berat hati, Kara pun mengiyakan perintah tersebut. Namun saat ini, semua pengorbanan Kara bagai tak tersisa di mata Papanya. Papa membuat seolah-olah Kara selalu memberontak dan tak pernah mendengarkan barang sedetikpun. Padahal, baru kali ini Kara bersikeras pada pilihannya sendiri--untuk tetap tinggal di klub basket, tak peduli sekeras apapun Papanya meminta Kara untuk keluar. Apa sama sekali nggak ada kesempatan untuk Kara memilih sendiri apa yang ia inginkan? "Kamu ini benar-benar keterlaluan, Kara!" Papa Kara membentak dengan suara tinggi, berhasil membuat Kara sedikit berjengit karena kaget. Kemudian, tatapan pria itu beralih pada Redy. "Dan sekarang, kamu tinggal berdua dengan laki-laki yang tidak ada hubungan kekeluargaannya denganmu?" tanya Papa Kara tak percaya, matanya menatap Kara murka. "Kamu itu tidak tahu malu atau apa?!" Wajah Redy memucat dan tubuhnya berubah jadi kaku. Redy seolah membeku di tempat begitu tatapan tajam dari Papa Kara menghujaninya. Ia ingin bilang bahwa yang ada dipikiran Papa Kara saat ini hanyalah salah paham namun lidahnya terasa kelu. "Apa peduli Papa kalau aku tinggal bareng cowok? Papa selalu ngelarang dan ngatur-ngatur aku tanpa bisa ngerti gimana perasaan aku! Papa enggak pernah peduli sama perasaan dan pilihan aku! Yang ada pikiran Papa cuma pekerjaan dan pekerjaan! Bahkan setelah Mama meninggal pun Papa enggak berubah!" Kara tertawa sumbang sebentar lalu melanjutkan, "Mungkin kalau disuruh memilih, Papa bakalan lebih milih pekerjaan ketimbang aku, 'kan? Hah! Mungkin aku memang bukan anak Papa..." PLAK! Mata Redy refleks membelalak besar begitu tangan Papa Kara sukses mendarat di pipi putrinya. Bisa ia lihat Kara tengah memegangi pipi kanannya dengan kaget. Perlahan, air mata mulai kembali menggenang di pelupuk mata Kara. Bibir cewek itu bergetar menahan isakan. Tanpa sadar, Redy langsung berlari menghampiri Kara lalu menyingkirkan tangan yang bertengger di pipi kanannya. Ia melihat jelas bekas kemerahan di pipi cewek itu. Tangan Redy tiba-tiba mengepal. Ia menatap mata Papa Kara tepat di manik. "Om! Kara itu anak Om! Om engak sepantasnya memukul Kara apalagi di depan orang lain! Itu sama aja kayak Om menyakiti fisik dan perasaan dia!" ujar Redy tak terima. Walaupun itu bukan urusannya, tapi Redy tak tega melihat Kara terus dimarahi dan dibentak oleh Papanya sendiri. Tanpa menggubris ucapan Redy barusan, Papa Kara tiba-tiba mencekal lengan Kara erat lalu menyeretnya keluar. "Pulang sekarang," tandasnya final.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN