Sudah seminggu lebih Kara terus mengamati setiap aktivitas kura-kuranya. Setiap pulang sekolah, dengan semangat empat lima ia selalu duduk di sofa ruang tamu dengan tangan bertopang dagu dan mata menatap lekat kotak transparan berisi Rady dan Dyra--kura-kura kesayangan Kara.
Seperti saat ini, dengan piyama bergambar Dora The Explorer seperti biasa, Kara sedang asik memandangi Rady dan Dyra yang sedang berhadap-hadapan. Sebenarnya, mereka itu enggak benar-benar berhadapan. Kara yang memindahkan Rady secara paksa ke hadapan Dyra.
Kara sudah bisa membedakan mana Rady dan mana Dyra. Selesai makan bubur waktu jogging kemarin, Kara dan Redy kembali mendatangi penjual kura-kura tersebut lalu menanyakan jenis kelaminnya.
"Mau sampai kapan lo ngeliatin itu kura-kura, Kar?" tanya Redy sambil melirik Kara sekilas. Cowok itu menghempaskan tubuhnya di sofa ruang TV dan sibuk dengan ponselnya.
"Sampai mereka berdua mau pacaran," jawab Kara.
Redy mendengus, masih tak mengalihkan pandangannya dari layar ponsel. "Sampai kepala lo botak juga mereka gak akan pacaran."
Kara memberengut lalu menatap Redy bingung. "Kenapa?"
Redy menaruh ponselnya dan menatap Kara. "Mereka malu kalau diliatin terus. Lo bayangin aja, lo lagi pedekate sama cowok, tapi diperhatiin orang-orang. Risih 'kan? Kalau gitu ya mana bisa mereka jadian."
"Mereka 'kan kura-kura, bukan manusia! Emangnya gue bego?" Kara melotot.
Redy mendecak. "Enggak percaya? Kura-kura juga punya perasaan, Kar, sama kayak manusia."
"Cuma orang yang punya IQ lebih rendah daripada belalang sembah yang bisa percaya begituan!"
"Jangan bawa-bawa belalang sembah!"
"Ribet banget sih yang takut serangga," cibir Kara.
Tanpa menggubris cibiran Kara barusan, Redy berkata, "Sini gue tunjukin."
Dengan gerakan cepat, Redy langsung bangkit lalu menarik lengan Kara ke sofa ruang TV. Cowok itu menyuruh Kara untuk duduk di sofa dengan kepala sedikit merunduk lalu memerhatikan secara lekat kura-kuranya yang ada di ruang tamu. Karena hanya ada sekat tipis dan pendek yang membatasi, Kara dan Redy bisa melihat dengan leluasa ke arah ruang tamu.
"Jangan kedip. Lo perhatiin mereka baik-baik," bisik Redy yang ikut merunduk di sebelah Kara.
"Oke, oke," balas Kara sambil mengangguk.
Mereka berdua pun sibuk mengamati kedua kura-kura itu dengan serius. Lima menit berlalu namun kura-kura tersebut masih bergeming, tak bergerak sedikitpun. Redy cengengesan lalu menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Kayaknya mereka tau kalau kita ngintipin dari sini. Mungkin kita perlu CCTV," kata Redy sambil terkekeh.
Kara hendak membuka mulut untuk bicara, namun suara dering ponsel membuat Kara mengurungkan niatnya. Cewek itu merogoh ponselnya dalam saku piyama dan melihat notif LINE tertera disana.
Ezio Giovan: Kara lagi sibuk, enggak? Mau ikut gue ke Gramed?
Kara menjerit kegirangan. Dengan wajah berseri-seri, cewek itu buru-buru membalas LINE dari Zio.
Karina Orine: Enggak kok, Kak. Boleh, boleh! Aku juga kebetulan mau beli buku
"Kenapa, sih?" tanya Redy penasaran. Ia bingung melihat Kara mendadak heboh sendiri.
"Kak Zio!" seru Kara senang sambil mengguncang bahu Redy. "Dia ngajak gue keluar!"
Redy sedikit terkejut namun buru-buru menormalkan wajahnya. "Malem-malem begini?"
Kara mengangguk cepat.
"Berdua?"
Kara mengangguk lagi.
Redy sempat membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu namun dengan cepat menutupnya kembali. "Kemana?" tanya Redy akhirnya.
Kara cengengesan sambil mengusap tengkuknya. "Ke toko buku sih..."
"Oh." Redy menjawab cuek lalu meraih ponselnya di atas meja. "Emang dia enggak bisa sendiri?" tanya Redy kemudian sambil melirik Kara dengan ekor matanya.
"Kalau bisa berdua kenapa harus sendiri?" Kara nyengir dengan kedua alis naik-turun. "Udah, ah, gue mau ganti baju," ucap Kara semangat sambil bangkit dari sofa dan berlari secepat kilat menuju kamarnya.
Setelah pintu kamar Kara tertutup rapat, Redy langsung berdiri dengan wajah panik. Cowok itu mondar-mandir di ruang TV sambil mengetuk-ngetukkan ponselnya ke dagu. Ia berpikir keras bagaimana caranya supaya Kara dan Zio enggak jadi pergi bareng. Pokoknya, rencana mereka harus batal!
"Cara elit buat nyegah mereka pergi... tapi apa?!" Redy menggeram frustasi. Ia mengacak-acak rambutnya, depresi sendiri.
Kriekkk
Pintu kamar Kara tiba-tiba berderit terbuka. Redy buru-buru mengenyakkan tubuhnya di sofa dan berpura-pura sibuk dengan ponselnya.
"Redy! Bagus, enggak?"
Mendengar seruan Kara barusan, Redy kontan menoleh. Mata cowok itu sukses terbelalak sempurna begitu melihat Kara dengan dress selutut bermotif floral dan rambut terurai panjang. Di depan gue biasa juga kayak anak enggak mandi satu tahun, giliran di depan Zio aja udah kayak model, gerutu Redy dalam hati.
Dengan kejamnya, Redy menggeleng. "Enggak."
"Apa?!" Kara melotot galak. Namun tiba-tiba saja, wajah cewek itu berubah jadi sedih. "Jangan terlalu to the point, dong. Enggak bisa basa-basi sedikit apa?"
Tanpa menghiraukan ucapan Kara barusan, Redy menunjuk kaki Kara dengan wajah serius. "Lo enggak tau betis lo itu gede? Harusnya lo pake celana panjang, bukan dress," ucap Redy sadis.
Wajah Kara terlihat semakin sedih. Cewek itu mengangkat kakinya lalu melihat ke bagian betis. "Jangan-jangan ini efek keseringan latihan basket..."
"Nah!" Redy menepuk tangannya keras. "Berhenti jadi anak basket, Kar!"
Kara menggeleng. "Entar gue gak bisa ketemu Kak Zio lagi."
Redy menggertakan gigi. Justru itu tujuan utamanya, batin Redy gemas. Sejurus kemudian, cowok itu menunjuk bagian rambut Kara.
"Rambut lo itu terlalu panjang. Gue khawatir Zio malah ketakutan liat lo malem-malem begini, jadi lebih baik rambut lo dikuncir kayak biasa."
Kara meraba-raba rambutnya bingung. "Rambut gue 'kan sebahu, enggak terlalu panjang. Lebih panjang juga rambut mantan lo."
Redy gelagapan sendiri. "Rambut Kaila itu warna merah sedangkan lo hitam! Mana ada setan rambutnya merah?"
Dengan wajah tertekuk dalam, Kara pun kembali ke kamar untuk merombak semua hasil dandanannya. Sementara itu diluar sana, Redy asik cekikikan sambil mengangkat kepalan tangannya tinggi-tinggi dan menyebut kata yes tanpa suara.
Seenggaknya, pemandangan yang lo liat harus sama kayak yang gue liat, Yo, batin Redy sambil tertawa setan.
Setelah bermenit-menit lamanya, akhirnya Kara keluar dari kamar dengan balutan celana jeans dan kaus England berwarna abu-abu. Cewek itu merapatkan cardigan putihnya sambil cemberut.
"Begini udah bagus?" tanya Kara.
Dengan senyum unjuk giginya, Redy mengangguk lalu mengacungkan dua jempol. "Keren," ujarnya santai.
Kara mendengus lalu berjalan menuju pintu depan. Rambut ponytail-nya bergerak mengikuti setiap gerakan langkah kaki Kara. Tangan Kara yang sempat terulur untuk menyentuh handel pintu tiba-tiba terhenti karena suara Redy.
"Lo pergi sekarang?" tanya Redy tiba-tiba.
Kara menoleh dan mengangguk malas-malasan. "Iyalah. Emangnya mau kapan?"
Redy mengernyit bingung. "Bukannya Zio mau kesini buat jemput lo?"
Kara memutar bola matanya. "Gue janjian sama Kak Zio di halte bus yang ada di depan. Dia bakalan jemput gue di sana. Lagian, kalau sampai Kak Zio tau gue satu rumah sama lo, dia pasti mikir yang enggak-enggak," jelas Kara.
Redy tertawa mengejek. "Katanya udah deket, tapi kok dia masih belum tau kalau lo ngekos disini?"
Kara mendesis. "Gue sama Kak Zio emang udah deket, tapi bukan berarti gue harus ngasih tau semua tentang gue ke dia 'kan?"
"Itu tandanya kalian berdua masih belum bener-bener deket." Redy menatap Kara meremehkan. "Udah, deh, mending lo nggak usah pergi. Ngapain juga jalan berdua malem-malem bareng orang yang belum deket sama lo?"
Mendengar ucapan Redy barusan, Kara jadi tersulut emosi. Cowok itu apa-apaan, sih? Kenapa mendadak jadi cerewet? Tiba-tiba saja Kara jadi bete sendiri. Dia baru ingat, sampai kapanpun kalau urusannya sama Redy emang pasti bakalan ribet!
"Suka-suka, dong! Mau gue pergi sama Kak Zio kek, sama Bapak-bapak, atau Om-om sekalipun, semuanya terserah gue!"
Melihat wajah sengak yang dipasang oleh Kara, Redy malah emosi sendiri. Ck, Kara itu emang bener-bener kepala batu!
"Yaudah! Kalau gitu, gue enggak akan tanggung jawab kalau lo kenapa-kenapa!"
"Ngapain juga lo tanggung jawab? Lo 'kan gak ngapa-ngapain gue!"
Redy refleks melotot dan mengacak rambutnya frustasi. Ini cewek ngeyel banget sih?! Batinnya geram. "Pokoknya jangan pergi!" tandas Redy.
"Kenapa? Gue aja enggak pernah ngelarang lo buat pergi bareng Kaila!"
"It--itu... itu 'kan..." Redy langsung tergagap. Matanya bergerak-gerak liar berusaha menemukan alasan yang tepat. Namun sayangnya, otaknya seolah tiba-tiba berhenti bekerja. Alih-alih menjawab, Redy malah bersedekap dengan wajah jutek. "Pokoknya jangan dulu pergi sebelum lo bikinin gue makan."
Kara semakin emosi. Cuma karena hal sepele seperti itu Redy nekat melarang Kara pergi? Bener-bener minta digorok!
"Lo 'kan bisa minta Si Bibi buat bikinin lo makanan. Kenapa harus--"
"Gue pengennya lo yang bikin," potong Redy cepat.
Kara menatap Redy sinis. "Waktu itu lo pernah bilang kalau lo nggak mau makan masakan gosong gue."
"Sekarang gue lagi pengen yang gosong-gosong," jawab Redy asal.
Kara sempat melotot galak sebelum akhirnya beranjak menuju dapur. Cewek itu melempar tas selempangnya kasar lalu memukul keramik wastafel. Kali ini, emosinya benar-benar tak dapat ditahan lagi. Redy keterlaluan!
"Dasar anak manja!" teriak Kara keras dari dapur.
Redy, yang saat itu tengah duduk di sofa ruang tamu dengan wajah serius, langsung mendongak dan menimpali cepat teriakan Kara barusan. "Ya, gue bangga jadi anak manja!" balasnya tak kalah kencang.
Sekarang, kembali ke awal. Redy masih memikirkan cara yang tepat, elit, efisien, dan ramah lingkungan yang dapat membatalkan acara Kara dengan Zio. Menyuruh cewek itu memasak cuma sekedar untuk mengulur waktu agar Redy bisa berpikir lebih lama lagi. Sialnya, sampai sekarang pun Redy masih belum mendapatkan ilham.
Tak beberapa lama kemudian, Kara datang dengan piring berisi telur mata sapi. Cewek itu menyodorkan piringnya kasar. "Nih, makan sama piring-piringnya supaya kenyang."
Redy melirik sekilas makanan di hadapannya. "Kok enggak gosong?"
"Apa?"
"Tadi 'kan gue minta yang gosong-gosong."
Kara nyaris saja melempar piring yang ada ditangannya ke muka Redy. Dengan jengkel, cewek itu kembali ke dapur untuk memasak makanan gosong yang diminta oleh Redy. Kalau bisa, gue masukin kecoak juga di makanan lo, Re! Batin Kara sebal.
Sementara Kara sibuk memasak, Redy justru sedang mencoba menyembunyikan kunci pintu rumah di tempat yang aman. Beberapa detik yang lalu, dia baru dapat ide untuk mengunci pintu rumah lalu menyembunyikan kunci itu di tempat yang tak bisa dijangkau oleh Kara.
Setelah beberapa lama menimang-nimang, Redy pun memutuskan untuk menyembunyikan kunci tersebut di dalam vas bunga.
Lima menit kemudian, Kara kembali datang. Kali ini, cewek itu membawa telur mata sapi gosong di piringnya. Setelah menyerahkan piring tersebut kepada Redy, Kara langsung bergegas menuju pintu depan lalu menarik handel pintu tak sabar. Duh, gue udah telat banget, batin Kara panik.
Tak peduli seberapa tergesanya Kara, pintu tetap bergeming dan tak terbuka. Kara memberengut bingung lalu menunduk. Ia tak menemukan kunci menggantung di sana. Kara refleks memejamkan matanya satu detik dan mengatur napas, kembali mencoba meredakan emosinya. Ini pasti ulah Redy!
"Dimana kuncinya?" todong Kara dengan tatapan membunuh.
Redy mengangkat bahunya. "Kok nanya gue?" katanya sok polos.
"Lo pasti ngumpetin kuncinya 'kan?!"
Redy memasang wajah terlukanya. "Kar, gue lagi kelaperan. Daritadi gue cuma duduk disini nungguin lo masak. Gue enggak punya cukup tenaga buat ngumpetin kunci."
Kara mendesis dan menatap Redy tajam. "Awas aja kalau ternyata beneran lo yang ngumpetin!"
"Iya, iya!" Redy mengibaskan tangannya cuek. "Mending lo ambilin gue minum. Gue lemes buat ngam--"
"YA!" Kara memotong cepat. Sambil bersungut-sungut, cewek itu kembali ke dapur untuk mengambilkan Redy minum. Setelah kepergian Kara, Redy kembali berteriak yes tanpa suara. Semua rencananya sukses dan berjalan lancar!
"Re, lo dipanggil Si Bibi, tuh," kata Kara setelah kembali dari dapur dengan gelas berisi air di tangannya.
Redy mengernyit bingung lalu menerima gelas tersebut. "Ngapain?"
"Enggak tau." Kara mengedikkan bahunya. "Samperin aja."
Redy bangkit dari sofa lalu pergi menghampiri Si Bibi.
"Kenapa, Bi?" tanya Redy setelah menemukan Si Bibi di tempat pencucian baju.
Si Bibi menoleh dengan wajah bingung. "Kenapa apanya, Den?"
"Bibi manggil Redy?"
Si Bibi menggeleng. "Enggak, kok, Den," katanya tambah bingung.
Redy mendengus keras. Ternyata ini cuma akal-akalan Kara. Dengan langkah malas, Redy kembali ke ruang tamu sambil bergerutu.
"Si Bibi enggak manggil gue, Kar. Lo ngerjain gu--"
Redy tak melanjutkan kata-katanya dan melongo di tempat. Kara tak ada di ruang tamu. Dan yang paling membuat Redy shock adalah jendela di sebelah pintu depan terbuka lebar, membuat tirai penutup jendela tersebut berkibar karena tertiup angin malam.
"Kampret, dia kabur lewat jendela."
• • •
"Makasih ya, Kak, traktirannya!" seru Kara senang.
"Iya, sama-sama. Gue duluan, ya?" kata Zio sambil melambai. Setelah mendapat anggukan dari Kara, Zio langsung menaikkan kaca jendela lalu kembali memacu mobilnya di jalanan beraspal.
Selepas kepergian Zio, Kara tak henti-hentinya tersenyum. Akhir-akhir ini, ia jadi sering menghabiskan waktunya untuk bersenang-senang bareng Zio. Walaupun itu cuma sekedar belajar basket bareng, pergi ke toko buku, ataupun makan di restoran fastfood, tapi Kara bahagia. Pokoknya, hal sekecil apapun kalau dilakukan bareng gebetan pasti bakalan bikin hati berbunga-bunga, iya 'kan?
Kara mengambil ponselnya di dalam tas lalu membuka kotak pesan. Ia mengamati satu per satu pesan dari Redy. Sepanjang Kara bersama Zio tadi, cowok itu tak henti-hentinya mengirimi Kara pesan. Risih, Kara pun memutuskan untuk mengubah profile ponselnya menjadi silent.
Rediffa R. : Kar, kenapa lo kabur gak bilang-bilang?!
Rediffa R. : Kar, disini mati lampu
Rediffa R. : Kar, gue laper. Bikinin gue masakan gosong lagi. Sumpah, rasanya enak!
Rediffa R. : Kar, kura-kuranya pacaran! Gue tadi liat mereka pegangan tangan terus ciuman!
Rediffa R. : Gue sekarat, Kar! Lo harus cepet balik!
Kara memutar bola matanya malas. Ia tahu betul kalau semua pesan Redy itu cuma bohongan. Pesan-pesan itu sengaja Redy kirim supaya Kara terkena perangkap dan cepat-cepat pulang ke rumah. Ck, lagipula, mana ada orang sekarat sempet-sempetnya ngirim pesan dulu? Batin Kara geli.
Dengan langkah ringan, Kara berjalan menuju kontrakan Redy alias tempat kosannya. Kara harus berjalan dulu sekitar tiga menit untuk sampai di rumah karena ia meminta Zio untuk menurunkannya di halte bus tempat mereka janjian tadi.
"Kok pintunya kebuka?" gumam Kara bingung ketika melihat pintu depan kontrakan Redy terbuka, membuat sebagian cahaya lampu dari dalam menyeruak keluar.
Tanpa ragu sedikitpun, Kara melepas sepatunya lalu melangkah masuk ke dalam. Kantung belanja berisi buku yang baru dibeli Kara tadi langsung terlepas begitu saja dari genggamannya dan jatuh ke lantai. Kara seolah membeku di tempat. Mata seseorang yang kini sedang duduk di sofa ruang tamu tengah menatap Kara dingin dan tajam.
"Papa..." lirih Kara tak percaya.